Kondisi nilai tukar rupiah sedang berada dalam tekanan besar sepanjang tahun 2026 berjalan. Mata uang Garuda tercatat mengalami pelemahan terhadap hampir seluruh mata uang di kawasan Asia.
Satu-satunya mata uang Asia yang berhasil dikalahkan rupiah hanyalah rupee India. Selebihnya, rupiah harus mengakui keunggulan mata uang negara tetangga dan mitra dagang utama lainnya.
Rincian Pergerakan Rupiah Terhadap Mata Uang Asia
Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa depresiasi rupiah yang paling signifikan terjadi saat berhadapan dengan ringgit Malaysia dan dollar Singapura. Fenomena ini menunjukkan adanya tantangan serius bagi stabilitas mata uang nasional.
Berdasarkan data internal Permata Bank hingga 22 Mei 2026, rupiah hanya mampu menguat tipis sebesar 0,8 persen secara year to date (YTD) terhadap rupee India. Sementara itu, grafik merah mendominasi perbandingan dengan negara Asia lainnya.
Berikut adalah data performa nilai tukar rupiah terhadap berbagai mata uang utama di kawasan Asia :
| Mata Uang Asing | Perubahan Nilai Tukar (YTD) |
|---|---|
| Rupee India | Menguat 0,8% |
| Yen Jepang | Melemah 4,3% |
| Dollar Hong Kong | Melemah 5,2% |
| Dollar Taiwan | Melemah 5,4% |
| Dollar Singapura | Melemah 6,3% |
| Won Korea Selatan | Melemah 8,0% |
| Ringgit Malaysia | Melemah 8,0% |
| Yuan China | Melemah 8,3% |
Data di atas memperlihatkan bahwa pelemahan terdalam rupiah terjadi saat bersaing dengan yuan China dan ringgit Malaysia. Hal ini mencerminkan adanya ketimpangan performa rupiah di tingkat regional.
Faktor Internal di Balik Pelemahan Rupiah
Josua menyoroti bahwa tren penurunan ini tidak selaras dengan pergerakan indeks dollar AS (DXY). Secara global, penguatan DXY hanya berkisar di angka 0,9 persen, namun rupiah justru anjlok lebih dari 5 persen.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan yang dialami rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal global. Ada beberapa dinamika domestik yang turut memicu tingginya permintaan dollar di pasar dalam negeri.
Beberapa faktor utama yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan dollar di dalam negeri adalah :
- Pembayaran dividen oleh berbagai perusahaan yang tercatat di bursa saham (emiten).
- Kebutuhan valuta asing untuk mendukung pelaksanaan musim haji.
Menurut Josua, lonjakan permintaan dollar pada kuartal II 2026 merupakan hal yang sulit dihindari karena jadwal pembayaran dividen banyak menumpuk di bulan Mei. Kebutuhan rutin tahunan ini memberikan tekanan besar pada cadangan devisa dan nilai tukar.
Rekor Terendah Sepanjang Sejarah
Sepanjang bulan Mei 2026, rupiah berkali-kali menembus level psikologis baru yang mengkhawatirkan. Pergerakan liar ini dimulai saat rupiah menyentuh angka Rp 17.400 pada awal bulan dan terus merosot hingga Rp 17.600 di pertengahan Mei.
Pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026), posisi rupiah kembali melemah 50 poin atau sekitar 0,28 persen. Kondisi ini menempatkan nilai tukar berada di level Rp 17.717 per dollar AS.
Rentetan rekor terendah sepanjang sejarah ini tak pelak memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Pelemahan yang tajam ini menjadi sinyal penting bagi otoritas moneter untuk terus menjaga stabilitas ekonomi nasional.