Kabar mengejutkan datang dari bursa saham Indonesia pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Sederet emiten milik konglomerat ternama, Prajogo Pangestu, mengalami tekanan jual yang sangat masif.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan investor pasar modal. Hal ini menyusul sentimen negatif terkait perubahan komposisi indeks global yang sangat berpengaruh bagi pergerakan dana asing.
Saham Grup Barito Rontok Massal
Hingga pukul 10.09 WIB, saham-saham utama di bawah naungan Prajogo Pangestu terpantau merosot tajam. Koreksi ini terjadi secara serentak dan menyeret harga saham ke level yang cukup rendah.
Berikut adalah rincian penurunan harga saham emiten grup Prajogo Pangestu pada perdagangan hari ini:
- Chandra Asri Pacific (TPIA): Mengalami penurunan terdalam sebesar 14,66 persen ke harga 2.270.
- Barito Pacific (BRPT): Terperosok 9,59 persen dan kini berada di posisi 1.555.
- Barito Renewables Energy (BREN): Melemah 9,32 persen hingga menyentuh level 2.530.
- Petrosea (PTRO): Ikut terkoreksi sebesar 8,75 persen ke posisi 3.650.
- Petrindo Jaya Kreasi (CUAN): Turun 5,08 persen dan parkir di level 560.
- Chandra Daya Investasi (CDIA): Melemah 5,06 persen menuju level 750.
Anjloknya harga saham ini menambah catatan buruk performa portofolio grup tersebut sepanjang tahun berjalan. Beberapa emiten bahkan tercatat sudah kehilangan nilainya hingga lebih dari 75 persen sejak awal tahun.
Dampak Keluarnya Emiten dari Indeks MSCI
Pemicu utama aksi jual besar-besaran ini adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga tersebut resmi mengeluarkan sejumlah saham grup Prajogo dari indeks global mereka.
Pasar merespons keputusan ini dengan sangat reaktif karena potensi terjadinya penarikan dana asing secara besar-besaran. Investor khawatir para pengelola dana global (passive fund) akan melepas kepemilikan mereka karena saham tersebut tidak lagi menjadi acuan indeks.
Goncangan pada saham-saham kelas berat ini juga menjadi beban utama bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Akibatnya, indeks kebanggaan Indonesia tersebut turut ambruk pada perdagangan hari ini.
Kapitalisasi Pasar Menyusut Drastis
Penurunan harga saham yang sangat ekstrem ini berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar (market cap). Nilai kekayaan yang tercermin di bursa dari grup ini pun menyusut dalam jumlah yang fantastis.
Tabel berikut menggambarkan estimasi nilai kapitalisasi pasar terkini dari emiten inti milik Prajogo Pangestu:
| Nama Emiten (Kode Saham) | Estimasi Kapitalisasi Pasar Saat Ini |
|---|---|
| Barito Renewables Energy (BREN) | Rp335,9 Triliun |
| Chandra Asri Pacific (TPIA) | Rp196,4 Triliun |
| Barito Pacific (BRPT) | Rp146,3 Triliun |
| Chandra Daya Investasi (CDIA) | Rp94,25 Triliun |
| Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) | Rp62,96 Triliun |
| Petrosea (PTRO) | Rp37 Triliun |
Jika dibandingkan dengan posisi puncaknya, angka-angka di atas menunjukkan penurunan yang sangat kontras. Sebagai contoh, market cap BREN pernah menembus angka Rp1.298 triliun pada akhir tahun 2025 lalu.
Secara kumulatif, total nilai pasar dari enam emiten utama ini sekarang hanya berkisar di angka Rp872 triliun. Padahal, sebelumnya total nilai kapitalisasi grup ini sempat diperkirakan melampaui Rp2.300 triliun.
Dengan demikian, diperkirakan lebih dari Rp1.400 triliun kekayaan di pasar modal telah menguap akibat badai koreksi ini. Fenomena ini menjadi sorotan tajam karena besarnya skala dana yang hilang dalam waktu yang relatif singkat.