Pendapatan Tembus Rp12,84 Triliun, Siloam (SILO) Siap Ekspansi Lewat Akuisisi Baru

Pendapatan Tembus Rp12,84 Triliun, Siloam (SILO) Siap Ekspansi Lewat Akuisisi Baru
Foto: Ilustrasi Pendapatan Tembus Rp12,84 Triliun, Siloam (SILO) Siap Ekspansi Lewat Akuisisi Baru.
Ukuran teks

PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) secara resmi membuka peluang untuk melakukan ekspansi bisnis melalui skema akuisisi rumah sakit maupun klinik di masa mendatang. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya perusahaan untuk terus memperkuat posisinya di industri kesehatan tanah air.

Elbert Hartanto, perwakilan dari CEO Office Siloam, menyatakan bahwa perusahaan akan tetap fleksibel dalam mengelola belanja modal mereka. Siloam senantiasa terbuka untuk mengevaluasi setiap peluang akuisisi yang muncul jika dirasa sejalan dengan kebutuhan pasar saat ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Elbert dalam agenda paparan publik yang berlangsung pada Senin, 12 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa evaluasi mendalam akan dilakukan terhadap setiap calon mitra, baik rumah sakit maupun klinik, yang berpotensi diakuisisi.

Walaupun peluang ekspansi melalui akuisisi tetap terbuka lebar, Elbert menekankan bahwa fokus utama Siloam saat ini bukan sekadar menambah kuantitas fasilitas kesehatan. Prioritas perusahaan justru terletak pada penguatan aspek kualitas pelayanan medis di jaringan yang sudah ada.

Upaya peningkatan ini mencakup pengembangan keahlian dokter spesialis serta pemutakhiran teknologi kesehatan yang digunakan di seluruh cabang. Selain itu, manajemen juga berkomitmen memaksimalkan pendapatan rata-rata per tempat tidur terisi atau Average Revenue per Occupied Bed (ARPOB).

Sebagai informasi, kinerja ARPOB Siloam menunjukkan tren positif dengan mencapai angka Rp3,59 miliar sepanjang tahun 2025. Jumlah tersebut mengalami kenaikan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024 yang berada di angka Rp3,43 miliar.

Hingga saat ini, Siloam International Hospitals telah mengelola jaringan luas yang terdiri dari 41 rumah sakit di 23 provinsi berbeda. Total kapasitas yang dimiliki perseroan mencapai 4.310 tempat tidur yang tersebar dari wilayah barat hingga timur Indonesia.

Secara geografis, jaringan ini mencakup 15 unit rumah sakit di kawasan Jabodetabek serta 26 unit rumah sakit di luar wilayah tersebut. Lokasi operasionalnya menjangkau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga wilayah Ambon di Maluku.

Tak hanya rumah sakit, ekosistem layanan Siloam juga didukung oleh pengoperasian 75 unit klinik yang melayani berbagai kebutuhan medis masyarakat. Selama tahun 2025, tercatat jumlah kunjungan pasien rawat jalan di seluruh jaringan Siloam menembus angka 4,35 juta kunjungan.

Elbert mengungkapkan bahwa skala bisnis yang masif ini telah mengukuhkan posisi Siloam sebagai salah satu grup rumah sakit terbesar di Indonesia. Kepercayaan masyarakat yang tinggi menjadi modal utama bagi perseroan untuk terus melakukan transformasi layanan.

Transformasi Teknologi dan Layanan Medis Modern

Dalam rangka mendukung transformasi layanan kesehatan, Siloam bersikap sangat agresif dalam mengadopsi teknologi medis terbaru. Salah satu terobosan utamanya adalah penggunaan robot bedah canggih jenis Da Vinci Xi dalam prosedur operasi.

Saat ini, Siloam telah mengoperasikan dua unit sistem bedah robotik Da Vinci Xi dan berhasil menjalankan berbagai jenis prosedur pembedahan. Langkah ini diambil karena perusahaan memiliki ambisi besar untuk menjadi pelopor atau trend setter dalam teknologi bedah robotik.

Selain peralatan medis fisik, Siloam juga mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan atau Generative AI ke dalam sistem layanan pasien mereka. Integrasi digital ini diharapkan mampu mempermudah akses informasi dan kenyamanan bagi setiap pengunjung rumah sakit.

Salah satu fitur yang tengah dikembangkan adalah layanan percakapan berbasis AI yang membantu pasien dalam memilih dokter spesialis yang sesuai. Teknologi ini dirancang untuk memberikan rekomendasi yang lebih akurat dan cepat bagi kebutuhan medis individu.

Di samping fokus pada layanan segmen premium, Siloam juga terus memperluas jangkauan layanan bagi peserta BPJS Kesehatan. Strategi ini dijalankan guna meningkatkan volume pasien secara keseluruhan di jaringan rumah sakit milik perseroan.

Menurut penjelasan Elbert, saat ini lebih dari separuh dari total rumah sakit Siloam telah bekerja sama dengan pihak BPJS. Ia menilai bahwa segmen pasien ini tetap memberikan keuntungan bagi perusahaan asalkan dikelola dengan prinsip efisiensi yang tepat.

Elbert berpendapat bahwa prioritas utama pasien di segmen BPJS adalah kesembuhan medis dibandingkan dengan fasilitas yang bersifat mewah. Oleh karena itu, strategi efisiensi yang akurat menjadi kunci utama dalam memastikan segmen ini tetap menguntungkan secara finansial.

Catatan Kinerja Keuangan dan Pertumbuhan Laba

Dari sisi laporan keuangan, PT Siloam International Hospitals Tbk. mencatatkan kinerja yang sangat solid sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp12,84 triliun, atau mengalami pertumbuhan 5,24% secara tahunan (yoy).

Pencapaian laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA juga mengalami kenaikan impresif sebesar 18,3% menjadi Rp2,89 triliun. Hal ini berdampak pada margin EBITDA perusahaan yang meningkat dari 25,9% menjadi 29,1%.

Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga melonjak tajam hingga 23,47%. Sepanjang tahun 2025, SILO berhasil mengantongi laba bersih Rp1,11 triliun, naik dari angka Rp902,15 miliar pada periode tahun sebelumnya.

Ringkasan indikator keuangan utama Siloam pada periode 2025:

  • Pendapatan Operasional: Mengalami kenaikan menjadi Rp12,84 triliun atau tumbuh sekitar 5,24% dibandingkan tahun sebelumnya.
  • EBITDA Perusahaan: Mencapai Rp2,89 triliun dengan pertumbuhan margin yang sehat di level 29,1%.
  • Laba Bersih: Mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 23,47% dengan total nilai mencapai Rp1,11 triliun.
  • Kunjungan Pasien: Melayani sebanyak 4,35 juta kunjungan rawat jalan di seluruh jaringan rumah sakit dan klinik.
  • Kapasitas Tidur: Mengelola total 4.310 tempat tidur yang tersebar di 41 rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia.

Informasi di atas merangkum bagaimana efisiensi dan peningkatan layanan mampu memberikan hasil finansial yang positif bagi Siloam. Pertumbuhan laba yang konsisten menunjukkan kesehatan fundamental perusahaan di tengah persaingan industri kesehatan yang ketat.

Meskipun berhasil meraih keuntungan yang besar, pihak manajemen Siloam memutuskan untuk belum membagikan dividen kepada para pemegang saham. Elbert menjelaskan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan strategis jangka panjang perusahaan.

Laba yang diperoleh saat ini akan diprioritaskan sepenuhnya untuk kegiatan investasi dan pengembangan unit bisnis di masa depan. Dana tersebut akan dialokasikan untuk memperkuat infrastruktur medis dan mendukung rencana ekspansi yang telah disusun.

Berikut adalah rincian profil singkat dan sebaran operasional PT Siloam International Hospitals Tbk. saat ini:

Kategori Fasilitas Jumlah / Kapasitas Cakupan Wilayah
Rumah Sakit 41 Unit 23 Provinsi di Indonesia
Klinik Kesehatan 75 Unit Nasional
Tempat Tidur 4.310 Bed Jabodetabek dan Luar Jabodetabek
Teknologi Unggulan 2 Da Vinci Xi Bedah Robotik Canggih

Tabel tersebut menunjukkan besarnya skala operasional yang dikelola oleh SILO dalam memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat. Dengan infrastruktur yang kuat ini, Siloam optimistis dapat terus memimpin pasar industri rumah sakit swasta di Indonesia.

Seiring dengan rencana akuisisi yang tetap terbuka, Siloam diprediksi akan semakin memperluas jangkauan pelayanannya ke kota-kota lain. Kehadiran jajaran komisaris dan direksi baru juga diharapkan membawa inovasi segar bagi pertumbuhan berkelanjutan perseroan ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi