Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Gubernur BI Ungkap Penyebab Utamanya

Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Gubernur BI Ungkap Penyebab Utamanya
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Gubernur BI Ungkap Penyebab Utamanya.
Ukuran teks

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, akhirnya angkat bicara mengenai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp17.600 per dolar AS. Ia menjelaskan bahwa anjloknya mata uang Garuda disebabkan oleh perpaduan antara dinamika pasar global dan tingginya permintaan valas di dalam negeri.

Perry mengungkapkan bahwa tekanan signifikan terjadi selama periode April hingga Juni akibat kebutuhan dolar AS yang melonjak tajam. Kebutuhan ini mencakup berbagai keperluan mendesak, mulai dari operasional haji hingga kewajiban finansial korporasi besar.

Faktor domestik yang memicu tingginya permintaan dolar AS antara lain:

  • Kebutuhan valuta asing yang besar untuk biaya perjalanan jemaah haji ke Arab Saudi.
  • Pembayaran dividen oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia kepada pemegang saham di luar negeri.
  • Kewajiban pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo pada kuartal kedua tahun ini.

Penjelasan tersebut disampaikan Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen pada Senin (18/5/2026). Ia menegaskan bahwa siklus musiman ini memang rutin terjadi dan memberikan beban tambahan terhadap cadangan devisa.

Dampak Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan Global

Selain faktor internal, situasi geopolitik di Timur Tengah sejak Februari juga menjadi penyebab utama menguatnya dolar AS secara global. Ketegangan di wilayah tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak mentah jenis Brent hingga melampaui angka US$120 per barel.

Perry juga menyoroti kondisi ekonomi Amerika Serikat yang masih berjuang melawan tingkat inflasi yang cukup tinggi. Hal ini menyebabkan harapan pasar terhadap penurunan suku bunga acuan oleh The Fed menjadi berkurang drastis.

Kondisi ini mengakibatkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat meningkat, sehingga memicu arus modal keluar dari negara berkembang. Fenomena pelarian modal ini memaksa mata uang emerging market, termasuk rupiah, melemah di hadapan dolar AS.

Berikut adalah ringkasan faktor penyebab pelemahan rupiah menurut Bank Indonesia:

Kategori Faktor Penyebab Utama
Internal (Domestik) Kebutuhan valas untuk haji, dividen, dan cicilan utang luar negeri.
Eksternal (Global) Konflik Timur Tengah dan tingginya harga minyak dunia.
Moneter AS Inflasi AS yang tinggi dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS.

Data tersebut menunjukkan bahwa rupiah menghadapi tekanan dari berbagai sisi secara bersamaan. Bank Indonesia terus memantau pergerakan pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak semakin terpuruk.

Optimisme Pemulihan Nilai Tukar Rupiah

Meski saat ini tertekan, Perry Warjiyo tetap optimis bahwa pelemahan nilai tukar rupiah ini hanyalah fenomena yang bersifat sementara. Ia memprediksi rupiah akan mulai bergerak menguat kembali pada periode Juli hingga Agustus mendatang.

BI berkeyakinan bahwa meredanya kebutuhan valuta asing di pasar domestik akan membantu menstabilkan posisi rupiah. Selain itu, kondisi pasar keuangan global diharapkan akan jauh lebih kondusif memasuki semester kedua tahun ini.

Perry menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini sebenarnya berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued. BI tetap memegang teguh target nilai tukar yang telah ditetapkan dalam APBN 2026 sebagai acuan kinerja keuangan negara.

Bank Indonesia memproyeksikan rerata nilai tukar sepanjang tahun ini akan berada di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS. Perry optimis target ini bisa tercapai meskipun rata-rata year to date saat ini masih berada di angka Rp16.900.

Artikel terkait

Rekomendasi