Surplus Neraca Dagang RI Menipis ke Level Terendah Sejak 2020, Ada Apa?

Surplus Neraca Dagang RI Menipis ke Level Terendah Sejak 2020, Ada Apa?
Foto: Surplus Neraca Dagang RI Menipis ke Level Terendah Sejak 2020, Ada Apa?. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan terbaru mengenai performa perdagangan internasional Indonesia untuk periode April 2026. Hasilnya, surplus neraca perdagangan Indonesia mengalami penyusutan yang cukup signifikan menjadi hanya US$90 juta.

Angka ini menunjukkan penurunan tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai US$200 juta. Realisasi tersebut juga meleset jauh dari proyeksi pasar yang awalnya memperkirakan surplus berada di angka US$1,5 miliar.

Pencapaian ini menjadi rekor terendah dalam kurun waktu enam tahun terakhir atau sejak April 2020 silam. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan aktivitas impor yang jauh melampaui pertumbuhan nilai ekspor nasional.

Analisis Pemicu Menipisnya Surplus Dagang

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa nilai impor pada April 2026 melonjak 22,49% secara tahunan. Nilai total belanja barang dari luar negeri tersebut menyentuh angka US$25,21 miliar.

Di sisi lain, performa ekspor Indonesia tercatat hanya tumbuh sebesar 21,98% dengan nilai total US$25,30 miliar. Kesenjangan pertumbuhan antara ekspor dan impor inilah yang membuat margin surplus menjadi sangat tipis.

Rincian kinerja ekspor dan impor Indonesia selama April 2026 berdasarkan kategori sektor:

  • Impor Migas: Mengalami lonjakan drastis sebesar 82,52% hingga mencapai angka US$4,60 miliar.
  • Impor Nonmigas: Mencatatkan kenaikan sebesar 14,11% dengan total nilai US$20,62 miliar.
  • Ekspor Nonmigas: Masih menunjukkan performa positif dengan kenaikan 23,36% menjadi US$24,15 miliar.
  • Ekspor Migas: Mengalami kontraksi sebesar 1,20% sehingga turun menjadi US$1,15 miliar.

Penurunan pada sektor ekspor migas dipengaruhi oleh berkurangnya pengiriman komoditas minyak mentah dan gas alam ke luar negeri. Sementara itu, impor migas yang membengkak menjadi beban utama dalam neraca perdagangan bulan ini.

Konsistensi Tren Surplus dalam Jangka Panjang

Meski angka surplus bulan April mengecil, Pudji Ismartini menekankan bahwa Indonesia masih berada dalam jalur perdagangan yang positif. Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Amerika Serikat (AS) tetap menjadi mitra dagang utama yang memberikan kontribusi besar bagi pundi-pundi devisa negara. Sepanjang Januari hingga April 2026, nilai perdagangan antara Indonesia dan AS telah mencapai US$5,76 miliar.

Berikut adalah ringkasan data neraca perdagangan Indonesia hingga periode April 2026:

Indikator Perdagangan Nilai / Capaian
Surplus Neraca Dagang April 2026 US$90 Juta
Total Surplus (Januari - April 2026) US$5,64 Miliar
Pertumbuhan Impor (YoY) 22,49%
Pertumbuhan Ekspor (YoY) 21,98%
Durasi Tren Surplus Beruntun 72 Bulan

Data di atas merangkum bagaimana kondisi perdagangan luar negeri Indonesia yang sedang menghadapi tekanan impor yang tinggi. Secara akumulatif sejak awal tahun, total surplus Indonesia saat ini berada di posisi US$5,64 miliar.

Pemerintah diharapkan terus memantau pergerakan harga komoditas global dan permintaan domestik untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan. Fokus pada penguatan ekspor nonmigas tetap menjadi kunci utama dalam mempertahankan tren positif di masa mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi