Rupiah Terperosok ke Rp17.800 per Dolar AS, Posisi Terlemah Terbaru 2026 yang Mengejutkan

Rupiah Terperosok ke Rp17.800 per Dolar AS, Posisi Terlemah Terbaru 2026 yang Mengejutkan
Foto: Rupiah Terperosok ke Rp17.800 per Dolar AS, Posisi Terlemah Terbaru 2026 yang Mengejutkan. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan usai libur panjang Idul Adha dengan tren negatif. Mata uang Garuda terpantau melemah cukup dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pagi hari ini.

Berdasarkan data Refinitiv pada Jumat (29/5/2026), rupiah dibuka di level Rp17.800/US$. Posisi ini menunjukkan depresiasi sebesar 0,14% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Tekanan Berlanjut dan Rekor Terlemah

Kondisi pagi ini memperpanjang tren koreksi yang sudah terjadi sebelum periode libur dimulai. Pada perdagangan Selasa (26/5/2026) lalu, rupiah ditutup merosot 0,25% ke posisi Rp17.775/US$.

Angka tersebut tercatat sebagai level penutupan terendah sepanjang sejarah rupiah terhadap greenback. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil di level 98,974 pada pukul 09.00 WIB.

Pergerakan nilai tukar hari ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global. Berikut adalah beberapa faktor utama yang memengaruhi fluktuasi dolar AS saat ini:

Faktor eksternal yang memengaruhi pasar mata uang global:

  • Laporan mengenai kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
  • Potensi pembukaan kembali jalur perdagangan dan lalu lintas melalui Selat Hormuz.
  • Ketidakpastian durasi konflik di Timur Tengah yang memicu perpindahan aset ke mata uang aman (safe haven).
  • Respons pasar terhadap isu deeskalasi konflik yang sempat melemahkan indeks dolar secara terbatas.

Poin-poin di atas menunjukkan betapa sensitifnya nilai tukar terhadap stabilitas politik di Timur Tengah. Dolar AS cenderung menguat tajam saat konflik memanas dan sedikit mereda ketika ada sinyal damai.

Respons Pemerintah Terhadap Pelemahan Rupiah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara mengenai posisi nilai tukar yang hampir menyentuh Rp18.000 tersebut. Menurutnya, level saat ini sudah tidak lagi mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.

Purbaya menegaskan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya masih sangat solid. Hal ini didasarkan pada beberapa indikator makroekonomi yang dirangkum dalam tabel berikut:

Ringkasan indikator fundamental ekonomi Indonesia saat ini:

Indikator Ekonomi Kondisi Saat Ini
Pertumbuhan Ekonomi Berada di atas level 5%
Tingkat Inflasi Terjaga sesuai dengan sasaran pemerintah
Defisit Transaksi Berjalan Masih dalam posisi yang terkendali
Aliran Modal Asing Mulai menunjukkan tren masuk ke pasar domestik

Tabel tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu oleh faktor sentimen global daripada masalah internal. Pemerintah melihat adanya ketidakwajaran dalam pergerakan harga pasar saat ini.

Guna mengatasi hal ini, Pemerintah bersama Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Fokus utama mereka adalah mengendalikan ketersediaan pasokan dolar AS di pasar dalam negeri.

Purbaya juga menjanjikan akan ada kebijakan tambahan untuk mendukung penguatan nilai tukar. Masuknya investor asing ke pasar domestik diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap mata uang rupiah.

Artikel terkait

Rekomendasi