Dolar AS Nyaris Rp18.200, Ini Penjelasan Terbaru BI Soal Nilai Tukar Rupiah 2026

Dolar AS Nyaris Rp18.200, Ini Penjelasan Terbaru BI Soal Nilai Tukar Rupiah 2026
Foto: Dolar AS Nyaris Rp18.200, Ini Penjelasan Terbaru BI Soal Nilai Tukar Rupiah 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin (8/6/2026) hingga mendekati angka Rp18.200 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan signifikan indeks dolar AS (DXY) yang kini telah melampaui level 100.

Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Bank Indonesia (BI) yang berkomitmen untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda. Bank sentral memastikan akan terus memantau situasi pasar secara ketat guna mengantisipasi volatilitas yang lebih dalam.

Langkah Intervensi Bank Indonesia

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa pihaknya tetap berada di pasar untuk melakukan langkah-langkah intervensi. Hal ini dilakukan agar fluktuasi nilai tukar rupiah tidak bergerak terlalu ekstrem di tengah ketidakpastian global.

Destry menjelaskan bahwa intervensi merupakan bagian dari mandat BI untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Bank Indonesia akan berupaya memastikan agar pergerakan rupiah tetap terkendali dan sinkron dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sudah berada di posisi Rp18.100 per dolar AS hanya tujuh menit setelah perdagangan dibuka pada pukul 09.07 WIB. Memasuki siang hari pukul 14.00 WIB, nilai tukar rupiah terpantau semakin melemah hingga menyentuh level Rp18.190 per dolar AS.

Kondisi Mata Uang Asia Lainnya

Tekanan terhadap dolar AS ternyata tidak hanya dialami oleh rupiah, melainkan juga hampir seluruh mata uang di kawasan Asia. Mayoritas mata uang negara tetangga turut terkoreksi dalam menyusul keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

Berikut adalah rincian pelemahan beberapa mata uang utama di Asia terhadap dolar AS:
  • Ringgit Malaysia mengalami tekanan paling dalam dengan pelemahan mencapai 1,04% ke level MYR 4,067.
  • Baht Thailand terkoreksi sebesar 0,30% dan berada pada posisi THB 32,90.
  • Dong Vietnam mengalami penurunan nilai sebesar 0,28% ke angka VND 26.344.
  • Yuan China ikut tertekan 0,26% dan bertengger di posisi CNY 6,783.
  • Dolar Taiwan dan Dolar Singapura masing-masing melemah sebesar 0,15% dan 0,05%.
  • Yen Jepang menjadi mata uang dengan koreksi paling tipis, yakni sebesar 0,02% ke level JPY 160,35.

Data di atas menunjukkan bahwa penguatan dolar AS memberikan dampak sistemik terhadap stabilitas moneter di wilayah Asia secara keseluruhan. Ringgit Malaysia menjadi yang paling terdampak, sementara yen Jepang relatif lebih stabil dibandingkan mata uang lainnya.

Status Cadangan Devisa Nasional

Di tengah tekanan ini, Bank Indonesia juga melaporkan kondisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026. Tercatat ada penurunan sebesar US$ 1,3 miliar, sehingga total cadangan devisa kini berada di angka US$ 144,9 miliar.

Penurunan ini disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu, tingginya permintaan valuta asing untuk kebutuhan musiman domestik juga turut memengaruhi posisi cadangan devisa tersebut.

Berikut adalah ringkasan data cadangan devisa Indonesia per Mei 2026:
Indikator Nilai/Kapasitas
Total Cadangan Devisa US$ 144,9 Miliar
Pembiayaan Impor 5,6 Bulan
Impor & Utang Luar Negeri 5,5 Bulan
Standar Internasional 3 Bulan Impor

Meski mengalami penurunan, Bank Indonesia menegaskan bahwa posisi cadangan devisa tersebut masih dalam kategori sangat kuat. Angka ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional, sehingga mampu mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi