Pasar keuangan di kawasan Asia dikejutkan oleh pelemahan nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (25/5/2026). Penurunan mata uang Negeri Paman Sam ini terjadi seiring dengan kembalinya minat investor terhadap aset-aset berisiko tinggi.
Kondisi tersebut dipicu oleh munculnya sinyal positif terkait rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya sempat tegang. Sentimen perdamaian ini mendorong pelaku pasar untuk beralih dari aset aman menuju investasi yang lebih agresif.
Dampak Sentimen Damai Terhadap Mata Utama Dunia
Kabar mengenai potensi meredanya konflik di Selat Hormuz memberikan tekanan besar bagi posisi Greenback di pasar global. Hal ini bahkan tetap terjadi meskipun pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump tampak berupaya meredam euforia kesepakatan dengan Iran.
Meskipun volume perdagangan di bursa Asia tergolong rendah karena adanya hari libur di beberapa pasar global, Dolar AS tetap terlihat lesu. Hampir seluruh mata uang utama dunia berhasil memanfaatkan momentum ini untuk menguat terhadap Dolar AS.
Pergerakan nilai tukar mata uang utama dunia terhadap Dolar AS pada perdagangan Senin pagi:
- Yen Jepang mencatatkan penguatan yang membuat posisi Dolar AS terkoreksi 0,2% ke angka 158,87 yen.
- Mata uang Euro mengalami lonjakan sebesar 0,3% sehingga berada di level USD1,1642.
- Poundsterling turut melesat hingga 0,4% dan menyentuh posisi USD1,3485.
- Dolar Australia (AUD) menjadi salah satu yang terdongkrak paling tinggi dengan kenaikan 0,4% ke level USD0,7160.
Para analis dari Westpac menjelaskan bahwa tanda-tanda awal terjaganya sentimen risiko global sudah terlihat sangat jelas sejak pembukaan pasar. Aksi jual massal terhadap Dolar AS memberikan keuntungan langsung bagi mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti Dolar Australia.
Harga Minyak Dunia Anjlok di Bawah Level Psikologis
Tidak hanya berdampak pada nilai tukar, kabar damai ini juga memberikan pukulan telak bagi sektor komoditas energi. Harga minyak mentah dunia dilaporkan jatuh bebas hingga melewati batas bawah level psikologisnya.
Penurunan tajam ini mencerminkan berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Investor kini mulai mengantisipasi aliran distribusi energi yang lebih lancar melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Berikut adalah rincian penurunan harga minyak mentah di pasar global:
| Jenis Minyak Mentah | Persentase Penurunan | Harga Terkini (Per Barel) |
|---|---|---|
| Brent | 5,1% | USD98,29 |
| West Texas Intermediate (WTI) | 5,0% | USD91,76 |
Tabel di atas menunjukkan koreksi tajam yang dialami oleh dua acuan minyak dunia akibat optimisme stabilitas geopolitik. Harga Brent kini resmi diperdagangkan di bawah USD100 per barel, diikuti oleh penurunan signifikan pada jenis WTI.
Fenomena ini secara keseluruhan memberikan angin segar bagi pasar keuangan, di mana aset-aset kripto juga dikabarkan mulai bergerak ke zona hijau. Para pelaku pasar kini terus memantau perkembangan diplomasi di Selat Hormuz sebagai penentu arah kebijakan investasi selanjutnya.