Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan tren penguatan pada perdagangan Kamis pagi ini. Kenaikan tipis ini terjadi setelah pasar sempat mengalami tekanan jual yang cukup dalam pada awal pekan.
Sebelumnya, harga sempat merosot lebih dari 2 persen menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait penundaan serangan ke Iran. Kini, pelaku pasar cenderung bersikap waspada di tengah ketidakpastian antara jalur diplomasi dan risiko gangguan pasokan.
Data Terbaru Harga Minyak Dunia
Berdasarkan data Refinitiv pada Kamis (21/5/2026) pagi, harga minyak jenis Brent untuk kontrak Juli berada di level US$105,92 per barel. Angka ini tercatat naik tipis jika dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di posisi US$105,02 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juni juga mengalami penguatan. Harga WTI kini bertengger di level US$99,15 per barel, naik dari posisi sebelumnya di angka US$98,26 per barel.
Kenaikan hari ini merupakan upaya pemulihan setelah pasar mengalami gejolak yang sangat tinggi dalam dua hari terakhir. Pada 19 Mei lalu, Brent masih berada di level US$111,28 per barel, sementara WTI tercatat di posisi US$107,77 per barel.
Bahkan, beberapa hari sebelumnya harga sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Brent sempat mencapai US$112,1 per barel dan WTI bertengger di angka US$108,66 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah.
Dampak Ketegangan Geopolitik dan Jalur Diplomasi
Volatilitas harga yang sangat ekstrem ini dipicu oleh perkembangan situasi konflik di wilayah Timur Tengah. Laporan dari Reuters menyebutkan bahwa penundaan serangan AS terhadap Iran bertujuan untuk memberikan ruang bagi negosiasi program nuklir Teheran.
Kabar tersebut sempat meredakan kekhawatiran pelaku pasar akan terjadinya perang terbuka di kawasan tersebut. Hal inilah yang memicu aksi jual besar-besaran karena risiko gangguan pasokan dianggap sedikit berkurang secara mendadak.
Meskipun demikian, ketenangan pasar belum sepenuhnya pulih karena situasi di Teluk masih memanas. Konflik ini berdampak langsung pada kelancaran lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital energi dunia.
Perlu diketahui bahwa sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut setiap harinya. Gangguan sekecil apa pun di titik navigasi ini dipastikan akan memicu lonjakan harga energi di tingkat global secara instan.
Perkembangan Negosiasi dan Kebijakan Sanksi
Di sisi lain, Iran dilaporkan telah mengirimkan proposal perdamaian baru yang difasilitasi melalui pihak Pakistan. Namun, hingga saat ini proses diplomasi tersebut dinilai masih berjalan sangat lambat oleh para pengamat.
Sempat beredar kabar bahwa Washington akan memberikan kelonggaran ekspor minyak bagi Iran selama proses perundingan berlangsung. Kabar ini kemudian langsung dibantah oleh pejabat Amerika Serikat, sehingga menambah ketidakpastian di pasar.
Beberapa kebijakan penting yang saat ini sedang dijalankan oleh pemerintah Amerika Serikat antara lain:
- Memberikan perpanjangan pengecualian sanksi selama 30 hari untuk pembelian minyak Rusia melalui jalur laut.
- Berupaya menjaga ketersediaan stok global tetap stabil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
- Mendorong proses negosiasi nuklir dengan Iran demi menghindari eskalasi militer lebih lanjut di Timur Tengah.
- Memantau distribusi energi internasional agar tidak terhambat oleh konflik di titik-titik krusial pengiriman.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Washington sedang berusaha keras menjaga keseimbangan pasokan global. Pasar melihat kebijakan ini sebagai upaya untuk mencegah lonjakan harga yang lebih tinggi akibat krisis di Rusia dan Timur Tengah.
Penurunan Cadangan Strategis Amerika Serikat
Faktor lain yang menopang kenaikan harga minyak datang dari menyusutnya cadangan energi dalam negeri Amerika Serikat. Data Departemen Energi AS menunjukkan Strategic Petroleum Reserve (SPR) merosot tajam sebanyak 9,9 juta barel pada pekan lalu.
Saat ini, sisa cadangan strategis AS hanya sekitar 374 juta barel, yang merupakan level terendah sejak Juli 2024. Penurunan yang signifikan ini membuat Amerika Serikat memiliki bantalan pasokan yang semakin tipis di tengah risiko global.
Kondisi cadangan yang menipis ini direspons secara serius oleh Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol. Ia memperingatkan bahwa stok minyak komersial global saat ini sedang menurun dengan kecepatan yang cukup mengkhawatirkan.
Birol menekankan bahwa pasokan efektif dunia mungkin hanya cukup untuk beberapa pekan jika gangguan pengiriman terus terjadi. Hal ini memberikan tekanan tambahan bagi pasar minyak internasional untuk tetap berada pada level harga yang tinggi.
Ringkasan Pergerakan Harga Sepekan Terakhir
Pergerakan harga dalam delapan hari perdagangan terakhir memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh isu geopolitik terhadap nilai komoditas. Harga terus bergerak fluktuatif mengikuti setiap perkembangan berita yang muncul dari wilayah konflik.
Berikut adalah ringkasan fluktuasi harga minyak mentah Brent dan WTI dalam kurun waktu delapan hari terakhir:
| Jenis Minyak | Posisi Awal (13 Mei) | Level Tertinggi | Posisi Saat Ini |
|---|---|---|---|
| Brent (LCOc1) | US$105,63 | US$112,10 | US$105,92 |
| WTI (CLc1) | US$101,00 | US$108,66 | US$99,15 |
Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun sempat melonjak tinggi, harga kembali melandai namun tetap dalam kondisi tidak stabil. Para pelaku pasar kini memfokuskan perhatian pada setiap pernyataan resmi terkait diplomasi nuklir dan keamanan jalur maritim.