Saham RI Didepak dari Indeks FTSE, BEI: Efek Kejut Reformasi Pasar Modal 2026

Saham RI Didepak dari Indeks FTSE, BEI: Efek Kejut Reformasi Pasar Modal 2026
Foto: Saham RI Didepak dari Indeks FTSE, BEI: Efek Kejut Reformasi Pasar Modal 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan tanggapan terkait keputusan FTSE Russell yang mengeluarkan empat saham perusahaan dalam negeri dari indeks global tersebut. Otoritas bursa menilai kondisi ini merupakan konsekuensi jangka pendek yang tidak terhindarkan dari langkah reformasi pasar modal yang tengah digencarkan.

Jeffrey Hendrik, selaku Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, menjelaskan bahwa risiko utama dari proses rebalancing FTSE ini adalah potensi keluarnya modal asing. Namun, ia menegaskan bahwa langkah perbaikan yang dilakukan bersama regulator bertujuan untuk menciptakan dampak positif bagi pasar modal dalam jangka panjang.

Jeffrey menyampaikan pandangannya kepada wartawan di gedung BEI pada Senin, 25 Mei 2026, mengenai dinamika pasar tersebut. Ia mengakui adanya potensi arus keluar dana asing dalam waktu dekat, namun optimis kebijakan saat ini adalah demi kesehatan pasar modal Indonesia di masa depan.

Menurut Jeffrey, para investor yang memiliki visi investasi jangka panjang justru akan mendapatkan keuntungan dari reformasi yang sedang dijalankan oleh OJK dan SRO. Struktur pasar yang lebih baik diharapkan mampu menciptakan ekosistem investasi yang lebih kredibel dan transparan bagi semua pihak.

Meskipun ada saham yang terdepak, pihak BEI tidak tinggal diam dalam menghadapi situasi ini. Jeffrey mengungkapkan bahwa manajemen bursa sedang aktif melakukan seleksi terhadap emiten-emiten lokal yang dinilai memiliki potensi besar untuk menembus indeks global.

Fokus pencarian tersebut diarahkan pada perusahaan yang bisa masuk ke jajaran indeks bergengsi seperti MSCI maupun FTSE Russell di masa mendatang. BEI berencana menyiapkan langkah internal untuk segera berdiskusi dengan para emiten terpilih agar mereka bisa kembali masuk ke radar investor internasional.

Kriteria utama yang menjadi fokus BEI dalam memilah emiten potensial meliputi aspek berikut:

  • Memiliki nilai kapitalisasi pasar atau market cap yang berada dalam rentang persyaratan indeks global.
  • Menunjukkan tingkat likuiditas perdagangan yang cukup baik dan aktif di pasar reguler.
  • Mematuhi seluruh ketentuan transparansi dan tata kelola perusahaan yang ditetapkan oleh penyedia indeks.
  • Memiliki struktur kepemilikan saham publik yang memenuhi syarat minimal free float internasional.

Jeffrey menegaskan bahwa dalam proses diskusi dengan emiten nanti, BEI akan tetap mengacu pada regulasi yang telah diumumkan secara terbuka oleh penyedia indeks global. Kerja sama yang baik antara bursa dan emiten menjadi kunci agar saham Indonesia kembali mendominasi portofolio global.

Berdasarkan pengumuman resmi yang dirilis oleh FTSE Russell pada Sabtu, 23 Mei 2026, lembaga tersebut melakukan peninjauan kuartalan untuk periode Juni 2026. Hasilnya, terjadi perombakan atau "bersih-bersih" terhadap sejumlah saham asal Indonesia yang sebelumnya masuk dalam daftar konstituen.

Dalam dokumen tinjauan tersebut, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) masuk dalam daftar pengecualian atau exclusion. Alasan yang mendasari keputusan ini adalah kegagalan emiten dalam memenuhi kriteria konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi.

Selain itu, FTSE juga menerapkan prosedur teknis yang cukup tegas terhadap saham yang dinilai bermasalah secara likuiditas. Mekanisme tersebut berupa penghapusan konstituen pada harga nol atau dikenal dengan istilah price of zero.

Keputusan tersebut menjadi sinyal kuat mengenai betapa ketatnya evaluasi yang dilakukan oleh FTSE Russell terhadap aspek free float. Kualitas perdagangan saham di pasar sekunder menjadi indikator krusial dalam penilaian yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat internasional tersebut.

Selain DSSA, beberapa saham lainnya juga harus keluar dari kategori Micro Cap dalam tinjauan kuartal ini. Daftar perusahaan yang didepak mencakup emiten dari berbagai sektor industri yang gagal memenuhi standar teknis tertentu.

Berikut adalah rincian saham yang keluar dari kategori Micro Cap beserta alasan teknisnya:

Kode Emiten Nama Perusahaan Alasan Pengeluaran dari Indeks
DAAZ PT Daaz Bara Lestari Tbk. Gagal memenuhi ketentuan batas minimal saham publik (free float).
HILL PT Hillcon Tbk. Gagal melewati tahapan penyaringan pengawasan saham (surveillance stocks screen).
MLIA PT Mulia Industrindo Tbk. Gagal memenuhi kriteria pemantauan rutin dalam surveillance stocks screen.

Data di atas menunjukkan bahwa aspek kepatuhan terhadap aturan saham publik dan pengawasan pasar menjadi faktor penentu posisi emiten di mata global. Kegagalan memenuhi kriteria ini mengakibatkan emiten kehilangan tempat dalam indeks yang menjadi acuan pengelola dana asing.

Pihak FTSE Russell menyatakan bahwa daftar hasil peninjauan kuartalan ini belum bersifat mutlak. Masih ada kemungkinan terjadi perubahan data hingga sesi perdagangan berakhir pada tanggal 5 Juni 2026 mendatang.

Seluruh perubahan posisi saham dalam indeks ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada tanggal 8 Juni 2026. Keputusan tersebut akan dianggap final, kecuali jika terdapat situasi luar biasa yang memaksa perubahan kebijakan sesuai aturan FTSE Russell.

Meskipun terjadi pengeluaran saham, BEI berharap para pelaku pasar tidak bereaksi secara berlebihan terhadap sentimen ini. Fokus utama saat ini tetap pada penguatan fundamental pasar modal agar lebih tahan terhadap fluktuasi indeks global di masa depan.

Upaya reformasi yang dilakukan BEI mencakup perbaikan mekanisme perdagangan hingga transparansi informasi emiten. Hal ini diharapkan dapat menarik kembali minat investor asing untuk menempatkan dana mereka di pasar modal Indonesia secara berkelanjutan.

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi berada di tangan pembaca, dan redaksi tidak bertanggung jawab atas potensi kerugian atau keuntungan yang muncul.

Artikel terkait

Rekomendasi