PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menetapkan target ambisius untuk mencetak laba bersih sebesar Rp200,3 miliar pada tahun 2026 mendatang. Proyeksi ini muncul di tengah kondisi perusahaan yang masih mencatatkan kerugian tahun berjalan mencapai Rp41,2 miliar sepanjang tahun 2025.
Pihak manajemen optimistis performa keuangan akan berbalik positif seiring dengan target lonjakan pendapatan hingga enam kali lipat. Perusahaan memperkirakan pendapatan bisa menembus angka Rp3,2 triliun, jauh melampaui realisasi tahun 2025 yang hanya sebesar Rp534 miliar.
Strategi Peningkatan Produksi dan Operasional Tambang
Optimisme SINI didorong oleh rencana pengoperasian anak usaha baru di sektor pertambangan mulai tahun 2026. Salah satu tumpuan utamanya adalah PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) yang akan menyusul kesuksesan operasional PT Persada Kapuas Prima (PKP).
Manajemen menjelaskan dalam Public Expose bahwa pembukaan perusahaan baru ini diharapkan mampu mendongkrak volume penjualan secara signifikan. Kondisi pasar juga dinilai mendukung karena harga komoditas batu bara saat ini masih bertahan di level yang cukup tinggi.
Hingga saat ini, SINI telah mengelola empat Izin Usaha Pertambangan (IUP) melalui anak usahanya, PT Dwi Daya Swakarya (DDS). Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya dipastikan siap beroperasi penuh untuk memenuhi target pasar tahun ini.
Daftar unit usaha pertambangan di bawah naungan SINI:
- PT Pasir Bara Prima (PBP): Unit tambang yang sudah siap beroperasi penuh.
- PT Persada Kapuas Prima (PKP): Entitas yang telah resmi memulai operasional sejak 2025.
- PT Pesona Bara Cakrawala (PBC): Tambang baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026.
- PT Cakrawala Bara Persada (CBP): IUP milik entitas anak yang saat ini belum memulai kegiatan operasional.
Melalui tiga tambang yang aktif pada 2026, SINI menargetkan total produksi batu bara berkisar antara 2 hingga 3 juta ton. Perusahaan telah mengajukan rencana produksi sebesar 900.000 ton untuk PBP dan 1,5 juta ton untuk PKP demi mengejar target tersebut.
Ekspansi Besar Melalui Akuisisi dan Rights Issue
Langkah strategis lainnya adalah proses akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan nilai transaksi mencapai Rp1,73 triliun. Pendanaan aksi korporasi ini bersumber dari hasil rights issue jumbo senilai Rp3,6 triliun yang telah dilakukan sebelumnya.
KMS merupakan pemegang saham mayoritas PT Cristian Eka Pratama (CEP) yang mengelola lahan tambang seluas 4.776 hektar di Kalimantan Timur. Wilayah operasional tersebut memiliki cadangan batu bara yang sangat besar, yakni mencapai 82 juta ton mineable reserves.
Rincian kinerja keuangan dan operasional SINI:
| Indikator Keuangan | Realisasi 2025 | Target 2026 |
|---|---|---|
| Pendapatan Tahunan | Rp534 Miliar | Rp3,2 Triliun |
| Laba (Rugi) Bersih | (Rp43,1 Miliar) | Rp200,3 Miliar |
| Target Produksi | - | 2-3 Juta Ton |
Data di atas menunjukkan transformasi besar yang sedang diupayakan perseroan untuk mengubah posisi keuangan dari rugi menjadi laba. Target ini dianggap realistis mengingat cadangan sumber daya yang teridentifikasi di area CEP mencapai 164,1 juta ton.
Transisi Bisnis ke Sektor Pertambangan
SINI saat ini memang sedang berada dalam fase transisi bisnis menuju industri pertambangan batu bara sejak mengakuisisi DDS pada 2023. Hingga penutupan tahun 2025, lini bisnis baru ini telah berkontribusi sekitar 29% terhadap total pendapatan perusahaan.
Meskipun pendapatan tumbuh 22,7% secara tahunan pada 2025, pembengkakan beban usaha sempat menekan profitabilitas hingga menyebabkan rugi bersih. Namun, dengan integrasi aset tambang baru, perseroan yakin struktur biaya akan lebih efisien dan menguntungkan di masa depan.