Pada 25 Mei 2026, Paus Leo XIV mengeluarkan sebuah dokumen penting berjudul 'Magnifica Humanitas'. Dokumen ini membahas persimpangan peradaban manusia di era Kecerdasan Buatan (AI), memberi pilihan antara membangun 'Menara Babel' atau 'Yerusalem'. Peringatan tersebut sangat relevan ketika dipahami dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini.
Di tengah maraknya transformasi digital dan Kurikulum Merdeka, serta integrasi AI dalam pembelajaran, sebuah pertanyaan penting muncul. Apakah teknologi ini memerdekakan guru dan siswa atau menciptakan bentuk perbudakan baru?
Dalam filsafat klasik, manusia berbeda dengan mesin karena memiliki nous atau mata batin. AI mampu memproses data dalam hitungan detik, namun tidak dapat merasakan kecemasan atau trauma seorang anak. Sementara itu, tren pendidikan kita sering terpaku pada ilusi optimasi. Pendidikan diukur dari seberapa rapi data pada aplikasi, kecepatan penyelesaian modul, dan efisiensi dalam birokrasi.
Saya pernah menulis tentang nasib Guru Honorer 2027 yang menghadapi paradoks ini. Di satu sisi, guru diminta menjadi pendidik dengan karakter humanis, sementara di sisi lain mereka terjebak dalam tugas administratif yang membuatnya hanya sebagai operator data. Hal ini sesuai dengan bahaya dominasi teknokratis yang digambarkan dalam Magnifica Humanitas, ketika efisiensi mengalahkan empati.
Pendidikan sejati bukanlah sekadar transfer informasi. AI seperti ChatGPT mampu menjelaskan suatu konsep secara komprehensif, tapi tidak bisa menggantikan proses Agape dalam pendidikan. Ini adalah tentang kasih dan kemanusiaan, seperti seorang guru yang selalu menyemangati siswanya setelah kegagalan. AI tidak mengenal belas kasihan, ia hanya mengandalkan probabilitas.
Ensiklik ini menyoroti bahwa kelemahan manusia bukanlah cacat yang harus dihapus oleh teknologi. Ketergantungan pada layar dan algoritma dapat mengikis 'ruh' pendidikan, menghasilkan generasi yang mungkin cerdas kognitif, tetapi tumpul secara sosial dan moral.
Apa artinya ini bagi kita? Bukan berarti kita harus anti-teknologi, namun menggunakannya sebagai alat, bukan tujuan. Kementerian Pendidikan perlu memanfaatkan AI agar dapat meringankan beban guru dari tugas administratif, sehingga mereka bisa fokus pada peran sebenarnya yaitu pembimbing karakter siswa.
Kurikulum kita harus beralih dari sekadar menuntaskan materi menuju kebijaksanaan yang lebih dalam. Siswa perlu diajarkan bagaimana mengajukan pertanyaan etis, membedakan kebenaran dari manipulasi, dan menggunakan teknologi untuk kebaikan bersama.
Pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar mengejar digitalisasi, namun memastikan pendidikan tetap menjadi ruang hangat yang memanusiakan. Pendidikan Indonesia harus menjadi 'Yerusalem', di mana teknologi tunduk pada martabat manusia dan keadilan bagi pendidik terus diperjuangkan. Sebab masa depan bangsa ditentukan bukan oleh kecanggihan algoritma, tetapi oleh kasih dan kebijaksanaan yang ditanamkan guru kepada murid-muridnya.
Dr Hendi adalah seorang pendidik dan Ketua Sekolah Tinggi Teologi Soteria. Artikel ini adalah opini pribadinya dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detikcom.