Ketegangan di panggung geopolitik dunia kembali meningkat setelah Iran secara terang-terangan mengajak negara-negara anggota BRICS untuk bersatu. Ajakan ini bertujuan untuk meruntuhkan dominasi serta rasa kebal hukum yang selama ini melekat pada Amerika Serikat (AS).
Pernyataan berani ini seketika memicu spekulasi mengenai masa depan BRICS. Banyak pihak mulai mempertanyakan apakah kelompok ekonomi ini akan bertransformasi menjadi aliansi militer guna menandingi kekuatan NATO.
Seruan tegas tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi di New Delhi. Di hadapan para menteri luar negeri BRICS, ia menekankan perlunya tindakan kolektif terhadap kebijakan Washington.
Upaya Melawan Hegemoni Barat
Araghchi mengungkapkan bahwa agresi militer yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap negaranya bukanlah sebuah insiden yang berdiri sendiri. Ia menilai aksi tersebut merupakan bagian dari pola tekanan yang lebih luas terhadap negara-negara berkembang.
Menurut pandangannya, banyak anggota BRICS lainnya yang juga terus mengalami tekanan serta paksaan dari pihak Barat. Hal ini dianggap sebagai bentuk kebencian yang terorganisir untuk menjaga kepentingan sepihak.
Berikut adalah poin utama yang disampaikan oleh Iran dalam pertemuan tersebut:
- Ancaman bersama yang berasal dari tindakan agresif blok Barat.
- Perlunya merespons hegemoni Amerika Serikat yang dianggap merugikan stabilitas global.
- Pemanfaatan kekuatan kolektif BRICS untuk melindungi kedaulatan negara anggota.
- Peralihan sistem dunia menuju tatanan multipolar yang lebih adil dan merata.
Poin-poin di atas mencerminkan keresahan negara-negara berkembang terhadap dominasi ekonomi dan politik satu arah. Iran berharap BRICS dapat menjadi penyeimbang kekuatan di masa depan.
Runtuhnya Dominasi Imperialis
Dalam kutipan yang dilansir dari RT, Araghchi memperingatkan bahwa ancaman yang dihadapi saat ini sangat berbahaya bagi kelangsungan bangsa-bangsa. Ia meminta agar para anggota BRICS tidak lagi mengabaikan situasi tersebut.
Ia menambahkan bahwa perilaku agresif blok Barat saat ini justru merupakan tanda kepanikan mereka. Hal ini terjadi karena mereka merasa kendali kekuasaannya mulai goyah akibat pergeseran peta kekuatan dunia.
Sistem dunia kini perlahan mulai bergeser ke arah multipolar, di mana kekuatan tidak lagi terpusat pada satu negara saja. Araghchi optimis bahwa posisi BRICS akan semakin kuat seiring memudarnya pengaruh imperialis di berbagai kawasan.
Ringkasan perbandingan posisi ekonomi antara kelompok besar dunia:
| Kategori Perbandingan | Kelompok BRICS | Kelompok G7 |
|---|---|---|
| Proyeksi Penguasaan Ekonomi (2025) | Mendekati 40% Ekonomi Dunia | Mengalami Tren Penurunan Pangsa |
| Fokus Utama Aliansi | Ekonomi & Kerjasama Multipolar | Keamanan & Stabilitas Barat |
| Tujuan Strategis Iran | Menghancurkan Kekebalan AS | Mempertahankan Status Quo |
Tabel ini menunjukkan betapa signifikannya pertumbuhan ekonomi BRICS yang diperkirakan akan menguasai hampir 40 persen ekonomi global pada tahun 2025. Data ini memperkuat alasan mengapa Iran mendorong aliansi ini untuk lebih berani di kancah politik.
Meskipun awalnya dibentuk sebagai blok kerjasama ekonomi, tekanan dari Iran ini memberikan sinyal adanya pergeseran fungsi. BRICS kini berpotensi menjadi kekuatan baru yang tidak hanya berpengaruh di pasar, tetapi juga dalam urusan pertahanan dunia.