Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa meskipun suku bunga acuan BI Rate meningkat sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%, bank-bank di Indonesia tetap dapat menjaga suku bunga kreditnya pada level rendah. Menurut Perry, kebijakan makroprudensial yang longgar menjadi insentif bagi bank agar aktif menyalurkan kredit mereka.
"Kami mendorong pertumbuhan kredit dengan kebijakan makroprudensial yang longgar. Ini memberikan insentif kepada bank untuk tetap menjaga suku bunga kredit tetap rendah," ujar Perry dalam konferensi pers pada Rabu (20/5/2026).
Salah satu kebijakan tersebut adalah pelonggaran Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM), yang efektif berlaku mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini meliputi perluasan cakupan dan kriteria surat berharga yang dapat digunakan bank untuk menghitung RIM.
Perry menjelaskan bahwa RIM diatur dalam kisaran 84%-94%, dan sekarang diperluas cakupannya. Dari sisi dana, selain dari dana pihak ketiga tradisional, kini bank dapat menerbitkan sekuritas, baik konvensional maupun syariah. Dari sisi penyaluran, selain kredit, bank juga dapat terlibat dalam pembelian surat berharga.
Selain itu, peningkatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) juga diperkenalkan. Insentif tambahan hingga 0,5% dari DPK akan diberikan kepada bank yang memenuhi nilai RIM yang ditetapkan oleh BI, yang akan efektif mulai 1 Agustus 2026.
Hingga awal Mei 2026, insentif KLM telah membantu bank mendapatkan Rp 424,7 triliun. Dana ini tersebar dalam lending channel sebesar Rp 361,0 triliun dan interest rate channel sebanyak Rp 63,7 triliun.
Alokasi dana berdasarkan kelompok bank melibatkan bank BUMN Rp 214,2 triliun, BUSN Rp 171,1 triliun, BPD Rp 30,6 triliun, dan KCBA Rp 8,2 triliun. Sektor prioritas meliputi Pertanian, Industri, Jasa Ekonomi Kreatif, Konstruksi, dan UMKM.
"KLM akan terus diperkuat untuk mendorong bank dalam hal pembiayaan, pendanaan, dan penetapan suku bunga yang selaras dengan kebijakan BI," jelas Perry.
Perry mencatat pertumbuhan kredit hingga April 2026 mencapai 9,98%, lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 9,49% (yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi dengan masing-masing meningkat 19,48% (yoy), 6,04% (yoy), dan 6,13% (yoy).
"Pertumbuhan kredit tahun 2026 diprediksi tetap pada kisaran 8-12%. Hal ini didukung oleh undisbursed loan sekitar Rp 2.551,42 triliun atau 22,57% dari plafon kredit, kapasitas pembiayaan bank, serta DPK yang tumbuh 11,39% (yoy) pada April 2026," ucap Perry.
Pada April 2026, suku bunga kredit tercatat 8,73% dengan suku bunga deposito 1 bulan di angka 4,16%. Perry mengatakan, efisiensi suku bunga masih dapat ditingkatkan.
"Ke depan, BI akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendukung penyaluran kredit perbankan," pungkas Perry.