Pergerakan harga minyak mentah di pasar global terpantau sangat dinamis dan cenderung bervariasi pada sesi perdagangan Selasa (26/5/2026). Situasi ini dipicu oleh eskalasi operasi militer Amerika Serikat di wilayah Iran serta ketidakpastian yang menyelimuti proses negosiasi antara Washington dan Teheran.
Para pelaku pasar saat ini sedang dalam posisi waspada menyusul perkembangan geopolitik terbaru yang melibatkan dua kekuatan besar tersebut. Ketegangan di Timur Tengah ini memberikan tekanan sekaligus peluang bagi harga minyak mentah dunia untuk bergerak di luar prediksi biasanya.
Fluktuasi Harga Minyak Brent dan WTI
Berdasarkan data terbaru dari laman Tradingview, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2026 mencatatkan kenaikan sebesar 1,6 persen. Lonjakan ini membawa harga Brent menyentuh level US$97,72 per barel di pasar internasional.
Sebaliknya, kondisi berbeda dialami oleh minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Juni 2026. Harga WTI justru mengalami penurunan cukup dalam sebesar 5,4 persen dan mendarat di level US$91,38 per barel.
Perbandingan harga dua jenis minyak utama pada perdagangan terkini :
| Jenis Minyak Mentah | Status Harga | Persentase Perubahan | Level Harga (per Barel) |
|---|---|---|---|
| Brent (Juli 2026) | Meningkat | +1,6% | US$97,72 |
| WTI AS (Juni 2026) | Menurun | -5,4% | US$91,38 |
Perbedaan pergerakan antara kedua jenis benchmark minyak ini menunjukkan adanya sentimen pasar yang berbeda dalam merespons faktor domestik di Amerika Serikat serta dinamika pengapalan di pasar global.
Eskalasi Militer di Wilayah Iran
Ketegangan di kawasan Teluk meningkat setelah pihak militer Amerika Serikat melancarkan tindakan yang disebut sebagai serangan untuk membela diri. Operasi militer ini difokuskan pada wilayah selatan Iran yang dianggap sebagai titik rawan keamanan internasional.
Komando Pusat AS atau US Central Command memberikan keterangan bahwa sasaran serangan tersebut mencakup kapal-kapal yang dicurigai akan memasang ranjau laut. Selain itu, mereka juga menargetkan beberapa lokasi yang diidentifikasi sebagai tempat peluncuran rudal.
Pihak militer AS menegaskan bahwa langkah tegas ini harus diambil demi melindungi personel serta aset militer Amerika dari potensi ancaman Iran. Kondisi keamanan di jalur perdagangan energi tersibuk di dunia ini pun kembali menjadi sorotan utama para analis energi.
Ketidakpastian Negosiasi Diplomatik
Di tengah dentuman meriam, jalur diplomasi sebenarnya masih diupayakan, namun kian dibayangi oleh ketidakpastian. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui pernyataan di media sosial pada Senin (25/5/2026), memberikan sinyal yang beragam bagi pasar global.
Trump mengungkapkan keinginannya untuk memperluas jangkauan Abraham Accords dengan mengajak lebih banyak negara untuk bergabung dalam kesepakatan damai tersebut. Negara-negara yang didorong untuk terlibat meliputi Arab Saudi, Pakistan, Qatar, Turki, Mesir, hingga Yordania demi menormalisasi hubungan dengan Israel.
Terkait pembicaraan langsung dengan pihak Iran, Presiden Trump mengklaim bahwa proses negosiasi tersebut sebenarnya sedang berjalan ke arah yang baik. Meski demikian, ia tetap melontarkan peringatan keras bahwa opsi militer tetap terbuka jika kesepakatan tidak kunjung tercapai.
“Kesepakatan ini harus menjadi kesepakatan besar bagi semua pihak, atau tidak ada kesepakatan sama sekali,” tulis Donald Trump sebagaimana dikutip dari laporan CNBC International.
Pernyataan tersebut membuat para investor merasa ragu karena tidak adanya jaminan konkret mengenai perdamaian di wilayah penghasil minyak tersebut. Kondisi "semua atau tidak sama sekali" ini membuat volatilitas harga di pasar komoditas menjadi semakin tinggi.
Krisis Persediaan Minyak Global Menurut Laporan UBS
Lembaga keuangan internasional UBS turut memberikan pandangan mendalam mengenai kondisi pasar minyak saat ini yang dinilai sedang mengalami tekanan berat. Penurunan cadangan minyak dunia menjadi faktor fundamental yang mendorong kekhawatiran di kalangan produsen dan konsumen.
Gangguan pengiriman barang dan komoditas melalui Selat Hormuz diidentifikasi sebagai penyebab utama merosotnya stok minyak mentah secara global. Selat ini merupakan jalur vital bagi kapal tanker yang membawa pasokan energi dari Timur Tengah menuju pasar dunia.
Detail mengenai kondisi cadangan minyak berdasarkan laporan riset UBS :
- Penurunan Persediaan: Tercatat adanya pengurangan kumulatif cadangan minyak sebesar 246 juta barel dalam periode Maret hingga April 2026.
- Potensi Kehilangan Produksi: Akumulasi kehilangan produksi diperkirakan akan menembus angka lebih dari 1 miliar barel pada pengujung Mei 2026.
- Kekurangan Pasokan: Penurunan stok yang sangat tajam mengonfirmasi bahwa pasar energi dunia sedang mengalami defisit pasokan yang nyata.
- Pergeseran Lokasi Stok: Stok di fasilitas penyimpanan darat terus menipis, sementara cadangan di atas kapal tanker meningkat karena adanya pengalihan rute ke Asia.
UBS menekankan bahwa ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran ini merupakan ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global di kuartal kedua tahun ini. Pasar minyak diperkirakan akan tetap berada dalam kondisi yang sangat ketat hingga kepastian politik di Timur Tengah tercapai.
Fenomena menarik lainnya adalah peningkatan cadangan minyak di kapal-kapal tanker yang sedang berlayar di laut lepas. Hal ini terjadi karena banyak eksportir minyak dari Amerika Serikat yang mulai mengalihkan rute pengiriman mereka menuju pasar Asia guna menghindari zona konflik.
Meskipun cadangan di laut meningkat, hal tersebut tidak mampu menutup lubang besar akibat menyusutnya stok minyak mentah dan produk olahan di daratan. Secara keseluruhan, potret pasar energi saat ini masih didominasi oleh kekhawatiran akan kelangkaan pasokan di masa depan.