Pasar saham Indonesia kembali menghadapi tekanan jual yang sangat besar hingga membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk. Pada penutupan perdagangan sesi kedua, Senin (8/6/2026), IHSG jatuh ke level 5.342,14 setelah anjlok 4,52% atau setara 252,63 poin.
Koreksi ini memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Bahkan, jika dihitung dari awal tahun, IHSG tercatat sudah merosot lebih dari 38%.
Dibandingkan dengan posisi tertingginya pada 20 Januari 2026, penurunan indeks kini sudah mencapai 41,51%. Secara harian, indeks sempat menyentuh titik terendahnya di level 5.317,91 di tengah kepanikan pasar yang meluas.
Sentimen negatif menyelimuti hampir seluruh emiten di bursa dengan jumlah saham yang melemah mencapai 661 perusahaan. Sebaliknya, hanya ada 78 saham yang berhasil menguat dan 78 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan terpantau sangat ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp21,73 triliun. Volume perdagangan mencatatkan angka 32,52 miliar saham dengan frekuensi transaksi lebih dari 2,22 juta kali.
Sektor kesehatan, teknologi, serta konsumer non-primer menjadi penyumbang penurunan terdalam pada perdagangan kali ini. Beberapa saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, BBRI, dan BBCA juga turut menyeret kinerja indeks ke zona merah.
Konflik Timur Tengah dan Dampak Fiskal
Anjloknya pasar modal dalam negeri dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali memanas. Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke arah Israel pada Minggu (7/6/2026), yang menjadi serangan pertama sejak gencatan senjata April lalu.
Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, menyatakan pangkalan Amerika Serikat dan aset Israel kini menjadi target yang sah. Hal ini menyusul tuduhan adanya pelanggaran kesepakatan melalui blokade laut dan serangan di wilayah Lebanon.
Presiden AS Donald Trump merespons laporan serangan tersebut dengan menyatakan bahwa aksi Iran akan menghambat proses negosiasi. Trump juga berencana berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mencegah adanya serangan balasan.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa perdamaian hanya bisa terwujud jika konflik di semua lini dihentikan. Mereka menuntut pencabutan blokade AS dan penghentian perang di Lebanon sebagai syarat mutlak.
Kondisi eksternal yang tidak menentu ini membuat investor semakin waspada terhadap ketahanan fiskal di Indonesia. Pasalnya, kenaikan harga energi akibat perang dapat membebani anggaran dan meningkatkan biaya operasional industri.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah terus memantau dampak dinamika global ini terhadap APBN. Hingga akhir Mei 2026, ia menegaskan fondasi ekonomi nasional sebenarnya masih dalam kondisi yang cukup solid.
Berikut adalah ringkasan data realisasi APBN terbaru :
| Indikator Fiskal | Capaian Mei 2026 |
|---|---|
| Nilai Defisit APBN | Rp180,4 Triliun |
| Persentase Defisit terhadap PDB | 0,70% |
| Kenaikan dari April 2026 | 0,06% |
| Tren Pengelolaan | Pruden dan Fleksibel |
Data di atas menunjukkan adanya kenaikan tipis pada defisit anggaran dibandingkan bulan April yang berada di level 0,64% terhadap PDB. Meski demikian, pemerintah mengklaim pengelolaan pembiayaan tetap dilakukan secara efisien mengikuti dinamika pasar.
Tekanan pada Rupiah dan Arus Modal Keluar
Selain pasar saham, nilai tukar Rupiah juga berada dalam posisi yang sangat mengkhawatirkan. Indeks dolar AS kembali menguat ke level 100,069, yang merupakan angka tertinggi sejak akhir Maret lalu.
Penguatan dolar AS memicu pelarian modal atau outflow dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini mengakibatkan nilai tukar Rupiah sempat terperosok hingga menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS pekan lalu.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan pada nilai tukar sangat dipengaruhi oleh tensi geopolitik. Eskalasi konflik di Timur Tengah membuat prospek perdamaian terhambat dan harga minyak tetap melambung tinggi.
Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi global yang pada akhirnya mendorong investor menarik dana mereka. Selain faktor eksternal, kebutuhan dolar di dalam negeri juga sedang meningkat karena siklus tahunan.
Destry menambahkan bahwa permintaan dolar domestik melonjak akibat adanya pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen oleh perusahaan. Kombinasi faktor global dan domestik inilah yang membuat pasar keuangan Indonesia mengalami guncangan hebat.