Banyak orang mungkin tidak menyangka bahwa masalah lambung bisa berdampak hingga ke fungsi pendengaran. Namun, telinga yang berdenging ternyata menjadi salah satu indikator nyata saat seseorang mengalami kekambuhan penyakit asam lambung atau GERD.
Kondisi ini dipicu oleh naiknya cairan asam dari lambung yang mampu memengaruhi area telinga tengah. Hal inilah yang kemudian memicu munculnya tinnitus, yaitu sebuah sensasi suara berdenging yang sangat mengganggu kenyamanan.
Gastroesophageal reflux disease atau GERD sendiri merupakan gangguan pada sistem pencernaan di mana asam lambung kembali naik menuju kerongkongan. Penyakit ini umumnya ditandai dengan berbagai keluhan fisik yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Beberapa gejala yang sering dirasakan penderita meliputi sensasi dada yang terasa panas atau terbakar, serta munculnya rasa asam di area tenggorokan. Selain itu, penderita juga kerap mengalami suara serak, batuk yang tak kunjung sembuh, hingga kesulitan saat menelan makanan.
Bagaimana Asam Lambung Memicu Tinnitus?
Melansir laporan dari Medical News Today, terdapat dugaan kuat bahwa cairan asam lambung yang naik ke kerongkongan dapat merambat hingga ke area telinga tengah. Paparan cairan kimiawi yang bersifat asam ini berisiko merusak lapisan pelindung di dalam telinga.
Akibat dari paparan asam tersebut, seseorang bisa mulai mengalami gejala tinnitus yang cukup intens. Tinnitus digambarkan sebagai sensasi mendengar suara denging, desisan, dengungan, bahkan bunyi klik meskipun tidak ada sumber suara nyata dari lingkungan sekitar.
Gangguan pendengaran ini bisa terjadi pada salah satu telinga saja atau bahkan menyerang kedua belah telinga secara bersamaan. Sebuah penelitian pada tahun 2015 pernah mengamati fenomena ini dengan melibatkan sekitar 50 peserta yang memiliki gangguan pada saluran eustachius.
Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa GERD berpotensi memicu gejala yang berkaitan dengan laring atau bagian pangkal tenggorokan. Secara medis, kondisi yang disebabkan oleh naiknya asam lambung hingga ke tenggorokan ini dikenal dengan istilah refluks laringitis.
Para peneliti memberikan penjelasan bahwa keberadaan cairan lambung di wilayah laring dapat memicu berbagai masalah komplikasi pada indra pendengaran. Berikut adalah daftar potensi masalah kesehatan yang bisa muncul akibat kondisi tersebut:
- Ketidakseimbangan tekanan pada area telinga tengah.
- Terjadinya peradangan pada sinus atau sinusitis.
- Munculnya infeksi pada bagian dalam telinga.
- Penurunan fungsi pendengaran secara bertahap.
- Sensasi telinga berdenging atau tinnitus yang mengganggu.
Hubungan Erat Antara Saluran THT dan Lambung
Berdasarkan data medis, diperkirakan sekitar 4 hingga 10 persen pasien yang berkonsultasi ke dokter THT sebenarnya memiliki gejala yang berakar dari masalah GERD. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara pencernaan dan pendengaran jauh lebih erat dari yang diperkirakan.
Mengutip informasi dari laman Drugs, penelitian yang dilakukan oleh Hebei Chinese Medical University memperkuat temuan ini. Studi tersebut menyatakan bahwa efek samping dari GERD dapat memicu berbagai penyakit gangguan pendengaran yang cukup serius.
Beberapa kondisi medis yang disebutkan antara lain penyakit Meniere, disfungsi vestibular atau gangguan keseimbangan, hingga tinnitus kronis. Paparan asam lambung yang konsisten pada telinga tengah menjadi faktor risiko utama penurunan kualitas pendengaran seseorang.
Secara anatomi, organ telinga, hidung, dan tenggorokan memang saling terhubung melalui saluran-saluran tertentu di dalam kepala. Ketika asam lambung terus-menerus naik hingga mencapai kerongkongan, jaringan di sekitar saluran penghubung tersebut akan mengalami iritasi dan peradangan hebat.
Peradangan ini pada akhirnya akan mengganggu kinerja saluran eustachius, yaitu bagian tubuh yang bertugas menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga. Jika fungsi saluran ini terhambat, maka berbagai keluhan pada telinga akan mulai bermunculan secara tiba-tiba.
Seseorang yang mengalami gangguan pada saluran eustachius biasanya merasakan sensasi telinga yang penuh seolah tersumbat air. Selain itu, rasa nyeri, penurunan kemampuan mendengar, hingga denging yang tajam menjadi gejala yang paling sering dikeluhkan oleh pasien.
Gejala Pendukung dan Cara Mengatasinya
Munculnya telinga berdenging akibat GERD biasanya tidak terjadi secara mandiri, melainkan diikuti oleh serangkaian gejala khas lainnya. Penting bagi pasien untuk mengenali pola munculnya gejala ini agar dapat diberikan penanganan yang tepat oleh tenaga medis.
Kombinasi gejala yang biasanya menyertai tinnitus akibat masalah lambung antara lain sebagai berikut:
- Rasa panas seperti terbakar di area dada atau heartburn.
- Tenggorokan yang sering terasa pahit atau asam secara mendadak.
- Kondisi batuk kronis yang tidak kunjung reda dengan obat batuk biasa.
- Suara yang berubah menjadi serak atau parau.
- Adanya sensasi mengganjal di tenggorokan seolah ada makanan yang tertahan.
Pada beberapa kasus, penderita melaporkan bahwa tinnitus akan terasa lebih parah sesaat setelah mereka mengonsumsi makanan dalam porsi besar. Kebiasaan langsung berbaring atau tidur setelah makan juga diketahui menjadi pemicu utama munculnya denging pada telinga.
Karena akar permasalahannya berasal dari lambung, maka langkah pengobatan utama difokuskan pada pengendalian kadar asam dalam tubuh. Dokter biasanya akan meresepkan obat dari golongan proton pump inhibitor atau PPI, seperti omeprazole.
Obat PPI ini bekerja efektif dengan cara menekan produksi asam lambung berlebih guna meringankan gejala sakit maag dan refluks. Penggunaan obat ini secara teratur diharapkan dapat meminimalisir paparan cairan asam pada telinga tengah agar kerusakan pendengaran bisa dicegah.
Selain bergantung pada obat-obatan medis, perubahan gaya hidup menjadi kunci utama untuk sembuh dari gangguan pendengaran akibat GERD. Pasien disarankan untuk melakukan beberapa langkah modifikasi kebiasaan sehari-hari sebagai berikut:
| Aspek Gaya Hidup | Tindakan yang Disarankan |
|---|---|
| Kebiasaan Makan | Hindari langsung berbaring atau tidur minimal 2-3 jam setelah selesai makan. |
| Porsi Makanan | Makan dalam porsi kecil namun sering dibandingkan makan besar sekaligus. |
| Jenis Konsumsi | Batasi makanan pedas, berlemak tinggi, serta minuman yang mengandung kafein. |
| Kesehatan Umum | Menjaga berat badan ideal dan mengatur pola tidur agar lebih berkualitas. |
Langkah-langkah di atas sangat krusial untuk mencegah asam lambung naik kembali ke saluran pernapasan dan pendengaran. Dengan menjaga pola makan yang benar, tekanan pada katup kerongkongan dapat berkurang sehingga risiko tinnitus pun menurun.
Jika gangguan telinga berdenging terus berlanjut dalam waktu lama dan disertai gejala GERD yang semakin parah, sangat disarankan untuk segera menemui dokter. Pemeriksaan secara menyeluruh diperlukan untuk memastikan diagnosis dan mencegah terjadinya kerusakan pendengaran yang bersifat permanen.