Konsumsi Gula Warga RI Tembus 75 Gram Per Hari, Pakar Ungkap Risiko Gigi Rusak: Mengejutkan!

Konsumsi Gula Warga RI Tembus 75 Gram Per Hari, Pakar Ungkap Risiko Gigi Rusak: Mengejutkan!
Foto: Konsumsi Gula Warga RI Tembus 75 Gram Per Hari, Pakar Ungkap Risiko Gigi Rusak: Mengejutkan!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Masyarakat Indonesia saat ini mengonsumsi gula sebanyak 62–75 gram per hari, melebihi anjuran maksimum Kementerian Kesehatan yaitu 50 gram. Bakteri dalam mulut dapat mengubah sisa gula menjadi asam dan plak lengket yang merusak enamel gigi serta meningkatkan risiko gigi berlubang.

Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis tampaknya sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari di Indonesia. Dari mulai kopi susu, teh kemasan, minuman boba, hingga berbagai camilan manis, gula dikonsumsi dari berbagai sumber yang seringkali tidak disadari. Berdasarkan data, rata-rata konsumsi gula harian masyarakat Indonesia mencapai 62–75 gram per hari.

Angka ini jauh melebihi batas maksimal yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan, yakni 50 gram per hari. Konsumsi gula berlebih ini tidak hanya meningkatkan risiko penyakit jangka panjang seperti diabetes atau masalah jantung, tetapi juga memiliki dampak langsung pada kesehatan, terutama kesehatan gigi.

Gigi Menjadi Target Pertama dari Dampak Gula Berlebih

Dalam kesehatan gigi, gula merupakan salah satu penyebab utama kerusakan enamel. Gula yang dikonsumsi menjadi "makanan" bagi bakteri di dalam mulut. Bakteri seperti Streptococcus mutans cepat mengubah gula menjadi asam, sekitar 20-30 menit setelah konsumsi. Asam ini perlahan mengikis enamel gigi, membuatnya rentan berlubang.

Selain itu, bakteri juga menghasilkan zat lengket bernama glukan yang memperkuat adhesi plak di permukaan gigi. Plak ini menjadi semakin sulit dibersihkan dengan sikat gigi biasa. Konsumsi gula tinggi menyebabkan gigi menjadi korban pertama sebelum dampak kesehatan lain terasa.

Proses Cepat Kerusakan Gigi Akibat Gula

Proses kerusakan gigi akibat gula berkembang secara bertahap, namun cepat dimulai. Setelah makanan manis dikonsumsi, lingkungan mulut menjadi lebih asam. Dalam kondisi ini, enamel gigi mulai kehilangan mineral pentingnya.

Jika paparan asam terjadi terus-menerus setiap hari tanpa perlindungan cukup, pelapukan enamel akan semakin cepat. Gigi bisa menjadi sensitif dan rentan terhadap kerusakan permanen. Kondisi ini diperburuk oleh kebiasaan konsumsi gula yang merata sepanjang hari, bukan hanya saat makan besar.

Pendekatan Perlindungan Gigi di Level Biologis

Seiring meningkatnya tantangan kesehatan gigi di tengah konsumsi gula yang tinggi, pendekatan perawatan pun turut berkembang. Tidak hanya melalui cara mekanis, tetapi juga biologis. Penggunaan enzim seperti Dextranase dan Lysozyme mulai dibahas sebagai solusi untuk mengurai plak yang terbentuk akibat konsumsi gula.

Pakar kesehatan menyarankan penggunaan enzim tersebut sebagai langkah proaktif dalam melindungi gigi dari plak yang kuat dan lengket. Dengan pendekatan ini, diharapkan kesehatan gigi dapat terjaga lebih baik meskipun pola konsumsi masyarakat berubah.

Artikel terkait

Rekomendasi