SKK Migas Proyeksi Lifting Minyak 2026 Tembus 610 Ribu BPH, Ini Strategi Terbarunya

SKK Migas Proyeksi Lifting Minyak 2026 Tembus 610 Ribu BPH, Ini Strategi Terbarunya
Foto: SKK Migas Proyeksi Lifting Minyak 2026 Tembus 610 Ribu BPH, Ini Strategi Terbarunya. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) optimis terhadap capaian produksi minyak nasional. Pihaknya memperkirakan realisasi lifting minyak bumi pada akhir tahun 2026 akan berada di rentang 600 ribu hingga 610 ribu barel per hari (bph).

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa hingga akhir Mei 2026, realisasi lifting minyak, kondensat, dan NGL tercatat sebesar 576,2 ribu bph. Angka tersebut mencakup produksi minyak murni sebanyak 491,3 ribu bph, kondensat 55,8 ribu bph, dan NGL sebesar 29,1 ribu bph.

Djoko menjelaskan bahwa meski saat ini realisasi berada di angka 576 ribu bopd, tren produksi akan terus meningkat hingga akhir tahun. Untuk tahun 2027 mendatang, SKK Migas memproyeksikan angka yang lebih tinggi yakni di kisaran 602 ribu sampai 615 ribu bopd.

Rincian realisasi dan target produksi migas nasional selama tahun 2026:

  • Lifting Minyak, Kondensat, dan NGL: 576,2 ribu barel per hari (per Mei 2026).
  • Produksi Gas Bumi: 6.550 MMSCFD (juta standar kaki kubik per hari).
  • Realisasi Salur Gas: 5.207 MMSCFD atau mencapai 94,5% dari target APBN.
  • Outlook Produksi Gas Akhir Tahun: 6.787 MMSCFD dengan penyaluran 5.400 MMSCFD.

Pencapaian salur gas yang sudah mendekati 95 persen menunjukkan kinerja yang stabil di sektor gas bumi. SKK Migas pun terus memantau dinamika harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang diperkirakan berada di level US$86 per barel tahun ini.

Faktor Kendala Operasional di Awal Tahun

Rendahnya angka produksi pada kuartal pertama tahun 2026 disebabkan oleh serangkaian kendala teknis di lapangan. Salah satu pemicu utamanya adalah kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang berdampak pada operasional tujuh KKKS di Terminal Dumai.

Setelah masalah pipa teratasi, gangguan kembali muncul pada kuartal kedua yang sempat menghambat laju produksi nasional. Kendala kali ini berupa masalah pada sistem kelistrikan di wilayah kerja strategis PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Selain masalah listrik, penurunan produksi secara alami juga terjadi di Lapangan Banyu Urip. Padahal, Blok Rokan dan Blok Cepu merupakan dua tulang punggung utama yang memberikan kontribusi terbesar bagi produksi migas Indonesia.

Perbandingan proyeksi indikator hulu migas tahun 2026 dan 2027:

Indikator Capaian Proyeksi 2026 Proyeksi 2027
Lifting Minyak (bopd) 600.000 – 610.000 602.000 – 615.000
Harga Minyak (ICP) US$ 86 per barel US$ 80 per barel
Salur Gas (MMSCFD) 5.400 (Outlook) Akan Ditetapkan

Data tersebut menggambarkan upaya SKK Migas dalam menjaga stabilitas energi nasional di tengah tantangan teknis. Meskipun harga ICP diperkirakan menurun pada tahun 2027, target lifting minyak justru dipatok lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

SKK Migas berkomitmen untuk segera menyelesaikan kendala operasional yang terjadi di lapangan. Mitigasi terus dilakukan agar gangguan listrik maupun penurunan produksi di blok-blok besar tidak menghambat target akhir tahun.

Artikel terkait

Rekomendasi