Keputusan Bank Indonesia untuk mengerek suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25% diprediksi akan memberikan tekanan pada sektor properti nasional. Kenaikan ini dikhawatirkan bakal memengaruhi sisi psikologis calon pembeli serta meningkatkan biaya Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Walaupun tantangan suku bunga semakin nyata, dua raksasa properti Indonesia, PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) dan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), tetap menunjukkan sikap optimis. Keduanya yakin dapat mempertahankan performa penjualan mereka sepanjang tahun 2026 ini.
Direktur BSDE, Hermawan Wijaya, memberikan pandangannya terkait dinamika kebijakan moneter ini terhadap perilaku pasar. Menurutnya, lonjakan suku bunga cenderung memengaruhi kecepatan masyarakat dalam mengambil keputusan untuk membeli hunian baru.
Hermawan menjelaskan bahwa secara umum, kenaikan suku bunga berdampak pada psikologis konsumen serta beban biaya pembiayaan melalui KPR. Dalam periode jangka pendek, hal ini bisa memperlambat proses transaksi, terutama pada segmen pasar yang sangat peka terhadap besaran cicilan bulanan.
Strategi dan Optimisme BSDE Menghadapi Tekanan
Meski dihantui suku bunga tinggi, Hermawan menilai fundamental BSDE masih sangat solid untuk melewati masa sulit ini. Kekuatan perseroan terletak pada cadangan lahan (landbank) yang luas, portofolio produk yang variatif, serta kondisi finansial yang terjaga dengan baik.
Selain itu, pengembangan kawasan terpadu yang dilakukan secara berkelanjutan menjadi nilai tambah bagi konsumen. Saat ini, manajemen BSDE tengah mencermati sejauh mana dampak suku bunga ini akan memengaruhi target prapenjualan atau marketing sales tahunan.
Berdasarkan data hingga kuartal I/2026, BSDE telah berhasil mengantongi marketing sales sebesar Rp2,54 triliun. Angka tersebut mencerminkan pencapaian sekitar 25% dari total target yang ditetapkan untuk sepanjang tahun ini.
Pihak manajemen menyatakan akan terus memantau pergerakan pasar dan suku bunga secara intensif. Sejauh ini permintaan pasar diklaim tetap stabil, meski ada antisipasi penyesuaian laju penjualan jika tren suku bunga tinggi bertahan dalam waktu lama.
Fakta menarik lainnya adalah mayoritas konsumen hunian di BSDE masih sangat bergantung pada fasilitas pembiayaan dari bank. Secara historis, tercatat sekitar 90% dari total transaksi penjualan rumah di BSDE dilakukan melalui skema KPR.
Ketergantungan yang tinggi pada KPR menjadikan suku bunga sebagai variabel krusial yang menentukan daya beli masyarakat. Untuk menjaga ritme penjualan di kuartal II/2026, BSDE telah menyiapkan langkah-langkah adaptif dan strategis.
Langkah strategis yang disiapkan BSDE antara lain:
- Menjalankan program pemasaran nasional secara hati-hati dengan fokus pada produk yang memiliki permintaan pasar yang kuat.
- Memperkuat sinergi dengan berbagai institusi perbankan untuk menciptakan program pembiayaan yang lebih kompetitif dan menarik.
- Menyediakan opsi hunian yang lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial pasar saat ini.
Strategi kolaborasi dengan perbankan dianggap sebagai kunci utama dalam menghadapi dinamika pasar saat ini. Hal ini dilakukan agar konsumen tetap memiliki akses pembiayaan yang terjangkau meskipun suku bunga acuan sedang meningkat.
Pandangan Ciputra Development (CTRA) Terkait Perlambatan Pasar
Senada dengan BSDE, Direktur CTRA Harun Hajadi mengakui bahwa industri properti saat ini memang sedang memasuki fase perlambatan. Kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin diprediksi akan memberikan dampak langsung jika diikuti oleh kenaikan bunga KPR bank.
Harun menjelaskan bahwa saat ini siklus properti sedang berada di titik bawah sehingga kondisi pasar terasa lebih lambat. Ia menilai kemungkinan besar perbankan akan menyesuaikan bunga KPR, meski besaran kenaikannya masih belum bisa dipastikan secara pasti.
Sama seperti pengembang lainnya, sebagian besar pembeli rumah di proyek-proyek Ciputra juga mengandalkan KPR sebagai instrumen pembayaran. Hal ini membuat minat beli masyarakat menjadi sangat sensitif terhadap setiap pergerakan suku bunga perbankan.
Lebih lanjut, Harun berpendapat bahwa minat masyarakat terhadap properti cenderung menurun karena pertumbuhan ekonomi yang belum terlalu kuat. Kondisi ekonomi yang menantang membuat calon pembeli lebih waspada dalam mengambil komitmen keuangan jangka panjang.
Hingga akhir kuartal I/2026, CTRA melaporkan raihan marketing sales sebesar Rp2,4 triliun kepada publik. Pencapaian ini sudah memenuhi sekitar 26% dari target penjualan yang dicanangkan perusahaan untuk tahun ini.
Analisis Maybank Sekuritas dan Rekomendasi Saham
Analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim, menyatakan bahwa kenaikan BI Rate memang berpotensi memicu lonjakan bunga mortgage. Kondisi tersebut dipandang dapat memberikan dampak negatif terhadap capaian marketing sales para emiten properti di bursa.
Namun, Kevin juga menekankan bahwa langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga sangat penting untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Rupiah yang lemah justru bisa merugikan pengembang karena memicu kenaikan harga material bangunan dan biaya konstruksi.
Secara umum, ia memprediksi marketing sales emiten properti hanya akan tumbuh moderat sekitar 1,5% tahun ini. Angka ini merupakan perbaikan kecil setelah sebelumnya sektor ini sempat mengalami penurunan penjualan sebesar 7% pada tahun lalu.
Berikut adalah ringkasan target harga saham emiten properti menurut analisis Maybank Sekuritas:
| Emiten Properti | Rekomendasi | Target Harga (Rp) |
|---|---|---|
| Bumi Serpong Damai (BSDE) | Beli (Buy) | 1.050 |
| Ciputra Development (CTRA) | Beli (Buy) | 1.150 |
| Pakuwon Jati (PWON) | Beli (Buy) | 580 |
| Summarecon Agung (SMRA) | Beli (Buy) | 520 |
Tabel di atas menyajikan rekomendasi investasi bagi para pelaku pasar modal yang ingin melirik sektor properti di tengah tekanan suku bunga. Meskipun tantangan pasar cukup berat, analis melihat masih ada potensi pertumbuhan jangka panjang pada saham-saham tersebut.
Penting untuk diingat bahwa keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya berada di tangan investor masing-masing. Informasi mengenai target harga ini bersifat proyeksi analis dan bukan merupakan ajakan mutlak untuk bertransaksi di pasar modal.
Sektor properti nasional kini tengah diuji oleh ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan moneter domestik yang ketat. Kinerja BSDE dan CTRA di kuartal berikutnya akan menjadi indikator penting bagi kesehatan industri real estat di tanah air sepanjang sisa tahun 2026.