Daftar Saham Penekan IHSG Usai Rebalancing MSCI: Ada BMRI, BREN, dan TPIA

Daftar Saham Penekan IHSG Usai Rebalancing MSCI: Ada BMRI, BREN, dan TPIA
Foto: Ilustrasi Daftar Saham Penekan IHSG Usai Rebalancing MSCI: Ada BMRI, BREN, dan TPIA.
Ukuran teks

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami tren pelemahan yang cukup signifikan selama periode perdagangan singkat pada pekan ini. Penurunan performa indeks tersebut berlangsung dalam kurun waktu tiga hari perdagangan, mulai dari tanggal 11 hingga 13 Mei 2026.

Kondisi pasar modal yang lesu ini terjadi bersamaan dengan pengumuman rebalancing indeks MSCI yang memicu tekanan jual. Akibatnya, sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar atau big caps terpaksa terkoreksi dan menjadi beban utama bagi pergerakan indeks.

Daftar Saham Penekan Utama IHSG

Berdasarkan laporan statistik dari Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) muncul sebagai kontributor negatif terbesar. Harga saham bank pelat merah ini merosot hingga 9,29% dan memberikan tekanan sebesar 33,64 poin terhadap IHSG.

Tidak hanya sektor perbankan, saham di sektor energi terbarukan juga mengalami tekanan hebat yang berdampak langsung pada indeks. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) tercatat anjlok sebesar 21,95% selama periode perdagangan pekan ini.

Penurunan tajam pada saham BREN tersebut memberikan sumbangan negatif mencapai 33,20 poin terhadap pelemahan IHSG. Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) juga mengalami nasib serupa dengan koreksi harga sebesar 21,82%.

Pelemahan saham TPIA ini tercatat membebani pergerakan indeks secara keseluruhan dengan kontribusi negatif sebesar 24,81 poin. Selain tiga emiten besar tersebut, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) turut masuk dalam jajaran pemberat pasar atau top laggards.

Saham DSSA diketahui mengalami penyusutan nilai sebesar 20,99% yang setara dengan tekanan sebesar 24,25 poin bagi IHSG. Dari kelompok perbankan raksasa lainnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga terpantau bergerak di zona merah.

Harga saham BBRI turun sebesar 4,29% dan memberikan dampak negatif terhadap laju indeks sebesar 21,96 poin. Di sisi lain, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menunjukkan pelemahan yang lebih moderat dibandingkan rekan sejawatnya.

Meskipun koreksinya hanya terbatas di angka 1,21%, kapitalisasi pasar BBCA yang sangat besar tetap membebani IHSG hingga 7,03 poin. Penurunan juga merembet ke sektor pertambangan, di mana saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) melemah 12,11%.

Koreksi harga pada saham AMMN ini memberikan kontribusi negatif yang cukup signifikan, yakni mencapai 15,50 poin bagi indeks. Sementara itu, saham PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) turut memangkas kinerja indeks sebesar 11,21 poin setelah harganya turun 8,33%.

Tekanan jual yang masif juga terlihat pada saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang harganya ambles hingga 24,11%. Penurunan ini berdampak pada berkurangnya poin IHSG sebesar 10,80 poin selama pekan perdagangan tersebut berjalan.

Daftar pemberat indeks ditutup oleh saham PT Impack Pratama Industri Tbk. (IMPC) yang terkoreksi sebesar 11,11%. Pelemahan pada saham IMPC ini memberikan sumbangan negatif tambahan sebesar 7,87 poin terhadap total penurunan indeks nasional.

Berikut adalah rangkuman data 10 saham yang menjadi penekan utama (top laggards) IHSG selama sepekan:

Kode Saham Perubahan Harga (%) Kontribusi Poin IHSG
BMRI -9.29% -33.64
BREN -21.95% -33.20
TPIA -21.82% -24.81
DSSA -20.99% -24.25
BBRI -4.29% -21.96
AMMN -12.11% -15.50
MORA -8.33% -11.21
CUAN -24.11% -10.80
IMPC -11.11% -7.87
BBCA -1.21% -7.03

Tabel di atas merincikan bagaimana saham-saham berkapitalisasi besar mendominasi daftar pelemahan pasar modal Indonesia. Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh perubahan komposisi indeks global yang menjadi acuan banyak investor institusi mancanegara.

Dampak Rebalancing Indeks MSCI Mei 2026

Munculnya tekanan besar pada saham-saham kelas berat ini bertepatan dengan pengumuman tinjauan indeks MSCI atau MSCI May 2026 Index Review. Dalam pengumuman terbarunya, MSCI memutuskan untuk tidak menambah satu pun saham baru asal Indonesia ke dalam MSCI Global Standard Index.

Keputusan yang lebih mengejutkan bagi pasar adalah langkah MSCI menghapus enam emiten besar Indonesia sekaligus dari indeks bergengsi tersebut. Keenam saham yang terdepak adalah AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan juga emiten ritel AMRT.

Meskipun keluar dari indeks utama, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) masih dipertahankan dalam kategori yang berbeda. MSCI memutuskan untuk memasukkan kembali saham pengelola Alfamart tersebut ke dalam MSCI Small Cap Index.

Nasib kurang beruntung dialami oleh banyak emiten lainnya yang harus keluar dari kategori kapitalisasi kecil atau MSCI Small Cap Index. Tercatat ada 13 saham Indonesia yang dicoret dari daftar indeks saham berkapitalisasi kecil tersebut.

Beberapa nama besar yang keluar dari indeks kapitalisasi kecil ini meliputi saham ANTM, AALI, BANK, serta emiten properti BSDE. Selain itu, MSCI juga menghapus saham DSNG, SIDO, MIDI, dan MIKA dari keanggotaan indeks tersebut.

Daftar pencoretan ini berlanjut dengan keluarnya saham-saham lain seperti MSIN, TKIM, APIC, SSMS, serta emiten perkebunan TAPG. Perubahan drastis ini memicu penyesuaian portofolio besar-besaran oleh investor asing di pasar reguler.

Statistik Perdagangan Bursa Selama Sepekan

Kautsar Primadi Nurahmad, selaku Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia, menjelaskan bahwa IHSG ditutup melemah 3,53% dalam sepekan. Indeks kini bertengger di level 6.723,32, turun cukup dalam dibandingkan posisi 6.936,39 pada pekan sebelumnya.

Kondisi lesu ini juga berdampak pada nilai total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia yang mengalami penyusutan cukup tajam. Kapitalisasi pasar bursa turun 4,68%, menyisakan angka Rp11.825 triliun dari nilai sebelumnya yang mencapai Rp12.406 triliun.

Aktivitas perdagangan di lantai bursa pun terpantau mendingin dengan rata-rata volume transaksi harian yang anjlok hingga 22,01%. Jumlah saham yang diperdagangkan setiap harinya berkurang menjadi 35,76 miliar lembar dari rata-rata sebelumnya 45,86 miliar lembar.

Penurunan minat transaksi ini juga tercermin dalam nilai transaksi harian yang mengalami kontraksi sebesar 18,78% dibandingkan pekan lalu. Kautsar menyebutkan bahwa rata-rata nilai transaksi saat ini berada di angka Rp18,82 triliun per hari.

Angka tersebut menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari rata-rata transaksi harian pada pekan sebelumnya yang masih berada di level Rp23,05 triliun. Fenomena ini menggambarkan sikap hati-hati para pelaku pasar di tengah dinamika rebalancing indeks global.

Sentimen negatif dari MSCI ini diperkirakan akan terus membayangi pergerakan harga saham-saham terkait dalam jangka pendek. Investor kini mulai menantikan rilis kinerja keuangan kuartal kedua sebagai katalis baru untuk mendorong pemulihan indeks di masa mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi