IHSG Merah Membara Hari Ini, BBCA dan TPIA Anjlok Jadi Sorotan di 2026

IHSG Merah Membara Hari Ini, BBCA dan TPIA Anjlok Jadi Sorotan di 2026
Foto: IHSG Merah Membara Hari Ini, BBCA dan TPIA Anjlok Jadi Sorotan di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pada Jumat (22/5/2026) dengan tren negatif. Pergerakan indeks komposit terpantau melemah cukup dalam hingga mendekati level psikologis 6.000.

Berdasarkan data dari IDX Mobile pada pukul 09.00 WIB, IHSG merosot 1,21 persen sehingga berada di posisi 6.020,98. Kondisi pasar menunjukkan dominasi sentimen negatif dengan 383 saham yang dibuka memerah.

Sebaliknya, hanya terdapat 95 saham yang berhasil menguat, sementara 481 saham lainnya cenderung stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Volume transaksi di awal perdagangan ini tercatat mencapai 825,8 juta lembar saham.

Nilai transaksi yang dibukukan pada pembukaan pasar berada di angka Rp473,4 miliar. Dengan kondisi tersebut, total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia saat ini berada di level Rp10.404 triliun.

Daftar Saham Berkapitalisasi Besar yang Melemah

Sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar (big caps) terpantau mengalami koreksi yang cukup signifikan pada pagi ini. Pelemahan ini turut memberikan beban berat bagi pergerakan indeks secara keseluruhan.

Berikut adalah rincian beberapa saham unggulan yang dibuka di zona merah pada perdagangan hari ini:

  • PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA): Mengalami penurunan sebesar 1,26 persen dan berada pada level harga Rp5.875 per lembar saham.
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI): Terkoreksi 1,44 persen sehingga harganya melandai ke level Rp4.110.
  • PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN): Saham ini turun 3,11 persen dan parkir di posisi Rp2.490.
  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM): Melemah sebesar 2 persen yang membuat harganya menyentuh level Rp2.940.
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA): Mencatatkan koreksi paling tajam sebesar 12,78 persen ke level harga Rp1.980.

Pelemahan tajam pada saham TPIA menjadi salah satu faktor utama yang menekan laju IHSG di awal sesi. Penurunan harga ini terjadi secara serentak pada emiten-emiten yang biasanya menjadi penggerak utama pasar.

Analisis Teknikal dan Prediksi Pergerakan Indeks

Tim riset dari Phintraco Sekuritas memproyeksikan bahwa IHSG hari ini akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Mereka menetapkan level resistance di angka 6.200, sementara level support berada di posisi 5.880.

Sebagai informasi tambahan, pada penutupan perdagangan Kamis (21/5), indeks komposit sudah lebih dulu ambles sebesar 3,54 persen. Hal ini membawa posisi IHSG berakhir di level 6.094,91 pada hari kemarin.

Analis melihat bahwa penurunan ini dipicu oleh minimnya sentimen positif di pasar modal. Di saat yang sama, tekanan jual dari investor terus meningkat akibat berbagai sentimen negatif yang muncul secara beruntun.

Dari sisi teknikal, para analis menjelaskan bahwa IHSG saat ini telah menutup celah atau gap yang berada di level 6.092. Jika aksi jual oleh pelaku pasar masih berlanjut, indeks berisiko besar untuk kembali terkoreksi.

Analis menyebutkan dalam risetnya bahwa IHSG berpotensi menguji level psikologis penting di angka 6.000. Apabila level tersebut tertembus, titik support kuat berikutnya diperkirakan berada di level 5.882.

Sentimen Eksternal dan Kondisi Geopolitik Dunia

Kondisi eksternal saat ini dinilai kurang menguntungkan bagi pasar modal Indonesia karena adanya ketidakpastian global. Konflik yang terus berkepanjangan di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian utama para investor saat ini.

Penutupan Selat Hormuz juga menjadi faktor krusial karena berdampak langsung pada distribusi energi dunia. Hal ini memicu kenaikan harga minyak mentah yang diprediksi akan berlangsung lebih lama dari perkiraan semula.

Selain faktor global, respons pasar terhadap kebijakan domestik juga turut memengaruhi minat investasi. Pemerintah baru-baru ini merilis beberapa kebijakan yang ternyata ditanggapi secara negatif oleh sebagian besar investor.

Kebijakan tersebut dianggap dapat memberikan dampak kurang baik bagi iklim investasi dalam jangka pendek. Namun, ada pandangan lain yang menyebutkan bahwa langkah pemerintah tersebut memiliki tujuan jangka panjang yang positif.

Pemerintah kemungkinan besar bermaksud meningkatkan pendapatan negara guna menekan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Meski tujuannya baik, pasar tampaknya masih bersikap hati-hati dan cenderung melakukan aksi jual.

Analis juga menambahkan bahwa agenda evaluasi ulang atau rebalancing pada indeks FTSE dan MSCI masih akan membayangi. Hal ini berpotensi menjadi faktor negatif tambahan yang menekan pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia.

Tekanan pada Sektor Perbankan dan Pertambangan

Sektor perbankan diprediksi akan terus mengalami tekanan pada sisa perdagangan hari ini. Sentimen negatif ini muncul setelah adanya pernyataan terbaru dari lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings.

Fitch menyebutkan bahwa peringkat kredit jangka panjang bank-bank milik negara (Himbara) sangat bergantung pada dukungan pemerintah. Saat ini, peringkat bank Himbara berada pada level BBB/Negatif, sejajar dengan peringkat kedaulatan Indonesia.

Peringkat tersebut mencerminkan kekhawatiran Fitch akan kemampuan pemerintah dalam memberikan dukungan jika tekanan fiskal meningkat. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi investor yang memiliki aset di sektor perbankan pelat merah.

Di sisi lain, lembaga S&P Global Ratings memberikan sorotan pada rencana pemerintah terkait pengendalian ekspor komoditas secara terpusat. Langkah ini dinilai memiliki potensi untuk merugikan kinerja ekspor nasional dalam jangka waktu tertentu.

Penurunan kinerja ekspor dikhawatirkan dapat menekan pendapatan negara dan membebani neraca pembayaran Indonesia. Kondisi ini membuat para pelaku pasar mulai waspada terhadap saham-saham di sektor komoditas dan pertambangan.

Pihak analis menyatakan bahwa saat ini mereka masih memantau dengan cermat pergerakan saham tambang milik BUMN. Mereka juga mengingatkan investor untuk mewaspadai risiko tekanan lanjutan pada saham-saham tambang swasta atau non-BUMN.

Penting untuk diingat bahwa seluruh ulasan dan data dalam berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Segala keputusan yang berkaitan dengan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan hak pribadi masing-masing pembaca.

Artikel terkait

Rekomendasi