Emiten petrokimia yang berada di bawah naungan taipan Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), baru saja mengumumkan langkah strategis terkait struktur kepemilikan sahamnya. Salah satu pemegang saham utama perusahaan, SCG Chemicals Public Company Limited (SCGC), secara resmi melakukan penyeimbangan portofolio atau shareholding rebalancing.
Keputusan SCGC untuk melepas sebagian kepemilikannya di TPIA merupakan bagian dari strategi alokasi modal global mereka. Perusahaan asal Thailand ini bermaksud memperkuat struktur permodalan internal serta merealokasi dana untuk mendukung pengembangan bisnis inti dan berbagai inisiatif pertumbuhan strategis lainnya.
Peningkatan Likuiditas Saham TPIA di Pasar Modal
Melalui keterbukaan informasi yang dirilis, porsi saham publik atau free float TPIA kini melonjak menjadi sekitar 25,7%. Pihak manajemen TPIA menilai bahwa kenaikan rasio ini akan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap likuiditas perdagangan saham perseroan di Bursa Efek Indonesia.
Peningkatan ketersediaan saham di pasar diharapkan mampu memperluas akses bagi para investor, baik dari skala domestik maupun mancanegara. Selain untuk mematuhi regulasi yang ditetapkan oleh otoritas pasar modal, langkah ini juga bertujuan memperkuat daya tarik TPIA di mata para pelaku pasar modal global.
Pihak perseroan meyakini bahwa tingkat likuiditas yang lebih baik akan mendukung penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemegang saham. Hal ini sejalan dengan ambisi perusahaan untuk menjadi pemain utama dalam industri petrokimia dan infrastruktur yang lebih inklusif bagi publik.
Komitmen Kemitraan Strategis Jangka Panjang
Meskipun porsi sahamnya berkurang, SCGC dipastikan tetap menjadi mitra strategis jangka panjang bagi Chandra Asri Group. Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, menekankan pentingnya peran perusahaan asal Thailand tersebut dalam sejarah perkembangan bisnis perseroan selama ini.
Erwin Ciputra memberikan pernyataan resmi terkait posisi mitra strategis perusahaan sebagai berikut:
SCGC adalah pemegang saham jangka panjang sekaligus mitra strategis yang telah memberikan kontribusi krusial dalam perjalanan pertumbuhan Chandra Asri Group selama bertahun-tahun. Transaksi ini murni mencerminkan prioritas alokasi modal mereka dan sama sekali tidak mengubah arah strategis maupun tata kelola perusahaan kami.
Erwin menambahkan bahwa manajemen tetap konsisten dalam menjaga komitmen perusahaan untuk mewujudkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Transformasi dan rejuvenasi bisnis di sektor energi, kimia, dan infrastruktur tetap menjadi fokus utama perusahaan di kawasan Asia Tenggara.
Operasional harian dan manajemen TPIA juga dipastikan tidak akan mengalami kendala atau perubahan akibat aksi korporasi ini. Struktur pengendalian dan tata kelola perusahaan tetap stabil guna mendukung agenda transformasi yang telah direncanakan sebelumnya.
Terdapat tiga entitas utama yang hingga kini masih menguasai mayoritas saham di Chandra Asri Group:
- Barito Pacific: Pemegang saham pengendali utama yang dipimpin oleh konglomerat Prajogo Pangestu.
- SCG Chemicals (SCGC): Perusahaan kimia raksasa asal Thailand yang tetap menjadi mitra strategis.
- Thaioil Public Company Limited: Perusahaan pengilangan minyak terkemuka dari Thailand yang juga memegang porsi saham signifikan.
Secara kolektif, ketiga pemegang saham besar tersebut menguasai sekitar 74,3% dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan. Komposisi ini dianggap oleh manajemen sebagai bukti kuat adanya dukungan berkelanjutan serta kepercayaan yang tinggi terhadap prospek masa depan TPIA.
Rincian Transaksi Divestasi Saham oleh SCGC
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), SCGC tercatat melakukan aksi divestasi dengan melepas sekitar 12,86 miliar lembar saham TPIA. Transaksi besar ini berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu antara tanggal 2 hingga 5 Juni 2026.
Proses pelepasan saham dilakukan melalui serangkaian penjualan tidak langsung di pasar modal dengan harga yang beragam. Langkah ini mengakibatkan persentase kepemilikan SCGC di TPIA menyusut drastis dari sebelumnya 30,57% menjadi tersisa 15,71% saja.
Berikut adalah ringkasan tahapan transaksi divestasi yang dilakukan oleh SCGC di pasar modal:
| Tanggal Transaksi | Jumlah Saham (Miliar) | Harga Penjualan (Per Saham) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 2-3 Juni 2026 | 1,03 Miliar | Rp1.698 - Rp2.070 | Tahap awal divestasi melalui pasar. |
| 4 Juni 2026 | 1,345 Miliar | Rp1.396 | Lanjutan penjualan skala menengah. |
| 5 Juni 2026 | 9,14 Miliar | Rp962 | Transaksi volume terbesar pada harga bawah. |
| 5 Juni 2026 | 1,34 Miliar | Rp1.379 | Penutupan rangkaian divestasi Juni. |
Melalui tabel di atas, terlihat bahwa volume penjualan saham terbesar terkonsentrasi pada tanggal 5 Juni 2026. Penjualan masif pada harga Rp962 per saham tersebut menjadi faktor utama yang mengurangi persentase kepemilikan SCGC secara signifikan dalam waktu singkat.
Secara kumulatif, nilai dari pelepasan sekitar 12,86 miliar saham tersebut diperkirakan menembus angka fantastis sebesar Rp14,1 triliun. Angka ini mencerminkan besarnya skala alokasi modal yang dilakukan oleh SCGC untuk kepentingan restrukturisasi keuangan internal mereka.
Setelah seluruh rangkaian transaksi ini rampung, jumlah saham dengan hak suara yang masih digenggam oleh SCGC tercatat sebanyak 13,59 miliar saham. Hal ini menempatkan posisi kepemilikan mereka pada angka tetap 15,71%, tetap menjadikannya salah satu pilar pendukung TPIA.
Kenaikan free float ini diharapkan menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham TPIA di masa depan. Dengan likuiditas yang lebih cair, fluktuasi harga saham diharapkan menjadi lebih wajar dan menarik bagi manajer investasi dalam menyusun portofolio mereka.
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan laporan keterbukaan informasi resmi dan tidak bertujuan sebagai ajakan untuk melakukan tindakan investasi tertentu. Setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab penuh masing-masing individu dengan mempertimbangkan segala risiko pasar yang ada.