PT Indonesian Paradise Property Tbk. (INPP) menunjukkan optimisme tinggi dalam memperkuat ekspansi bisnis mereka di sektor properti dan hospitality. Perusahaan tetap percaya diri melangkah meski saat ini terdapat tantangan berupa penurunan daya beli masyarakat serta dinamika yang cukup ketat di industri ritel.
Perseroan meyakini bahwa pasar untuk konsep lifestyle mall serta hotel kelas premium masih memiliki potensi pertumbuhan yang sangat kuat di Indonesia. Keyakinan ini didasari pada strategi matang yang telah disiapkan perusahaan untuk menghadapi berbagai kondisi ekonomi nasional.
Ambisi Portofolio Proyek hingga Tahun 2026
Direktur Keuangan INPP, Surina, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengelola puluhan portofolio proyek strategis di berbagai kota besar hingga tahun 2026 mendatang. Total proyek yang masuk dalam daftar pengembangan perusahaan mencapai 26 unit yang tersebar secara luas.
Portofolio tersebut mencakup enam pusat perbelanjaan yang sudah ada, dengan rencana penambahan satu mal baru yang akan segera diresmikan bulan depan. Selain itu, perusahaan juga mengelola 13 hotel serta enam proyek penjualan properti yang terus berjalan.
Salah satu agenda terdekat yang sangat dinanti adalah pembukaan 23 Semarang Shopping Mall yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 23 Mei 2026. Kehadiran mal baru ini diharapkan menjadi katalis positif bagi pertumbuhan bisnis ritel di wilayah Jawa Tengah.
Rincian portofolio properti milik Paradise Indonesia adalah sebagai berikut:
- Enam pusat perbelanjaan eksisting dengan tambahan satu unit baru pada Juni 2026.
- Sebanyak 13 hotel yang didominasi oleh segmen premium dan bintang lima.
- Enam proyek penjualan properti (property sales) di berbagai lokasi strategis.
- Total keseluruhan mencapai 26 portofolio proyek terintegrasi hingga akhir 2026.
Daftar proyek tersebut mencerminkan komitmen INPP untuk terus menghadirkan fasilitas komersial dan hunian berkualitas tinggi bagi masyarakat. Fokus pada lokasi premium menjadi salah satu kunci keberhasilan perusahaan dalam menjaga nilai aset mereka.
Inovasi Konsep Mal sebagai Destinasi Hiburan
Mengenai kekhawatiran terhadap daya beli, Surina menegaskan bahwa manajemen tetap optimistis karena adanya pergeseran fungsi pusat perbelanjaan. Saat ini, mal tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat untuk berbelanja kebutuhan pokok atau barang branded semata.
Menurutnya, mal telah bertransformasi menjadi sebuah destinasi hiburan sekaligus pusat pengalaman santai bagi para pengunjung atau leisure experience. Hal ini membuat masyarakat tetap datang ke mal meski kondisi ekonomi sedang menghadapi tantangan tertentu.
“Strategi kami adalah memperbesar porsi penyewa di bidang makanan dan minuman (food and beverage) untuk menarik aliran pengunjung. Kami membangun mal sebagai destinasi liburan, bukan sekadar tempat belanja,” ungkap Surina pada Selasa (12/5/2026).
Pendekatan ini terbukti sangat efektif dalam menjaga angka kunjungan ke pusat perbelanjaan milik INPP di tengah tekanan ekonomi global maupun domestik. Dengan memperkuat aspek gaya hidup, mal mampu memberikan alasan lebih bagi masyarakat untuk terus berkunjung.
Okupansi Tenant yang Sangat Positif
Keberhasilan strategi ini tercermin dari tingkat keterisian ruang atau okupansi tenant yang sangat tinggi bahkan sebelum proyek resmi dibuka. Surina mengungkapkan bahwa tingkat okupansi untuk proyek terbaru mereka sudah menyentuh angka 80 persen saat ini.
Fenomena menarik lainnya adalah banyaknya penyewa yang sudah melakukan pemesanan ruang sejak dua hingga tiga tahun sebelum pembangunan selesai. Hal ini menunjukkan kepercayaan yang sangat besar dari para pelaku usaha terhadap prospek proyek yang dikembangkan INPP.
Perusahaan mematok target ambisius agar tingkat okupansi tersebut bisa meningkat hingga mencapai kisaran 90 persen sampai 95 persen pada Desember nanti. Pencapaian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi pendapatan yang stabil bagi perseroan dalam jangka panjang.
Capaian Kinerja Keuangan Kuartal I/2026
Pada periode kuartal pertama tahun 2026, INPP berhasil mencatatkan performa keuangan yang impresif dengan total pendapatan mencapai Rp326,90 miliar. Angka ini disumbang oleh berbagai lini bisnis utama yang dimiliki oleh perusahaan secara berkelanjutan.
Berikut adalah perincian sumber pendapatan INPP selama kuartal pertama tahun 2026:
| Segmen Bisnis | Kontribusi Pendapatan |
|---|---|
| Sektor Komersial (Mal) | Rp157 Miliar |
| Sektor Hospitality (Hotel) | Rp136 Miliar |
| Penjualan Properti | Rp34 Miliar |
Data di atas menunjukkan bahwa sektor komersial dan hospitality masih menjadi tulang punggung utama bagi pendapatan perseroan. Keseimbangan antar lini bisnis ini membantu perusahaan tetap kokoh di tengah fluktuasi pasar properti nasional.
Selain pendapatan yang positif, INPP juga berhasil membalikkan kondisi keuangan dari rugi bersih pada tahun lalu menjadi laba bersih. Perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp44,07 miliar pada kuartal I/2026, jauh lebih baik dibanding kerugian Rp132,87 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tercatat berada di level Rp101 miliar. Perolehan tersebut mengalami kenaikan sekitar 1 persen jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal pertama tahun lalu.
Pentingnya Penguasaan Lahan dan Keseimbangan Modal
Presiden Direktur sekaligus CEO INPP, Anthony Prabowo Susilo, memberikan pandangannya mengenai strategi pengembangan properti yang bersifat bertahap. Ia menilai industri ini sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam menyeimbangkan modal dan penguasaan lahan.
Anthony menegaskan bahwa pusat perbelanjaan berskala besar akan selalu memiliki pangsa pasar tersendiri dalam jangka waktu yang panjang. Menurutnya, dominasi pasar biasanya hanya dipegang oleh segelintir mal utama di setiap kota besar di Indonesia.
“Biasanya di setiap kota besar hanya ada tiga sampai empat mal utama yang benar-benar menguasai pasar. Oleh karena itu, kami tetap percaya diri membangun proyek mal baru meskipun sedang pandemi atau terjadi perlambatan ekonomi,” jelas Anthony.
Keberanian ini didasari pada analisis bahwa pusat perbelanjaan yang dikelola dengan konsep yang tepat akan selalu relevan bagi konsumen. Hal inilah yang menjadi landasan INPP untuk terus melakukan ekspansi tanpa ragu-ragu di lokasi-lokasi baru.
Kekuatan Segmen Hotel Premium
Terkait sektor perhotelan, Anthony tidak menampik bahwa ada segmen tertentu yang mengalami dampak signifikan akibat perlambatan pasar. Ia mencatat bahwa hotel dengan kategori bintang tiga ke bawah merupakan kelompok yang paling terdampak oleh situasi ini.
Namun, kondisi berbeda dialami oleh portofolio hotel premium milik INPP yang justru menunjukkan kinerja yang sangat tangguh. Hotel kelas atas yang mereka miliki terbukti masih diminati oleh pasar meskipun kondisi ekonomi sedang tidak menentu.
“Hotel Hyatt kami bahkan mencatatkan pencapaian kinerja paling tinggi di antara yang lain. Dari total 13 hotel yang kami kelola, hanya dua unit yang berada di kelas bintang tiga, sehingga dampak perlambatan pasar relatif kecil bagi kami,” tambahnya.
Dengan komposisi portofolio yang lebih banyak menyasar kelas menengah ke atas, INPP merasa lebih aman dalam menghadapi gejolak ekonomi. Strategi fokus pada pasar premium ini terbukti menjadi tameng yang efektif bagi kelangsungan bisnis perseroan di masa depan.