Kebijakan baru mengenai pemotongan komisi ojek online (ojol) menjadi 8% diprediksi akan membawa perubahan signifikan bagi lini bisnis On-Demand Services (ODS). Fenomena ini secara langsung memengaruhi proyeksi kinerja pendapatan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) di masa mendatang.
GOTO menyatakan kesiapannya untuk mengimplementasikan skema bagi hasil yang baru, yakni 92% untuk mitra pengemudi dan 8% untuk aplikator. Penyesuaian ini akan segera diterapkan pada layanan kendaraan roda dua sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi yang ada.
Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menjelaskan bahwa langkah ini diambil sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait layanan GoRide. Untuk menjaga stabilitas kinerja perusahaan, manajemen akan mengoptimalkan berbagai lini bisnis lainnya sebagai pendukung perubahan skema komisi tersebut.
Kafi Ananta, analis dari BRI Danareksa Sekuritas, menilai bahwa kebijakan tersebut memang akan menekan pendapatan unit bisnis ODS, khususnya pada produk GoRide. Meski demikian, ia menekankan bahwa struktur pendapatan GOTO saat ini sudah jauh lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada satu sektor saja.
Keberagaman sumber pendapatan menjadi kekuatan utama GOTO dalam menghadapi perubahan regulasi transportasi online:
- Lini bisnis teknologi finansial (fintech) yang mencatatkan pertumbuhan sangat pesat.
- Sektor logistik dan pengantaran barang yang terus berkembang secara konsisten.
- Pendapatan stabil yang berasal dari biaya layanan e-commerce (service fee).
- Ekosistem terintegrasi yang memungkinkan subsidi silang antar unit bisnis.
Kafi memberikan catatan khusus pada unit bisnis Fintech yang telah memberikan kontribusi positif, baik bagi pendapatan bruto maupun laba bersih perusahaan. Potensi pertumbuhan sektor ini dinilai masih sangat besar mengingat penetrasi pasar yang terus meluas di Indonesia.
Data menunjukkan bahwa pada kuartal I/2026, layanan Fintech GOTO telah menjangkau sekitar 27,5 juta pengguna aktif. Volume transaksi yang dihasilkan juga sangat impresif, yakni mencapai angka 2 miliar transaksi dalam kurun waktu tiga bulan saja.
Peluang ekspansi Fintech masih terbuka lebar karena populasi penduduk dewasa di Indonesia mencapai hampir 200 juta jiwa. Hal ini memberikan ruang gerak yang luas bagi GOTO untuk terus menambah basis pengguna baru di masa depan.
Berikut adalah ringkasan performa finansial lini bisnis Fintech GOTO berdasarkan laporan kuartal I/2026:
| Indikator Kinerja | Pencapaian / Nilai | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| Pendapatan Bersih Fintech | Rp1,9 Triliun | Meningkat 58% |
| Nilai Buku Pinjaman | Rp9,9 Triliun | Meningkat 59% |
| Jumlah Pengguna Aktif | 27,5 Juta | Pertumbuhan Solid |
| Total Transaksi | 2 Miliar Transaksi | Volume Tinggi |
Pertumbuhan yang kuat pada segmen pembayaran dan nilai buku pinjaman menjadi motor utama kenaikan pendapatan bersih tersebut. Strategi akuisisi pengguna yang efektif terbukti berhasil mendongkrak kinerja keuangan Fintech secara signifikan sepanjang awal tahun 2026.
Melalui aplikasi GoPay, GOTO juga berhasil menyalurkan kredit hingga menyentuh angka Rp9,9 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 59% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Meskipun penyaluran kredit tumbuh secara masif, GOTO tetap berhasil menjaga kualitas aset dan risiko kredit tetap stabil. Keberhasilan ini didukung oleh penerapan tata kelola risiko berbasis data yang sangat ketat untuk memastikan kesehatan finansial perusahaan.
Sektor Fintech kini dipandang sebagai mesin utama bagi pertumbuhan dan profitabilitas masa depan bagi grup GOTO. Margin bisnis yang terus membaik di sektor ini diharapkan mampu menyeimbangkan struktur pendapatan dan laba secara keseluruhan.
Dengan demikian, dampak dari pemangkasan komisi ojol diperkirakan dapat dimitigasi oleh performa gemilang dari sektor keuangan digital. Transformasi GOTO dari sekadar penyedia jasa transportasi menjadi ekosistem teknologi yang lengkap kini mulai membuahkan hasil nyata.
Keputusan investasi terkait saham GOTO sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor secara mandiri. Informasi ini disajikan sebagai referensi berita ekonomi dan bukan merupakan instruksi mutlak untuk melakukan aksi beli atau jual di pasar modal.