BI Rate Naik Terbaru, Rupiah Menguat ke Rp17.600 per Dolar AS di 2026

BI Rate Naik Terbaru, Rupiah Menguat ke Rp17.600 per Dolar AS di 2026
Foto: BI Rate Naik Terbaru, Rupiah Menguat ke Rp17.600 per Dolar AS di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah menunjukkan tren positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Penguatan mata uang Garuda ini terjadi sesaat setelah Bank Indonesia (BI) resmi mengumumkan kenaikan suku bunga acuan terbarunya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv pukul 14.26 WIB, rupiah terpantau menguat sebesar 0,54 persen. Posisi nilai tukar saat ini berada di level Rp17.600 per dolar AS.

Respons Positif Rupiah Terhadap Kenaikan BI Rate

Kenaikan nilai tukar ini dipicu oleh keputusan Bank Indonesia yang mengerek suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps). Dengan langkah agresif tersebut, tingkat suku bunga kini berada di angka 5,25 persen.

Sebelum pengumuman resmi tersebut dirilis, rupiah sebenarnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan sejak siang hari. Pada pukul 14.00 WIB, posisi rupiah sempat berada di level Rp17.665 per dolar AS atau menguat sekitar 0,17 persen.

Kebijakan moneter ini menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar dan investor di tanah air. Pasalnya, rupiah terus berada di bawah tekanan sentimen negatif selama beberapa waktu terakhir.

Kondisi pagi ini pun sempat mengkhawatirkan karena rupiah dibuka melemah tipis pada perdagangan awal. Kala itu, rupiah berada di level Rp17.730 per dolar AS yang menandakan depresiasi sebesar 0,20 persen.

Penyesuaian Suku Bunga dan Stabilitas Ekonomi

Selain menaikkan BI Rate, bank sentral juga melakukan penyesuaian pada instrumen suku bunga lainnya. Penetapan suku bunga Deposit Facility kini berada di level 4,25 persen, sementara Lending Facility naik menjadi 6,25 persen.

Langkah berani ini sekaligus mengakhiri tren kebijakan BI yang telah menahan suku bunga selama delapan bulan berturut-turut. Bank Indonesia menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Upaya ini dilakukan guna merespons memburuknya kondisi geopolitik global akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Selain itu, kenaikan suku bunga bertujuan untuk menjaga target inflasi pada periode 2026-2027 tetap dalam rentang 2,5±1 persen.

Keputusan menaikkan bunga sebesar 50 bps ini tergolong sangat mengejutkan bagi banyak pihak. Sebab, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi mayoritas analis pasar sebelumnya.

Perbandingan Ekspektasi Pasar vs Realitas Kebijakan

Berikut adalah ringkasan perbedaan antara proyeksi lembaga keuangan dengan keputusan resmi Bank Indonesia :

Kategori Proyeksi Jumlah Lembaga Estimasi Tingkat Suku Bunga
Proyeksi Konsensus (Kenaikan 25 bps) 9 Lembaga 5,00%
Proyeksi Menahan Bunga 6 Lembaga 4,75%
Keputusan Resmi BI - 5,25%

Data di atas menunjukkan bahwa kebijakan Bank Indonesia jauh lebih agresif dibandingkan hasil jajak pendapat CNBC Indonesia. Sebagian besar dari 15 institusi yang berpartisipasi hanya memprediksi kenaikan kecil atau bahkan tidak ada perubahan sama sekali.

Keputusan ini diambil dengan penuh pertimbangan demi memitigasi risiko eksternal yang semakin dinamis. Dengan BI Rate di level 5,25 persen, pemerintah berharap daya tarik aset keuangan domestik tetap terjaga di mata investor asing.

Artikel terkait

Rekomendasi