Skandal Riset Palsu Seret Alumni, ITB Rilis Pernyataan Resmi Terbaru 2026

Skandal Riset Palsu Seret Alumni, ITB Rilis Pernyataan Resmi Terbaru 2026
Foto: Skandal Riset Palsu Seret Alumni, ITB Rilis Pernyataan Resmi Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pihak Institut Teknologi Bandung (ITB) akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait dugaan keterlibatan salah satu alumninya dalam skandal riset palsu di tingkat internasional. ITB menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh oknum tersebut sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi.

Kasus ini menjadi sorotan setelah adanya laporan mengenai dugaan penelitian fiktif yang dipresentasikan dalam sebuah forum ilmiah bergengsi di luar negeri. Pihak kampus memastikan bahwa institusi tidak memiliki keterkaitan dengan aktivitas ilegal tersebut.

Kronologi Munculnya Dugaan Skandal Riset Palsu

Dugaan riset palsu ini melibatkan beberapa nama ilmuwan asal Indonesia dalam sebuah konferensi internasional yang diadakan di Kopenhagen, Denmark. Salah satu nama yang mencuat dan menjadi perbincangan adalah Prihantini, yang diketahui memiliki latar belakang pendidikan di ITB.

Acara yang menjadi panggung skandal ini adalah konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) yang berlangsung pada 17 hingga 21 Mei 2026. Selain Prihantini, terdapat tiga nama lain yang diduga ikut terlibat dalam praktik tidak terpuji tersebut.

Daftar individu yang diduga terlibat dalam penelitian palsu tersebut antara lain:

  • Prihantini
  • Rifaldy Fajar
  • Rini Winarti
  • Riana Dwi Kurniawati

Keempat nama tersebut menjadi bagian dari kelompok yang menyertakan penelitian mereka dalam ajang ilmiah internasional di Denmark. Namun, hasil temuan di lapangan menunjukkan adanya ketidakkonsistenan yang serius dalam materi yang mereka sajikan.

Status Akademik dan Pernyataan Resmi FMIPA ITB

Pihak Institut Teknologi Bandung mengonfirmasi bahwa Prihantini memang merupakan salah satu lulusan dari institusi pendidikan tersebut. Ia tercatat sebagai alumni Program Magister Matematika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB.

Prihantini merupakan mahasiswa angkatan 2020 yang telah menyelesaikan studinya dan lulus dari ITB pada tahun 2022. Meskipun berstatus alumni, pihak kampus menekankan adanya perbedaan besar antara studinya di ITB dengan riset yang dipermasalahkan.

Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, memberikan klarifikasi mendalam terkait posisi akademik Prihantini selama menempuh pendidikan di Bandung. Ia menjelaskan bahwa materi presentasi di Kopenhagen sama sekali tidak berhubungan dengan tesis akademik sang alumni.

Sebagai perbandingan untuk memperjelas konteks, ITB memaparkan rincian mengenai pendidikan terakhir Prihantini di fakultas tersebut. Berikut adalah data mengenai latar belakang akademik Prihantini saat masih menjadi mahasiswa magister di ITB.

Informasi Mengenai Tugas Akhir Alumni yang Bersangkutan:

Kategori Informasi Detail Akademik
Nama Alumni Prihantini
Program Studi Magister Matematika FMIPA ITB
Tahun Lulus 2022
Judul Tesis Asli Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring
Keterkaitan Riset Tidak berhubungan dengan skandal ISPPD 2026

Berdasarkan data di atas, terlihat jelas bahwa fokus penelitian Prihantini di ITB berkaitan dengan pemodelan matematika gelombang air. Hal ini sangat jauh berbeda dengan topik yang diangkat pada konferensi kesehatan internasional di Denmark tersebut.

Tegasan Sikap ITB Terhadap Etika Ilmiah

ITB kembali menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Prihantini merupakan tindakan individu yang dilakukan di luar sepengetahuan maupun pengawasan institusi. Pihak universitas tidak bertanggung jawab atas aktivitas alumninya setelah masa studi berakhir.

Aep Patah juga menyatakan bahwa ITB menghargai segala proses hukum yang mungkin berjalan jika kasus ini dibawa ke ranah pengadilan. Kampus berkomitmen mendukung penuh penegakan aturan terkait pelanggaran etika profesional dan akademik.

“Jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” ujar Aep secara tertulis pada Kamis, 28 Mei 2026. Ia menekankan bahwa integritas adalah nilai utama yang dijunjung tinggi oleh institusi pendidikan mereka.

Lebih lanjut, ITB berkomitmen untuk terus memperkuat budaya akademik yang bertanggung jawab dan memiliki integritas tinggi. Hal ini mencakup pengawasan ketat terhadap segala bentuk kecurangan dalam proses penelitian maupun publikasi ilmiah.

Pihak kampus menyatakan tidak akan memberikan toleransi terhadap berbagai bentuk pelanggaran seperti plagiarisme, fabrikasi data, hingga manipulasi hasil riset. Segala bentuk pelanggaran etika ilmiah dianggap sebagai ancaman serius bagi kredibilitas dunia akademik.

Awal Terungkapnya Kasus Melalui Media Sosial

Skandal penelitian palsu ini pertama kali mencuat ke publik melalui pengungkapan oleh seorang epidemiolog Indonesia yang berkarir di Oxford University. Wa Ode Dwi Diningrat mengungkap kejanggalan tersebut melalui akun media sosial pribadinya secara mendalam.

Dwi Diningrat menyebutkan bahwa terdapat dugaan pemalsuan penelitian yang dilakukan secara terorganisir oleh sekelompok orang Indonesia. Tindakan ini dianggap mencoreng nama baik komunitas ilmuwan nasional di hadapan ribuan peneliti mancanegara.

Salah satu poin yang disoroti adalah adanya upaya pengelabuan identitas, di mana salah satu pelaku diduga mengganti nama saat sesi presentasi. Modus ini dilakukan untuk menutupi jejak atau menghindari verifikasi langsung dari para peserta konferensi.

Berdasarkan analisis Dwi, riset yang dipresentasikan tersebut diduga kuat dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) tanpa adanya data lapangan yang nyata. Ia menilai penelitian tersebut sebenarnya tidak pernah ada dan hanya merupakan karangan semata.

Poin-poin kejanggalan riset yang ditemukan oleh Wa Ode Dwi Diningrat:

  • Penggunaan data, gambar, dan narasi pada poster riset yang terlihat sangat tidak wajar.
  • Nama institusi afiliasi yang tercantum ternyata tidak dapat diverifikasi keberadaannya.
  • Penyalahgunaan teknologi AI untuk menciptakan konten riset fiktif secara menyeluruh.
  • Ketidaksesuaian antara identitas pengirim materi dengan orang yang tampil di panggung presentasi.

Dwi Diningrat juga memberikan peringatan mengenai dampak jangka panjang dari tindakan ini terhadap kepercayaan global bagi peneliti asal Indonesia. Menurutnya, tindakan segelintir oknum ini bisa merusak akses kolaborasi internasional bagi ilmuwan lain yang jujur.

Dugaan Motivasi Dibalik Pemalsuan Riset

Investigasi lebih lanjut mengungkap bahwa institusi yang diklaim sebagai afiliasi pelaku, seperti AI-BioMedicine Research Group, tidak memiliki rekam jejak resmi. Hal yang sama juga berlaku bagi IMCDS-BioMed Research Foundation yang namanya tercantum dalam poster riset.

Setelah ditelusuri, pemateri utama dalam sesi presentasi di Kopenhagen tersebut dikonfirmasi adalah Prihantini. Ia diketahui mengirimkan empat judul penelitian berbeda bersama rekan-rekannya, yaitu Rifaldy Fajar dan Rini Winarti.

Kejanggalan lain muncul karena nama Prihantini justru tidak terdaftar sebagai penulis utama dalam dokumen riset yang dipresentasikan secara publik. Pola ini mengindikasikan adanya skema yang sengaja dirancang untuk mengelabui panitia penyelenggara konferensi.

Motivasi di balik tindakan nekat ini diduga berkaitan erat dengan perolehan dana bantuan perjalanan atau travel grant. Fasilitas ini memungkinkan para pelaku untuk terbang ke luar negeri dan mengikuti konferensi internasional secara cuma-cuma.

Dwi Diningrat menegaskan dalam unggahannya bahwa skandal ini bukan sekadar masalah akademik, melainkan juga menyangkut integritas penggunaan dana hibah. Ia berharap kasus ini menjadi pembelajaran keras bagi seluruh akademisi agar tetap menjaga kejujuran dalam berkarya.

Artikel terkait

Rekomendasi