Amerika Serikat memprediksi kesepakatan jangka panjang mengenai zona keamanan ekonomi dengan Filipina akan segera terwujud dalam waktu dekat.
Kabar ini disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Ekonomi, Jacob Helberg, dalam wawancara bersama Reuters pada Kamis (21/5/2026).
Kerja sama ini merupakan bagian dari perluasan aliansi rantai pasok teknologi yang dikenal dengan nama Pax Silica.
Inisiatif Pax Silica digagas oleh Washington guna menjamin keamanan pasokan teknologi strategis di tengah persaingan global yang kian memanas.
Helberg mengungkapkan optimismenya bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Filipina ini akan rampung lebih cepat dari yang diperkirakan.
Ia menyebutkan bahwa terdapat momentum besar yang mendorong percepatan kerja sama strategis antara kedua negara tersebut.
Perluasan Anggota Pax Silica
Filipina secara resmi telah bergabung menjadi bagian dari aliansi Pax Silica sejak bulan lalu.
Negara tetangga Indonesia ini menjadi anggota ke-13 dalam aliansi yang mencakup seluruh rantai pasok teknologi dari hulu hingga hilir.
Cakupan kerja sama ini meliputi penyediaan mineral penting, manufaktur tingkat lanjut, sistem komputasi, hingga pembangunan infrastruktur data.
Hingga saat ini, jumlah anggota Pax Silica telah berkembang pesat menjadi 15 negara dari awalnya hanya tujuh negara pendiri.
Helberg memperkirakan jumlah anggota akan terus bertambah menjadi 16 negara atau lebih pada akhir bulan depan.
Ia mengindikasikan bakal ada satu atau dua anggota baru yang akan bergabung dalam kurun waktu empat minggu ke depan.
Fokus Strategis pada Rantai Pasok Teknologi
Peluncuran Pax Silica merupakan bagian dari strategi besar Amerika Serikat untuk menekan ketergantungan pada China di sektor teknologi.
Kerangka kerja ini memfasilitasi negara-negara anggota untuk membangun rantai pasok yang terintegrasi dan aman dari sisi geopolitik.
Berdasarkan nota kesepahaman bulan lalu, AS dan Filipina memiliki tenggat waktu dua tahun untuk merumuskan detail zona keamanan ekonomi.
Kedua negara nantinya akan menetapkan sektor industri mana saja yang diprioritaskan untuk masuk ke dalam kawasan khusus tersebut.
Meskipun proses berjalan lancar, masih terdapat beberapa isu sensitif yang tengah dibahas secara mendalam dalam tahap negosiasi.
Laporan dari Bloomberg menyebutkan bahwa Filipina belum memberikan persetujuan terkait permintaan AS mengenai status kekebalan diplomatik di zona tersebut.
Pengembangan Kawasan Industri Baru
Jacob Helberg baru-baru ini meninjau lokasi yang diusulkan untuk kawasan industri tersebut di New Clark City, utara Manila.
Kawasan luas yang mencapai 1.620 hektar ini diproyeksikan menjadi pusat aktivitas ekonomi dan teknologi baru di Filipina.
Daftar perusahaan Amerika Serikat yang ikut serta dalam kunjungan ke New Clark City:
- 8VC (Perusahaan modal ventura)
- Agility Robotics (Pengembang robotika)
- Joby Aviation (Produsen pesawat listrik)
- Valar Atomics (Sektor energi nuklir)
Kehadiran perwakilan perusahaan papan atas ini menunjukkan keseriusan pihak swasta dalam mendukung inisiatif pemerintah Amerika Serikat di Filipina.
Selain perusahaan asal AS, Ketua Foxconn Young Liu juga terlihat dalam delegasi tersebut sebagaimana terpantau dari unggahan di media sosial.
Foxconn merupakan manufaktur elektronik kontrak terbesar di dunia yang selama ini menjadi mitra utama produksi perangkat Apple.
Minat sektor swasta terhadap proyek zona keamanan ekonomi ini dinilai sangat tinggi meskipun pembahasannya masih di tahap awal.
Helberg menegaskan banyak perusahaan lain yang tidak ikut berkunjung juga telah menyatakan ketertarikan mereka pada proyek strategis ini.