Thailand Uji Coba Aplikasi Imigrasi Terbaru, Masuk Tanpa Ribet Mulai 2026

Thailand Uji Coba Aplikasi Imigrasi Terbaru, Masuk Tanpa Ribet Mulai 2026
Foto: Thailand Uji Coba Aplikasi Imigrasi Terbaru, Masuk Tanpa Ribet Mulai 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Biro Imigrasi Thailand kini tengah melakukan uji coba terhadap aplikasi seluler baru bernama THIM atau Thailand Immigration Management. Aplikasi ini dirancang khusus untuk mempermudah prosedur keimigrasian bagi turis asing saat tiba di Negeri Gajah Putih tersebut.

Rencananya, otoritas Thailand akan meluncurkan aplikasi ini secara penuh pada Agustus 2026 mendatang. Informasi mengenai pengembangan aplikasi ini pertama kali dipublikasikan pada Sabtu, 6 Juni 2026, di bawah pengawasan langsung komisaris Biro Imigrasi.

Langkah inovatif ini diambil untuk menyeimbangkan antara pengawasan keamanan nasional yang ketat dengan kemudahan layanan bagi warga negara asing. Semua pemegang jenis visa apa pun diharapkan dapat merasakan proses birokrasi yang jauh lebih nyaman.

Melansir laporan dari The Nation pada Selasa, 9 Juni 2026, aplikasi THIM memungkinkan pelancong mendaftarkan informasi kedatangan hanya dengan memotret paspor mereka. Sistem secara otomatis akan membaca dan merekam data pribadi pengguna dari foto tersebut.

Setelah itu, wisatawan perlu melengkapi Kartu Kedatangan Digital Thailand atau Thailand Digital Arrival Card (TDAC). Data yang harus diisi mencakup informasi tempat menginap, detail rencana perjalanan, hingga tujuan utama kunjungan mereka.

Biro Imigrasi mengklaim bahwa seluruh rangkaian proses masuk ke Thailand dapat diselesaikan hanya dalam waktu kurang dari tiga menit. Hal ini tentu menjadi lompatan besar dibandingkan prosedur manual yang sering kali memakan waktu lama.

Aplikasi ini juga menyediakan fitur khusus untuk perjalanan rombongan yang memungkinkan pengajuan data hingga 10 orang secara bersamaan. Melalui fitur ini, waktu pemrosesan dapat dipangkas menjadi rata-rata tiga menit saja untuk setiap orang dalam grup.

Sebelum adanya aplikasi ini, turis harus memasukkan data kartu kedatangan melalui situs web resmi yang dinilai memiliki performa lebih lambat. Kini, aplikasi THIM sudah tersedia dan bisa diunduh oleh pengguna perangkat berbasis iOS maupun Android.

Keamanan data pengguna menjadi prioritas utama dalam pengembangan platform digital ini:

  • Seluruh informasi wisatawan akan disimpan dalam sistem informasi imigrasi yang sangat aman.
  • Pengembangan sistem ini dilakukan melalui kolaborasi dengan perusahaan teknologi swasta internasional yang memiliki kredibilitas tinggi.
  • Standar keamanan siber yang diterapkan diklaim telah memenuhi protokol perlindungan data global.

Pihak berwenang memastikan bahwa pemilihan mitra teknologi dilakukan dengan sangat selektif demi menjaga integritas data nasional. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan wisatawan mancanegara yang akan menggunakan aplikasi tersebut.

Transformasi Menjadi Layanan Satu Atap

Biro Imigrasi memproyeksikan THIM tidak hanya sekadar alat untuk pendaftaran kedatangan, tetapi juga sebagai platform layanan terpadu. Kedepannya, aplikasi ini akan melayani wisatawan jangka pendek, pemegang visa jangka panjang, hingga warga asing yang sudah menetap.

Beberapa fitur canggih yang tengah disiapkan meliputi layanan permintaan dokumen sertifikasi identitas secara digital. Pengguna juga dapat mengirimkan berkas-berkas yang diperlukan kepada petugas imigrasi dari jarak jauh tanpa harus bertatap muka langsung.

Selain itu, sistem ini akan memungkinkan warga asing untuk menjadwalkan janji temu di kantor imigrasi secara lebih teratur. Inovasi ini diharapkan mampu mengurangi tumpukan antrean fisik di berbagai kantor imigrasi di seluruh penjuru Thailand.

Petugas nantinya dapat meninjau setiap permohonan melalui dashboard aplikasi secara real-time. Dengan demikian, pemohon tidak perlu lagi hadir secara fisik untuk urusan administratif yang bersifat rutin dan bisa dilakukan daring.

Biro Imigrasi menegaskan bahwa pengurangan kerumunan di kantor layanan tidak akan menurunkan kualitas pemeriksaan keamanan. Standar verifikasi tetap dijaga ketat sesuai dengan regulasi keimigrasian yang berlaku di negara tersebut.

Demi meningkatkan faktor keselamatan, aplikasi ini juga terhubung langsung dengan hotline Polisi Pariwisata yang siaga selama 24 jam. Wisatawan yang sudah terdaftar dapat dengan mudah meminta bantuan darurat hanya melalui satu ketukan di layar ponsel.

Saat ini, versi uji coba aplikasi THIM sudah mendukung empat bahasa internasional yaitu Inggris, Rusia, Jepang, dan China. Pihak pengembang menargetkan penambahan dukungan hingga 15 bahasa lainnya dalam waktu dekat agar lebih inklusif.

Meningkatkan Citra Pariwisata di Level Internasional

Pengembangan aplikasi ini merupakan bagian dari kebijakan strategis pemerintah untuk memperbaiki manajemen warga negara asing. Fokus utamanya adalah memperkuat kapasitas pengawasan terhadap masa tinggal turis agar tidak terjadi pelanggaran hukum.

Langkah ini juga diambil untuk mencegah warga asing menimbulkan masalah keamanan atau menjadi target kejahatan selama berada di Thailand. Biro Imigrasi ingin memastikan setiap tamu negara mendapatkan perlindungan yang maksimal selama masa kunjungannya.

Menurut laporan The Nation, aplikasi ini diharapkan menjadi solusi jitu atas masalah klasik seperti antrean panjang di bandara internasional. Citra pariwisata Thailand sempat terdampak akibat keluhan wisatawan mengenai sulitnya menghubungi petugas imigrasi saat dibutuhkan.

Wakil Komisaris Biro Imigrasi, Mayor Jenderal Polisi Pratchaya Prasansuk, menyatakan bahwa sistem saat ini harus melayani sekitar 30 juta turis per tahun. Angka kunjungan tersebut diprediksi akan terus tumbuh seiring pulihnya sektor pariwisata dunia.

Thailand berambisi untuk memposisikan dirinya sebagai pelopor dalam implementasi sistem imigrasi digital di kawasan Asia Tenggara. Digitalisasi layanan dianggap sebagai kunci utama dalam menghadapi lonjakan volume wisatawan di masa depan.

Di sisi lain, pemerintah setempat juga melakukan penyesuaian terhadap kebijakan bebas visa yang sebelumnya berlaku selama 60 hari. Kebijakan yang dirilis pada Juli 2024 tersebut kini direvisi demi menjaga stabilitas hukum dan sosial di dalam negeri.

Ketentuan Baru Mengenai Masa Tinggal Bebas Visa

Dalam aturan terbaru, durasi kebijakan bebas visa kini dipersingkat menjadi hanya 30 hari atau yang dikenal dengan kode P.30. Perubahan ini didasari oleh berbagai pertimbangan mengenai dampak sosial yang timbul selama skema sebelumnya dijalankan.

Berikut adalah poin-poin penting dalam perubahan aturan masuk ke Thailand bagi warga negara asing:

Kategori Kebijakan Durasi Masa Tinggal Ketentuan Tambahan
Bebas Visa P.30 30 Hari Berlaku untuk 54 negara, dapat diperpanjang 30 hari lagi.
Bebas Visa P.15 15 Hari Berlaku untuk Seychelles, Maladewa, dan Mauritius.
Batasan Tahunan Maksimal 2 Kali Kecuali untuk warga Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Kebijakan bebas visa 30 hari ini dikhususkan bagi mereka yang datang dengan tujuan wisata murni. Wisatawan tetap diperbolehkan mengajukan perpanjangan masa tinggal satu kali selama 30 hari berikutnya melalui prosedur resmi.

Penggunaan fasilitas bebas visa ini dibatasi maksimal dua kali dalam satu tahun kalender bagi sebagian besar negara. Namun, aturan pembatasan ini tidak berlaku bagi warga negara tetangga seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Pemerintah juga memperkenalkan kategori baru bernama P.15 yang memberikan izin tinggal selama 15 hari bagi negara-negara tertentu. Langkah-langkah ini diambil untuk tetap mendukung sektor ekonomi namun dengan pengawasan yang lebih terukur.

Thailand tetap berkomitmen untuk menjadi destinasi wisata utama di Asia yang terkenal dengan kuliner dan keindahan budayanya. Dengan perpaduan teknologi aplikasi THIM dan aturan visa yang baru, diharapkan ekosistem pariwisata mereka semakin modern dan aman.

Artikel terkait

Rekomendasi