Daftar Top Gainers & Losers Sepekan: Saham TPIA & WBSA Jeblok Paling Dalam di 2026

Daftar Top Gainers & Losers Sepekan: Saham TPIA & WBSA Jeblok Paling Dalam di 2026
Foto: Daftar Top Gainers & Losers Sepekan: Saham TPIA & WBSA Jeblok Paling Dalam di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pergerakan pasar modal Indonesia pada periode 18 hingga 22 Mei 2026 mencatatkan dinamika yang cukup kontras antara sejumlah emiten. Saham PT LCK Global Kedaton Tbk. (LCKM) berhasil memimpin penguatan, sementara PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) justru mencatat penurunan terdalam.

Kondisi pasar secara keseluruhan sedang berada dalam tekanan yang cukup signifikan sepanjang pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami pelemahan sebesar 8,35% atau merosot sebanyak 561,27 poin.

Penurunan ini membawa IHSG yang semula berada di level 6.723 kini bertengger di posisi 6.162. Volatilitas tinggi yang terjadi di lantai bursa dipengaruhi oleh berbagai faktor teknikal serta penyesuaian portofolio global.

Daftar Saham Paling Cuan di Pekan Ketiga Mei 2026

PT LCK Global Kedaton Tbk. (LCKM) menempati urutan teratas sebagai saham dengan pertumbuhan harga paling besar atau top gainer. Harga saham LCKM ditutup di level Rp141 pada akhir pekan ini.

Pencapaian tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 29,36% dibandingkan dengan harga pada pekan sebelumnya yang berada di level Rp109 per lembar. Performa ini menjadikan LCKM sebagai bintang di tengah lesunya indeks domestik.

Selain LCKM, terdapat beberapa emiten lain yang juga membukukan rapor hijau di tengah fluktuasi pasar. Berikut adalah daftar saham-saham yang masuk dalam jajaran penguatan tertinggi sepekan ini.

Daftar 10 saham dengan kenaikan harga tertinggi (Top Gainers) :

  • PT LCK Global Kedaton Tbk. (LCKM): Naik 29,36% ke harga Rp141.
  • PT Asiaplast Industries Tbk. (APLI): Naik 12,39% ke harga Rp254.
  • PT Dafam Property Indonesia Tbk. (DFAM): Naik 12,00% ke harga Rp140.
  • PT Unggul Indah Cahaya Tbk. (UNIC): Naik 11,03% ke harga Rp14.600.
  • PT Citra Tubindo Tbk. (CTBN): Naik 10,58% ke harga Rp5.750.
  • PT Tunas Alfin Tbk. (TALF): Naik 9,09% ke harga Rp780.
  • PT Gunung Raja Paksi Tbk. (GGRP): Naik 8,61% ke harga Rp328.
  • PT Cita Mineral Investindo Tbk. (CITA): Naik 8,60% ke harga Rp3.790.
  • PT Siloam International Hospitals Tbk. (SRAJ): Naik 7,69% ke harga Rp14.000.
  • PT Inter Delta Tbk. (INTD): Naik 7,50% ke harga Rp258.

Data di atas memperlihatkan bahwa meskipun indeks sedang tertekan, beberapa sektor tertentu masih mampu memberikan imbal hasil positif bagi para investor. Lonjakan pada saham-saham ini dipicu oleh sentimen masing-masing emiten serta aksi beli selektif.

Deretan Saham dengan Penurunan Terdalam

Berbanding terbalik dengan kelompok sebelumnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) harus rela berada di posisi puncak daftar top losers. Emiten yang terafiliasi dengan taipan Prajogo Pangestu ini mengalami koreksi harga yang sangat tajam.

Saham TPIA mengakhiri perdagangan pekan ini di level Rp2.000 per lembar saham. Angka tersebut mencerminkan kejatuhan sebesar 53,49% dari harga pekan sebelumnya yang masih berada di posisi Rp4.300.

Posisi kedua dihuni oleh PT BSA Logistic Indonesia Tbk. (WBSA) yang mencatat pelemahan harga sebesar 50,20%. Harga saham emiten yang baru saja melantai pada 10 Mei 2026 ini turun dari Rp1.265 menjadi Rp630.

Selanjutnya, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) juga mengalami tekanan jual yang cukup masif hingga terkoreksi 47,34%. Harga saham DSSA menyusut dari level Rp1.035 pada pekan lalu menjadi hanya Rp545 di akhir pekan ini.

Pelemahan signifikan juga dialami oleh saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN). Saham ini turun sebanyak 39,41% dari harga Rp850 menjadi Rp515 dalam kurun waktu satu pekan perdagangan.

Ringkasan pergerakan harga saham dengan koreksi terdalam (Top Losers) :

Kode Emiten Harga Akhir (Rp) Persentase Perubahan
TPIA 2.000 -53,49%
WBSA 630 -50,20%
DSSA 545 -47,34%
CUAN 515 -39,41%
NSSS 472 -38,30%
BANK 304 -37,45%
MGNA 88 -37,14%
RLCO 2.960 -34,22%
BUKK 735 -33,78%
YPAS 595 -32,39%

Tabel tersebut merangkum sepuluh emiten yang kinerjanya paling tertekan di Bursa Efek Indonesia sepanjang periode ini. Sebagian besar penurunan terjadi pada saham-saham yang sebelumnya sempat mengalami kenaikan cukup tinggi.

Analisis Penyebab Volatilitas Pasar

Menanggapi situasi pasar, Imam Gunadi selaku Equity Analyst dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memberikan penjelasannya. Ia menyebutkan bahwa volatilitas pasar di pekan ini memang tergolong sangat tinggi.

Salah satu momen krusial terjadi pada sesi closing auction yang sering dimanfaatkan untuk penyesuaian portofolio dana pasif global. Pelaku pasar saat ini tengah memantau proses implementasi rebalancing indeks MSCI yang akan efektif pada 29 Mei 2026.

Selain itu, sentimen global mengenai peluang Korea Selatan naik kelas menjadi Developed Market juga menjadi antisipasi investor. Jika hal ini terjadi, akan ada potensi aliran dana realokasi menuju pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Imam menegaskan bahwa tekanan yang terjadi saat ini lebih didorong oleh mekanisme teknikal dan rebalancing pasar global. Ia meyakini bahwa kondisi fundamental ekonomi nasional Indonesia sebenarnya masih berada dalam posisi yang sangat solid.

Hal ini diperkuat oleh data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I/2026 yang tumbuh stabil di level 5,61%. Angka tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian pasar keuangan dunia.

Meski fundamental kuat, investor tetap diminta waspada karena volatilitas diperkirakan masih akan bertahan hingga arus dana asing stabil. Kedisiplinan dalam mengelola risiko dan menjaga posisi trading menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi bursa saat ini.

Disclaimer: Seluruh informasi dalam artikel ini tidak dimaksudkan sebagai perintah atau ajakan untuk melakukan transaksi jual beli saham. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi pembaca, dan redaksi tidak bertanggung jawab atas potensi kerugian maupun keuntungan yang terjadi.

Artikel terkait

Rekomendasi