PT Segar Kumala Indonesia Tbk. (BUAH), yang merupakan emiten distributor buah-buahan dan produk pangan segar, menetapkan target laba bersih yang ambisius sebesar Rp80 miliar untuk tahun 2026. Target tersebut sejalan dengan rencana strategis perusahaan untuk melakukan ekspansi dengan menambah dua cabang operasional baru guna memperluas jangkauan pasar.
Direktur Utama BUAH, Renny Lauren, menyampaikan bahwa pihaknya tetap menaruh optimisme tinggi terhadap prospek bisnis pangan segar di tanah air. Meskipun saat ini terdapat tantangan berupa fluktuasi daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global, permintaan pasar dinilai masih sangat potensial.
Sejauh ini, struktur pendapatan perusahaan sangat didominasi oleh penjualan buah apel dan pir. Kedua jenis produk tersebut memberikan kontribusi yang signifikan, yakni mencapai sekitar 30% dari total keseluruhan pendapatan perseroan.
Renny menjelaskan bahwa untuk mencapai target laba bersih sebesar Rp80 miliar pada tahun 2026, perusahaan memproyeksikan perolehan omzet hingga Rp3,2 triliun. Pernyataan ini disampaikan secara resmi dalam agenda paparan publik yang berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026.
Kinerja Keuangan dan Pertumbuhan Signifikan
Jika menilik ke belakang, performa keuangan BUAH sepanjang tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Perseroan berhasil membukukan pendapatan senilai Rp3,27 triliun, yang berarti melonjak 47,7% jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024 sebesar Rp2,21 triliun.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba bersih perusahaan pada tahun 2025 juga mengalami peningkatan drastis sebesar 42,8%. Laba yang berhasil dikantongi mencapai Rp50,4 miliar, naik dari posisi tahun sebelumnya yang berada di angka Rp35,3 miliar.
Tren positif ini terus berlanjut hingga memasuki periode awal tahun 2026 melalui laporan keuangan kuartal pertama. Pada kuartal I/2026, BUAH mencatatkan pendapatan sebesar Rp870,03 miliar, atau tumbuh 16,85% dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 sebesar Rp744,56 miliar.
Lonjakan paling mencolok terlihat pada sisi laba bersih kuartal I/2026 yang meroket hingga 213,47% secara tahunan. Perseroan berhasil mengamankan laba sebesar Rp11,62 miliar, jauh melampaui laba kuartal I/2025 yang hanya menyentuh Rp3,7 miliar.
Renny Lauren menegaskan bahwa hingga saat ini, pertumbuhan tahunan perseroan masih berada pada jalur yang tepat. Hal ini tercermin dari peningkatan angka penjualan serta margin laba bersih atau net profit margin (NPM) yang terus terjaga.
Ekspansi Cabang dan Alokasi Belanja Modal
Untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang, BUAH secara konsisten terus memperluas jaringan distribusinya, terutama di wilayah Indonesia Timur. Strategi ini dianggap krusial untuk memperkuat penetrasi produk pangan segar ke berbagai pelosok daerah.
Beberapa pencapaian dan rencana pengembangan lokasi distribusi yang telah dilakukan oleh BUAH antara lain:
- Pembukaan cabang baru di wilayah Jayapura dan Ternate yang telah sukses dilaksanakan pada tahun 2025 lalu.
- Penyelesaian pengembangan infrastruktur cabang baru di Lampung untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar Sumatra.
- Proses pembangunan kantor cabang distribusi baru di Gorontalo yang saat ini sedang berjalan dan masuk dalam rencana kerja tahun 2026.
Penambahan titik distribusi ini diharapkan dapat mempersingkat rantai pasokan dan menjaga kesegaran produk hingga ke tangan konsumen. Dengan kehadiran fisik di wilayah-wilayah strategis, biaya logistik diharapkan bisa lebih efisien dalam jangka panjang.
Dalam mendukung rencana ekspansi tersebut, manajemen BUAH telah mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp12 miliar untuk tahun 2026. Nilai alokasi anggaran ini masih serupa dengan jumlah belanja modal yang dikucurkan pada tahun sebelumnya.
Renny merinci bahwa dana capex tersebut akan diprioritaskan untuk memodernisasi fasilitas gudang penyimpanan yang ada. Selain itu, sebagian anggaran akan digunakan untuk menambah jumlah armada kendaraan pendingin guna menjamin kualitas rantai pasok.
Mitigasi Risiko Kurs dan Biaya Operasional
Sebagai perusahaan yang banyak melakukan impor, BUAH menghadapi tantangan utama berupa fluktuasi nilai tukar mata uang asing. Saat ini, diketahui bahwa sekitar 66% dari total produk yang didistribusikan oleh perseroan merupakan komoditas yang didatangkan dari China.
Guna meminimalkan dampak buruk dari ketidakstabilan kurs, perusahaan melakukan strategi diversifikasi mata uang dalam transaksi perdagangannya. Salah satu langkah konkretnya adalah mulai menggunakan mata uang Renminbi (RMB) untuk pembayaran kepada mitra di luar negeri.
Selain persoalan nilai tukar, manajemen juga memberikan perhatian khusus pada potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM dikhawatirkan dapat memicu pembengkakan biaya logistik yang berujung pada penurunan margin keuntungan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BUAH berupaya meningkatkan efisiensi operasional dengan menekan tingkat kerusakan produk selama proses pengiriman. Pengawasan ketat dilakukan terutama pada distribusi menuju Indonesia Timur yang memiliki durasi perjalanan lebih lama.
Ringkasan perbandingan kinerja keuangan PT Segar Kumala Indonesia Tbk. dapat dilihat pada tabel berikut:
| Indikator Keuangan | Tahun 2024 | Tahun 2025 | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Pendapatan Bersih | Rp2,21 Triliun | Rp3,27 Triliun | 47,7% |
| Laba Bersih | Rp35,3 Miliar | Rp50,4 Miliar | 42,8% |
| Target Laba (2026) | - | - | Rp80 Miliar |
Data di atas menunjukkan bahwa perseroan memiliki fundamental yang kuat untuk mengejar target pertumbuhan yang lebih tinggi di masa mendatang. Fokus pada modernisasi infrastruktur dan efisiensi rantai pasok menjadi kunci utama keberhasilan perusahaan.
Pembagian Dividen bagi Pemegang Saham
Kabar baik juga datang bagi para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar baru-baru ini. Perseroan secara resmi telah menyetujui pembagian dividen final dengan total nilai mencapai Rp25 miliar.
Nilai dividen final tersebut setara dengan Rp12,5 per lembar saham yang akan dibagikan kepada seluruh pemegang saham yang berhak. Keputusan ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam memberikan nilai tambah bagi para investornya.
Dengan adanya dividen final tersebut, total dividen untuk tahun buku 2025 secara keseluruhan terkumpul sebesar Rp50 miliar. Sebelumnya, BUAH sudah lebih dulu mencairkan dividen interim sebesar Rp25 miliar kepada para pemegang sahamnya.
Langkah pembagian dividen ini diambil setelah mempertimbangkan kecukupan arus kas dan kebutuhan dana untuk ekspansi di tahun berjalan. Manajemen meyakini bahwa keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pemberian imbal hasil kepada pemegang saham dapat terjaga dengan baik.