Menjelang fase krusial dalam pelaksanaan ibadah haji 2026, para pembimbing ibadah dan Musyrif Dini memberikan peringatan penting bagi jemaah asal Indonesia. Mereka diminta untuk fokus menjaga kondisi fisik serta tetap menjaga perilaku mulia selama berada di Tanah Suci.
Kesiapan stamina menjadi prioritas utama karena rangkaian puncak haji akan sangat menguras tenaga jemaah. Para petugas menghimbau agar jemaah tidak memaksakan diri melakukan ibadah sunnah secara berlebihan sebelum waktu wukuf tiba.
Pentingnya Menjaga Stamina Jelang Wukuf
KH Abdullah Kafabihi Machrus, yang bertindak sebagai Musyrif Dini sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, memberikan pesan mendalam. Beliau menegaskan bahwa inti dari seluruh rangkaian haji adalah pelaksanaan wukuf di Arafah.
Kiai Kafabihi mengingatkan para jemaah agar tidak menguras energi mereka secara sia-sia sebelum puncak ibadah dimulai. Hal ini penting agar kondisi fisik tetap prima saat menghadapi rukun-rukun haji yang paling menentukan.
Beliau juga menyoroti kebiasaan beberapa jemaah yang terlalu memaksakan ibadah sunnah, seperti melaksanakan umrah berkali-kali. Aktivitas fisik yang terlalu berat dikhawatirkan dapat menurunkan kebugaran jemaah saat fase Armuzna berlangsung.
Fokus pada ibadah wajib di Arafah, Muzdalifah, dan Mina merupakan prioritas yang tidak boleh diabaikan. Menjaga tubuh agar tetap sehat adalah bagian dari ikhtiar untuk menyempurnakan rukun haji yang sah.
Menjaga Adab dan Citra Indonesia
Selain masalah kesehatan fisik, Kiai Kafabihi memberikan penekanan khusus pada aspek akhlak dan tingkah laku. Jemaah haji Indonesia selama ini dikenal sebagai kelompok yang paling santun dan tertib di mata dunia internasional.
Beberapa pesan penting Kiai Kafabihi terkait perilaku jemaah di Tanah Suci antara lain:
- Menjaga tutur kata agar selalu sopan dan menyejukkan saat berinteraksi dengan sesama jemaah maupun penduduk lokal.
- Menghindari perilaku yang dapat mencoreng nama baik bangsa Indonesia selama berada di Arab Saudi.
- Memperbanyak doa kebaikan untuk keselamatan, keberkahan, dan kemakmuran negara serta pemimpin Indonesia.
- Mempraktikkan adab yang baik sebagai wujud dari kematangan spiritual seorang calon haji mabrur.
Beliau berharap keharuman nama Indonesia tetap terjaga melalui sikap ramah yang ditunjukkan oleh setiap jemaah. Doa yang tulus untuk keselamatan bangsa juga diharapkan menjadi bagian dari ibadah jemaah di tempat-tempat mustajab.
Himbauan Khusus untuk Jemaah Lansia
Sejalan dengan pesan tersebut, Musyrif Dini dari Kementerian Haji dan Umrah RI, KH Muhammad Cholil Nafis, memberikan arahan bagi jemaah lansia. Beliau menyarankan agar jemaah yang memiliki keterbatasan fisik tidak memaksakan diri pergi ke masjid.
Kiai Cholil menjelaskan bahwa jemaah yang sudah berniat baik namun terhalang oleh kondisi kesehatan tetap akan mendapatkan pahala. Uzur atau halangan karena alasan medis merupakan kondisi yang dimaklumi dalam ajaran agama.
Berikut adalah ringkasan rekomendasi bagi jemaah lansia dan risti selama masa tunggu puncak haji:
| Aspek Pertimbangan | Rekomendasi bagi Jemaah |
|---|---|
| Lokasi Ibadah | Lebih baik memperbanyak ibadah dan istirahat di hotel daripada berjalan jauh ke masjid. |
| Kesehatan Fisik | Mengutamakan pemulihan energi untuk menghadapi wukuf di Arafah dan mabit di Mina. |
| Faktor Cuaca | Mewaspadai kenaikan suhu udara di Arab Saudi yang mulai meningkat tajam. |
| Pahala Ibadah | Pahala shalat tetap mengalir bagi mereka yang memiliki niat tulus namun terhalang uzur. |
Penjelasan di atas bertujuan memberikan ketenangan batin bagi jemaah yang khawatir kehilangan pahala jika tidak shalat di masjid. Mengingat cuaca yang kian panas, beristirahat di hotel merupakan langkah medis sekaligus syar'i yang sangat dianjurkan.
Menghindari Mentalitas Aji Mumpung
Prof. Asrorun Ni’am Sholeh, Ketua Bidang Fatwa MUI yang juga bertugas sebagai Musyrif Dini, turut menyuarakan pendapatnya. Beliau meminta jemaah untuk menghilangkan pikiran "aji mumpung" selama berada di tanah suci sebelum puncak haji.
Seringkali jemaah merasa harus melakukan tawaf atau umrah sunnah berkali-kali karena merasa sudah berada di Makkah. Namun, tanpa perhitungan yang matang, aktivitas tersebut justru bisa menyebabkan kelelahan akut sebelum hari H.
Ni’am menyarankan agar jemaah melakukan aktivitas ibadah secara sewajarnya dan tidak melampaui batas kemampuan fisik. Beliau menekankan bahwa area pemondokan pun merupakan bagian dari tanah haram yang penuh kemuliaan.
Segala aktivitas ibadah yang dilakukan di pemondokan tetap bernilai pahala besar karena status kesucian wilayah tersebut. Jemaah diharapkan tidak merasa kurang afdal jika membatasi aktivitas fisik di luar ruangan demi menjaga stamina.
Persiapan menuju fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) membutuhkan ketahanan tubuh yang luar biasa besar. Fase ini melibatkan jalan kaki yang cukup jauh serta waktu mabit yang menuntut kesabaran serta kesehatan yang prima.
Para pembimbing berharap agar jemaah Indonesia mengikuti seluruh arahan petugas demi kelancaran prosesi ibadah. Dengan persiapan yang matang dan disiplin tinggi, diharapkan seluruh jemaah dapat meraih predikat haji yang mabrur dan kembali ke tanah air dengan selamat.