IHSG Anjlok 8,35 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 1.190 T Mengejutkan di 2026

IHSG Anjlok 8,35 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 1.190 T Mengejutkan di 2026
Foto: IHSG Anjlok 8,35 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 1.190 T Mengejutkan di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru saja melewati periode yang cukup berat selama sepekan terakhir. Pada rentang perdagangan 18 hingga 22 Mei 2026, indeks pasar modal Indonesia ini tercatat merosot hingga 8,35 persen.

Koreksi tajam sebesar 561,28 poin tersebut membuat IHSG terparkir di level 6.162,05 pada penutupan akhir pekan. Kondisi pasar yang penuh tekanan ini berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Data menunjukkan kapitalisasi pasar BEI menyusut sekitar 10,07 persen atau setara dengan Rp 1.190 triliun. Angka ini turun menjadi Rp 10.635 triliun dari posisi pekan sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 11.825 triliun.

Sepanjang lima hari perdagangan tersebut, pergerakan IHSG terpantau sangat fluktuatif. Indeks bahkan sempat terperosok ke zona 5.900 sebelum akhirnya berhasil bangkit dan bertahan di level psikologis 6.000.

Sentimen Positif di Akhir Pekan

Meskipun performa mingguan cenderung merah, perdagangan pada Jumat (22/5/2026) menunjukkan sinyal positif. IHSG berhasil ditutup menguat 1,10 persen atau naik sekitar 67,10 poin ke posisi 6.162,04.

Pada penutupan tersebut, sebanyak 449 saham tercatat mengalami kenaikan harga. Sementara itu, terdapat 251 saham yang melemah dan 118 saham lainnya berakhir stagnan tanpa perubahan harga.

Daftar sektor yang mempengaruhi pergerakan pasar di penghujung pekan:

  • Sektor Basic Materials (Bahan Baku) menjadi motor penggerak utama dengan lonjakan mencapai 6,85 persen.
  • Sektor Energi juga mencatatkan performa impresif dengan kenaikan signifikan sebesar 4,84 persen.
  • Sektor Keuangan justru menjadi satu-satunya yang tertekan dengan pelemahan tipis sebesar 0,28 persen.

Kenaikan di sektor komoditas ini memberikan nafas lega bagi investor setelah tekanan jual yang masif selama berhari-hari. Sebagian besar sektor berhasil kembali ke zona hijau pada penutupan hari Jumat tersebut.

Tim Riset Pilarmas Sekuritas melaporkan bahwa nilai transaksi perdagangan di hari terakhir mencapai Rp 17,90 triliun. Meski ditutup menguat harian, akumulasi dalam sepekan tetap menunjukkan pelemahan mendalam bagi IHSG.

Faktor Pendorong Penguatan Sektor Energi

Alrich Paskalis Tambolang, analis dari Phintraco Sekuritas, mengungkapkan alasan di balik penguatan sektor energi dan bahan baku. Menurutnya, pasar merespons positif rumor terkait kebijakan strategis pemerintah pusat.

Beredar kabar bahwa Indonesia berencana menunda implementasi penuh kebijakan pembatasan ekspor batu bara hingga awal 2027. Hal ini dianggap memberikan ruang bagi para pelaku industri untuk melakukan adaptasi.

Penundaan ini dinilai sangat krusial bagi eksportir serta pembeli internasional dalam menyesuaikan operasional mereka. Periode transisi yang lebih panjang ini memberikan sentimen positif bagi emiten-emiten terkait di bursa saham.

Daftar Saham Penekan IHSG

Pelemahan tajam IHSG dalam sepekan tidak lepas dari anjloknya harga saham sejumlah perusahaan raksasa. Beberapa emiten dengan kapitalisasi besar justru menjadi beban utama yang menyeret indeks ke zona merah.

Dua saham yang mencatatkan penurunan paling signifikan selama sepekan adalah:

Nama Emiten Persentase Penurunan Dampak Poin terhadap IHSG
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) 53,49% 47,55 poin
PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) 47,34% 43,21 poin

Data perdagangan merangkum bahwa saham TPIA menjadi penekan terbesar bagi pergerakan indeks secara keseluruhan. Selain itu, DSSA juga memberikan kontribusi negatif yang cukup besar terhadap penurunan IHSG periode ini.

Kombinasi antara koreksi saham-saham "big caps" dan fluktuasi kebijakan global menjadi tantangan utama pasar modal. Investor diharapkan tetap waspada melihat pergerakan pasar di pekan-pekan mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi