Bank Indonesia terus berupaya menjaga kestabilan harga pangan nasional melalui pengawasan ketat dari proses produksi di ladang hingga sampai ke tangan konsumen. Langkah strategis ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari petani organik hingga peternak inovatif di Jawa Timur.
Salah satu sosok inspiratif adalah Slamet, seorang petani di kaki Gunung Penanggungan, Mojokerto, yang telah menekuni pertanian organik sejak tahun 2007. Di saat petani lain bergantung pada bahan kimia untuk mempercepat hasil panen, Slamet justru memilih metode alami yang ia anggap lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Menurut inisiator Komunitas Organik Brenjonk ini, sistem pertanian konvensional selama puluhan tahun telah merusak keseimbangan mikroba di dalam tanah. Sebaliknya, sistem organik justru memperkaya biota tanah sehingga cacing-cacing tanah dapat berkembang biak dengan baik sebagai pekerja alami yang membantu kesuburan lahan tanpa perlu digaji.
Bergeser ke Kabupaten Lamongan, seorang peternak muda bernama Tomi Distianto juga menunjukkan inovasi luar biasa melalui koperasi peternakannya. Ia mendirikan Bank Limbah Ternak Koperasi Sumbersari (LITERASI) yang memungkinkan warga menyetorkan kotoran hewan untuk ditukar dengan keuntungan ekonomi yang nyata.
Sementara itu di Kabupaten Nganjuk, Bambang Soeparno selaku pembina Gapoktan Karya Abadi berdedikasi menjaga kualitas benih bawang merah varietas Tajuk. Berkat upaya Bambang dan ribuan petani di bawah naungannya, Nganjuk kini mampu memasok hampir 50 persen kebutuhan benih bawang merah di seluruh Indonesia.
Ketiga kisah inspiratif dari Jawa Timur ini merupakan gambaran nyata dari upaya Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID). Melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) 2026, mereka membuktikan bahwa stabilitas harga pangan harus dimulai dari hulu agar inflasi tetap terkendali.
Transformasi Pengendalian Inflasi Melalui GPIPS 2026
Bank Indonesia secara resmi telah meluncurkan GPIPS Wilayah Jawa pada 13 Mei 2026 yang bertempat di Gudang Bulog, Sidoarjo. Program ini merupakan bentuk penyempurnaan dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang sudah berjalan sebelumnya.
Aida S. Budiman, Deputi Gubernur Bank Indonesia, menjelaskan bahwa GPIPS bukan sekadar berganti nama, melainkan memiliki fokus yang lebih luas. Pengendalian inflasi kini tidak hanya soal harga jangka pendek, tetapi juga mencakup penguatan produksi, pengelolaan pascapanen, serta kelancaran distribusi demi ketahanan pangan nasional.
Terdapat tujuh program utama yang menjadi fondasi penggerak Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) :
- Optimalisasi Good Agricultural Practices (GAP) untuk meningkatkan produktivitas lahan.
- Penguatan hilirisasi produk dan peran kelembagaan petani sebagai penyerap hasil panen (offtaker).
- Memperluas Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk memenuhi kebutuhan pangan lintas wilayah.
- Pemberian fasilitas distribusi pangan guna menekan biaya logistik.
- Pelaksanaan operasi pasar secara rutin untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
- Penguatan data neraca pangan agar ketersediaan stok dapat terpantau secara akurat.
- Komunikasi yang efektif kepada publik untuk mengendalikan ekspektasi terhadap inflasi.
Program ini memberikan prioritas khusus pada tiga komoditas utama yang sering memicu gejolak harga, yaitu beras, cabai, dan bawang merah. Berbagai klaster binaan Bank Indonesia di Jawa Timur pun menjadi garda terdepan dalam menyukseskan visi kedaulatan pangan ini.
Nganjuk Sebagai Penyangga Benih Bawang Merah Nasional
Meskipun jarang muncul dalam berita ekonomi utama, Kabupaten Nganjuk memiliki peran krusial dalam menjaga pasokan bawang merah di tanah air. Area lahan bawang merah di wilayah ini mencapai hampir 20 ribu hektare setiap tahunnya dengan produktivitas yang cukup tinggi.
Bambang Soeparno mengungkapkan bahwa sekitar 15 ton bawang merah dihasilkan dari setiap hektare lahan di Nganjuk. Namun, hampir separuh dari total produksi tersebut dialokasikan sebagai benih yang nantinya akan dikirim ke berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai potensi bawang merah di Kabupaten Nganjuk :
- Nganjuk menjadi pemimpin pasar nasional khusus untuk penyediaan benih bawang merah berkualitas.
- Varietas Tajuk asli Nganjuk memiliki keunggulan adaptasi yang sangat baik di berbagai wilayah Indonesia.
- Gapoktan Karya Abadi telah menjadi mitra binaan Bank Indonesia sejak tahun 2015 untuk meningkatkan kapasitas usaha.
- Penggunaan teknologi pompa listrik submersible kini mampu mengairi lahan hingga 5 hektare per unit.
Sebelum adanya modernisasi teknologi, petani hanya mengandalkan pompa diesel konvensional yang kapasitasnya sangat terbatas. Berkat bantuan teknologi dari Bank Indonesia, efisiensi penyiraman lahan meningkat hingga sepuluh kali lipat dibandingkan metode lama.
Selain fokus pada budidaya, aspek hilirisasi juga mulai digarap oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Mojorembun. Dipimpin oleh Artika Widyastuti, para anggota KWT ini mendapatkan pelatihan langsung dari Bank Indonesia pada tahun 2023 untuk mengolah bawang merah menjadi produk bernilai tambah.
Saat ini, mereka telah memproduksi beragam produk olahan seperti bawang krispi, sambal bawang, hingga produk inovatif berupa pasta bawang merah. Produk-produk ini dipasarkan secara daring dan telah menjangkau pembeli dari berbagai daerah di Indonesia dengan harga yang kompetitif.
Inovasi produk olahan ini menjadi penyelamat bagi pendapatan petani ketika harga bawang merah mentah jatuh di pasaran. Dengan mengubah hasil panen menjadi produk jadi, nilai ekonomi bawang merah tetap terjaga meskipun pasokan di pasar sedang melimpah.
Namun, Bambang tetap menyuarakan aspirasi petani mengenai perlunya penetapan ambang batas harga oleh pemerintah. Ia berharap ada perlindungan harga minimal, misalnya Rp 15.000 di musim kemarau, agar petani tidak mengalami kerugian besar saat panen raya tiba.
Ekosistem Peternakan Modern di Lamongan
Di Desa Sumbersari, Lamongan, Tomi Distianto berhasil membangun ekosistem peternakan yang mandiri dan saling terintegrasi. Melalui Koperasi Tani Ternak Literasi Sumbersari, ia mengelola ratusan ekor ternak yang terdiri dari sapi potong, kambing, dan domba.
Koperasi ini tidak hanya berfokus pada penjualan hewan ternak, tetapi juga memaksimalkan pengolahan limbah. Kehadiran Bank LITERASI menjadi jawaban atas masalah polusi lingkungan akibat kotoran ternak yang sebelumnya sering dibuang sembarangan oleh warga.
Kotoran yang dikumpulkan dari para nasabah kemudian diolah menjadi pupuk organik bermerek LITERASI yang pasarnya sudah merambah ke tujuh kabupaten. Selain pupuk, koperasi juga memiliki unit usaha lain seperti warung sate, layanan katering, hingga pusat edukasi bagi pelajar dan mahasiswa.
Ringkasan operasional dan manfaat ekonomi Koperasi Literasi Sumbersari adalah sebagai berikut :
| Aspek Operasional | Detail Informasi |
|---|---|
| Total Populasi Ternak | 235 ekor (Sapi, Kambing, dan Domba) |
| Model Bisnis Utama | Penjualan ternak, Pupuk Organik, dan Kuliner |
| Sistem Bagi Hasil | 60% untuk Anggota dan 40% untuk Koperasi |
| Estimasi Omzet | Di atas Rp 50 Juta per Bulan |
Sistem bagi hasil yang diterapkan sangat menguntungkan peternak kecil karena seluruh biaya operasional ditanggung oleh pihak koperasi. Bank Indonesia mulai memberikan pembinaan intensif sejak tahun 2025 yang membawa koperasi ini meraih berbagai penghargaan di tingkat nasional.
Dukungan Bank Indonesia juga mencakup penyediaan fasilitas operasional dan kendaraan untuk mendukung mobilitas usaha. Meskipun telah berkembang pesat, Tomi tetap berharap adanya kemudahan akses permodalan dengan bunga rendah guna menjaga kelancaran arus kas dalam pemenuhan stok ternak harian.
Pertanian Organik Brenjonk dan Akses Pasar Premium
Di kaki gunung wilayah Mojokerto, Komunitas Organik Brenjonk terus konsisten mengampanyekan gaya hidup sehat melalui pertanian ramah lingkungan. Anggota komunitas ini mayoritas adalah ibu rumah tangga yang kini mengelola lahan organik seluas 146 hektare untuk menghasilkan beragam komoditas unggulan.
Slamet menjelaskan bahwa Brenjonk memproduksi sekitar 45 jenis produk, mulai dari aneka varietas beras hingga sayuran dan buah-buahan. Semua produk tersebut secara rutin dikirim ke pasar modern di Surabaya dan Mojokerto untuk memenuhi permintaan konsumen kelas atas.
Salah satu pencapaian terbesar komunitas ini adalah keberhasilan mereka menembus pasar ritel modern berkat sertifikasi organik SNI. Dengan sertifikat tersebut, petani kecil anggota Brenjonk memiliki kesempatan yang sama untuk menjual produk mereka dengan harga premium di rak supermarket.
Harga beras organik yang mereka produksi jauh lebih tinggi dibandingkan beras konvensional, namun hal ini dinilai sebanding dengan kualitas dan biaya produksinya. Sebagai contoh, beras hitam organik dapat dihargai hingga Rp 30.000 per kilogram, yang memberikan keuntungan lebih layak bagi para petani lokal.
Seluruh inisiatif yang dilakukan di Nganjuk, Lamongan, dan Mojokerto menunjukkan bahwa sinergi antara petani dan institusi seperti Bank Indonesia sangat vital. Dengan pengawalan yang tepat dari hulu ke hilir, ketersediaan pangan dan stabilitas harga bukan lagi sekadar impian bagi masyarakat Indonesia.