Harga Emas Berpotensi Turun ke Rp 2,68 Juta, Simak Faktor Pemicu Utamanya

Harga Emas Berpotensi Turun ke Rp 2,68 Juta, Simak Faktor Pemicu Utamanya
Foto: Ilustrasi Harga Emas Berpotensi Turun ke Rp 2,68 Juta, Simak Faktor Pemicu Utamanya.
Ukuran teks

Dinamika harga emas pada pekan ini diprediksi masih akan dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Selain itu, pelaku pasar juga terus mencermati arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat yang berpotensi menekan harga logam mulia lebih jauh.

Pada perdagangan Senin (18/5/2026) siang, harga emas di pasar spot tercatat melemah ke angka 4.537 dollar AS per ons. Penurunan ini juga diikuti oleh harga emas batangan Antam yang berada di posisi Rp 2.764.000 per gram pada waktu yang sama.

Proyeksi Penurunan Harga Emas

Ibrahim Assuaibi, seorang analis komoditas dan mata uang, menyebutkan bahwa penguatan tekanan pasar dapat mendorong harga emas dunia turun ke level 4.444 dollar AS per ons. Jika skenario ini terjadi, harga emas di pasar domestik diperkirakan akan ikut merosot ke kisaran Rp 2.749.000 per gram.

Koreksi harga diprediksi bisa semakin dalam apabila sentimen pasar terus menunjukkan pelemahan. Ibrahim memproyeksikan titik dukungan atau support kedua emas dunia berada pada level 4.307 dollar AS per ons.

Kondisi pelemahan tersebut dapat membawa harga logam mulia dalam negeri jatuh hingga ke level Rp 2.685.000 per gram. Ibrahim menegaskan bahwa kemungkinan harga menyentuh angka tersebut cukup terbuka jika tren negatif terus berlanjut.

Berikut adalah ringkasan estimasi harga emas dalam kondisi pasar yang tertekan:

Kategori Proyeksi Harga Emas Dunia (per Ons) Harga Emas Antam (per Gram)
Support Pertama 4.444 dollar AS Rp 2.749.000
Support Kedua 4.307 dollar AS Rp 2.685.000

Data di atas menunjukkan potensi batas bawah harga emas jika tren pasar saat ini terus mengalami koreksi tajam. Angka-angka tersebut menjadi acuan bagi para investor untuk melihat seberapa jauh penurunan harga mungkin terjadi.

Peluang Penguatan dan Faktor Geopolitik

Meskipun sedang tertekan, peluang kenaikan harga emas dinilai masih terbuka lebar mengingat kondisi global yang masih bergejolak. Jika muncul sentimen positif, harga emas dunia diprediksi mampu naik hingga 4.639 dollar AS per ons.

Penguatan di pasar global tersebut akan berdampak pada naiknya harga emas lokal ke posisi Rp 2.789.000 per gram. Bahkan, level resistance kedua diperkirakan bisa menyentuh angka 4.796 dollar AS atau mendekati ambang 4.800 dollar AS per troy ons.

Pada tingkat harga global tersebut, logam mulia domestik berpotensi melonjak hingga Rp 2.880.000 per gram. Namun, Ibrahim memberikan catatan bahwa untuk menembus angka Rp 2.900.000 per gram merupakan tantangan yang sangat berat saat ini.

Faktor kunci yang menentukan arah pergerakan harga emas adalah situasi di Timur Tengah, terutama ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Perkembangan diskusi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz juga menjadi poin krusial yang diamati pasar.

Jika kesepakatan mengenai Selat Hormuz tercapai dan keterlibatan militer Amerika Serikat berkurang, pasar diperkirakan akan menjadi lebih stabil. Sebaliknya, eskalasi konflik antara Iran dan Israel justru akan meningkatkan permintaan emas sebagai aset aman (safe haven).

Ibrahim menekankan bahwa jika Amerika Serikat tetap terlibat aktif dalam konflik tersebut, arah harga emas bisa berbalik arah dan mengalami penurunan. Kondisi pasar ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana situasi diplomatik dan militer di kawasan tersebut berkembang.

Artikel terkait

Rekomendasi