Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan tanggapan terkait fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp17.600 per dolar AS.
Ia meminta masyarakat serta pelaku pasar untuk melihat pergerakan mata uang domestik ini secara menyeluruh dengan mempertimbangkan konteks sejarah ekonomi Indonesia.
Airlangga menegaskan bahwa kondisi ketahanan ekonomi nasional saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih kuat dan sehat jika dibandingkan dengan krisis dua dekade silam.
Pemerintah menyatakan bahwa meskipun rupiah sedang menghadapi tekanan eksternal yang cukup kuat, fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan baik.
Perbandingan Kualitas Ekonomi Antar Periode
Untuk meluruskan persepsi publik, Airlangga memaparkan data mengenai pelemahan mata uang serta laju inflasi dari beberapa masa pemerintahan sebelumnya.
Ia mencontohkan bahwa pada periode 2004 hingga 2014, nilai tukar rupiah tercatat mengalami depresiasi hingga mencapai 40 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun.
Kala itu, tingkat inflasi bahkan sempat menyentuh angka 17 persen pada tahun 2005 akibat lonjakan harga minyak dunia yang mencapai 140 dolar AS per barel.
Airlangga menjelaskan bahwa situasi tersebut menunjukkan tantangan yang sangat berat bagi stabilitas ekonomi nasional pada masa itu.
Kondisi ekonomi Indonesia kemudian dinilai berangsur membaik dan lebih terkendali pada periode satu dekade berikutnya, yakni tahun 2014 hingga 2024.
Bauran kebijakan antara sektor moneter dan fiskal terbukti efektif dalam meredam kejatuhan nilai tukar rupiah agar tidak merosot terlalu tajam.
Berikut adalah ringkasan perbandingan data depresiasi rupiah dan tingkat inflasi dalam dua dekade terakhir:
| Periode Waktu | Depresiasi Rupiah | Rata-rata Inflasi |
|---|---|---|
| 2004 - 2014 | 40,0% | Hingga 17% (Tahun 2005) |
| 2014 - 2024 | 30,6% | Sekitar 3% |
| Kondisi Saat Ini (2026) | 5,0% (YTD) | 2,4% |
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun nominal rupiah terlihat tinggi terhadap dolar AS, kualitas pengendalian inflasi saat ini jauh lebih unggul dibanding masa lalu.
Stabilitas Inflasi Menjadi Kunci
Airlangga menekankan bahwa saat ini pemerintah berhasil menjaga tingkat inflasi di angka 2,4 persen dengan depresiasi rupiah di kisaran 5 persen.
Ia sependapat dengan anggota DPR RI, Misbakhun, bahwa membandingkan kondisi sekarang dengan krisis tahun 1998 memerlukan analisis konteks yang tepat.
Menurutnya, perbedaan kualitas ekonomi dalam dua dekade terakhir membuktikan bahwa Indonesia memiliki mekanisme pertahanan yang lebih solid terhadap gejolak global.
Masyarakat diharapkan tidak terjebak pada memori kelam krisis masa lalu karena indikator ekonomi makro saat ini menunjukkan stabilitas yang lebih terjaga.
Pemerintah akan terus memantau dinamika pasar global guna memastikan nilai tukar rupiah tetap bergerak dalam rentang yang wajar dan mendukung pertumbuhan ekonomi.