Harga minyak mentah dunia terpantau kembali mengalami penurunan pada sesi perdagangan Rabu pagi (20/5/2026). Tren koreksi ini terjadi seiring mulai memudarnya reli tajam yang sempat mendominasi pasar sepanjang pekan lalu.
Pelaku pasar saat ini tampak mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya melambung akibat ketegangan di Timur Tengah. Meskipun demikian, situasi di Selat Hormuz sebagai jalur energi paling krusial di dunia sebenarnya masih belum sepenuhnya normal.
Pergerakan Harga Minyak di Pasar Global
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.30 WIB, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Juli (LCOc1) bertengger di level US$110,86 per barel. Angka ini menunjukkan pelemahan dibandingkan posisi penutupan pada hari Selasa yang berada di level US$111,28 per barel.
Penurunan yang lebih signifikan terlihat pada komoditas minyak mentah West Texas Intermediate (WTI/CLc1). Harga WTI saat ini berada di level US$103,66 per barel, merosot cukup dalam dari posisi sebelumnya di US$107,77 per barel.
Berikut adalah rincian pergerakan harga minyak mentah dalam kurun waktu dua pekan terakhir:
| Jenis Minyak | Harga (7 Mei) | Puncak (18 Mei) | Harga Saat Ini (20 Mei) |
|---|---|---|---|
| Brent | US$100,06 | US$112,10 | US$110,86 |
| WTI | US$94,81 | US$108,66 | US$103,66 |
Data tersebut menunjukkan volatilitas harga yang sangat tinggi dalam waktu singkat di pasar energi global. Kenaikan hampir 12% pada harga Brent sebelumnya dipicu oleh kecemasan pasar terhadap gangguan pasokan akibat perang Iran-Israel.
Kelancaran Arus Tanker di Selat Hormuz
Memasuki pertengahan pekan, pasar mendapatkan sentimen positif setelah mengetahui pasokan minyak dari Teluk Persia ternyata tetap mengalir. Laporan dari Reuters menyebutkan bahwa dua kapal tanker raksasa asal China akhirnya berhasil keluar dari Selat Hormuz.
Kedua kapal tersebut membawa total 4 juta barel minyak mentah setelah sempat tertahan selama lebih dari dua bulan di kawasan tersebut. Kapal Yuan Gui Yang tercatat mengangkut minyak Basrah asal Irak, sementara kapal Ocean Lily membawa kombinasi minyak Irak dan Qatar.
Kabar ini memberikan ruang napas bagi pasar global yang sempat khawatir akan penutupan total jalur distribusi utama tersebut. Selat Hormuz sendiri merupakan pintu keluar bagi hampir seperlima dari total perdagangan minyak di seluruh dunia.
Risiko Geopolitik yang Masih Menghantui
Walaupun kapal tanker sudah mulai bergerak, kondisi di lapangan sebenarnya masih berada dalam status yang sangat rapuh. Saat ini, setiap kapal tanker yang melintas diwajibkan mengikuti rute transit khusus yang diperintahkan oleh otoritas Iran.
Situasi ini mengindikasikan bahwa jalur energi global memang tidak lumpuh, namun tetap beroperasi di bawah tekanan politik dan militer yang intens. Ketidakpastian ini membuat harga minyak dunia sangat rentan terhadap potensi eskalasi konflik yang bisa terjadi kapan saja.
Pasar kini berada di antara optimisme karena pasokan fisik masih tersedia dan kekhawatiran akan serangan terhadap fasilitas energi. Satu insiden kecil pada tanker atau jalur laut dapat dengan cepat mendorong harga kembali ke level tertinggi tahun ini.