Masyarakat kelas menengah di Indonesia kini mulai beralih ke fitur "kantong" atau pemisahan pos keuangan pada layanan perbankan digital untuk menjaga stabilitas finansial. Langkah ini diambil sebagai strategi menghadapi tekanan biaya hidup yang tinggi sekaligus menjaga agar kondisi keuangan tetap sehat.
Inovasi teknologi di sektor perbankan tersebut terbukti efektif dalam melatih disiplin masyarakat saat mengelola pengeluaran harian mereka. Dengan pengontrolan arus kas yang lebih terukur, nasabah diharapkan bisa terhindar dari risiko jeratan utang konsumtif yang merugikan.
Peneliti dari Pusat Ekonomi Digital dan UMKM INDEF, Fadhila Maulida, menjelaskan bahwa peran bank digital saat ini adalah sebagai penggerak atau enabler. Ia menyebutkan bahwa kebiasaan lama memisahkan uang di amplop fisik kini telah bertransformasi ke dalam bentuk fitur digital yang lebih praktis.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah diskusi publik yang dikutip pada Jumat (22/5/2026). Inovasi ini mempermudah masyarakat dalam mengelola berbagai keperluan dalam satu platform perbankan yang terintegrasi.
Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi
Berdasarkan data dari Survei Katadata Middle Class Insight (KIMCI), tercatat sebanyak 51,8 persen kelompok kelas menengah sudah terbiasa memisahkan uang tagihan bulanan. Pemisahan ini dilakukan agar dana untuk kewajiban tetap aman dan tidak terpakai untuk keperluan sehari-hari.
Selain memisahkan pos pengeluaran, survei tersebut juga mengungkap bahwa 68 persen responden rutin merencanakan anggaran setiap bulannya. Sementara itu, sekitar 44,9 persen masyarakat di kelompok ini juga aktif mencatat setiap pengeluaran yang mereka lakukan.
Langkah-langkah preventif ini menjadi sangat penting mengingat adanya penurunan jumlah populasi kelas menengah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Data menunjukkan bahwa angka kelas menengah merosot dari 57,3 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,2 juta jiwa pada 2024.
Kondisi ini memaksa masyarakat untuk lebih cermat dalam mengatur prioritas keuangan mereka agar tidak turun kelas ke kelompok ekonomi yang lebih rendah. Oleh karena itu, adopsi teknologi perbankan menjadi salah satu kunci dalam manajemen risiko keuangan pribadi.
Popularitas Fitur Manajemen Keuangan Digital
Riset terpisah yang dilakukan oleh KIC terhadap hampir 2.000 responden di 10 kota besar menunjukkan hasil yang selaras. Sebanyak 86 persen masyarakat mengaku sudah sangat akrab dengan fitur kantong pengeluaran yang disediakan oleh berbagai bank.
Beberapa lembaga perbankan yang telah menyediakan fitur pemisahan dana ini di antaranya meliputi:
- Layanan perbankan digital dari Bank Jago.
- Fitur serupa yang diintegrasikan oleh BCA.
- Inovasi pengelolaan dana mandiri dari Bank Mandiri.
Kehadiran fitur ini memberikan kemudahan bagi nasabah untuk mengelola alokasi gaji atau pendapatan mereka secara otomatis. Hal ini membuat proses penganggaran menjadi lebih efisien dibandingkan metode manual yang memerlukan waktu lebih lama.
Fenomena ini memiliki akar psikologis yang cukup mendalam dalam budaya masyarakat Indonesia. Hasil riset menyebutkan bahwa 47,5 persen responden meniru kebiasaan ini dari cara orang tua mereka mengelola uang di masa lalu.
Dahulu, banyak orang tua yang menggunakan amplop fisik untuk membagi uang belanja, uang sekolah, hingga uang tabungan. Kini, tradisi tersebut tetap bertahan namun diimplementasikan melalui kecanggihan aplikasi perbankan modern di ponsel pintar.
Perubahan Lanskap Pengelolaan Keuangan
Direktur Program dan Kebijakan Center of Policy Studies, Piter Abdullah, menilai bahwa digitalisasi membawa perubahan besar bagi masyarakat. Proses pengelolaan uang kini jauh lebih fleksibel karena terintegrasi dengan ekosistem keuangan yang luas.
Nasabah sekarang dapat memiliki banyak pos pengeluaran atau "kantong" berbeda meskipun hanya menggunakan satu nomor rekening tunggal. Hal ini memberikan kebebasan bagi nasabah untuk mengatur dana mereka sesuai dengan kategori kebutuhan tanpa perlu membuka banyak akun bank.
Kemudahan lainnya adalah nasabah tidak perlu lagi mendatangi kantor cabang bank untuk mengurus pemisahan dana tersebut. Semua proses dapat dilakukan secara mandiri melalui aplikasi, yang mana sangat mendukung gaya hidup masyarakat modern yang serba cepat.
Berikut adalah ringkasan mengenai data perilaku finansial kelas menengah yang terangkum dalam laporan tersebut:
| Kategori Perilaku Keuangan | Persentase Keterlibatan |
|---|---|
| Perencanaan Anggaran Bulanan | 68% |
| Pemisahan Dana Tagihan & Harian | 51,8% |
| Pencatatan Pengeluaran Rutin | 44,9% |
| Familiaritas dengan Fitur Kantong | 86% |
Data di atas menggambarkan bahwa masyarakat kelas menengah semakin sadar akan pentingnya literasi keuangan dalam menjaga keberlangsungan ekonomi rumah tangga. Transformasi digital perbankan menjadi alat yang sangat krusial dalam mendukung kesadaran finansial tersebut di era saat ini.