Rupiah Perkasa, Dolar AS Ditutup Melemah ke Level Rp17.460 Sore Ini

Rupiah Perkasa, Dolar AS Ditutup Melemah ke Level Rp17.460 Sore Ini
Foto: Ilustrasi Rupiah Perkasa, Dolar AS Ditutup Melemah ke Level Rp17.460 Sore Ini.
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah sukses ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Rabu (13/5/2026). Mata uang Garuda berhasil bangkit setelah sempat mengalami tekanan pada awal pembukaan pasar.

Berdasarkan data dari Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.460/US$ atau tercatat menguat sebesar 0,17 persen. Capaian ini membalikkan kondisi pagi hari di mana rupiah sempat melemah 0,06 persen ke level Rp17.500/US$.

Rupiah Jauhi Level Psikologis

Pergerakan hari ini menunjukkan upaya rupiah untuk menjauh dari level psikologis Rp17.500/US$. Momentum positif ini sekaligus mematahkan tren pelemahan yang terjadi selama tiga hari perdagangan berturut-turut.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau masih kokoh di level 98,419 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan rupiah tergolong menarik mengingat dolar AS sebenarnya masih menunjukkan taji di pasar global.

Beberapa faktor eksternal yang memengaruhi kondisi pasar global saat ini meliputi:

  • Laju inflasi AS (CPI) per April 2026 yang menyentuh angka 3,8 persen secara tahunan.
  • Lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya tensi konflik dengan Iran.
  • Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang meredupkan harapan perdamaian AS-Iran.
  • Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang memicu minat tinggi pada aset aman (safe haven).

Kombinasi inflasi yang memanas dan risiko geopolitik membuat pasar skeptis terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Fed. Situasi ini biasanya membatasi ruang gerak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sentimen Pasar Saham dan Indeks MSCI

Selain faktor global, sentimen dari pasar saham domestik turut menjadi sorotan para pelaku pasar. Morgan Stanley Capital International (MSCI) baru saja mengumumkan hasil review indeks global untuk periode Mei 2026.

Hasil review tersebut memberikan tekanan bagi pasar modal Indonesia karena enam saham domestik keluar dari MSCI Global Standard Index. Ironisnya, tidak ada emiten baru asal Indonesia yang masuk dalam kategori indeks bergengsi tersebut.

Berikut adalah ringkasan perubahan posisi saham Indonesia pada indeks MSCI terbaru:

Kategori Indeks Saham Masuk Saham Keluar
MSCI Global Standard Tidak ada 6 Saham
MSCI Global Small Cap 1 Saham (AMRT) 13 Saham

Seluruh perubahan struktur indeks ini akan mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026 mendatang. Kondisi ini diprediksi akan meningkatkan potensi aliran modal keluar (capital outflow) dari bursa domestik.

Langkah Pemerintah Menjaga Stabilitas

Meningkatnya potensi tekanan terhadap rupiah direspon cepat melalui koordinasi kebijakan antara pemerintah dan otoritas moneter. Pemerintah berkomitmen memberikan dukungan nyata untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pihaknya mulai mendampingi Bank Indonesia dalam mengendalikan kurs. Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas nilai tukar yang dipicu sentimen global maupun domestik.

Salah satu instrumen yang dikerahkan pemerintah adalah skema dana stabilisasi obligasi atau Bond Stabilization Fund (BSF). Instrumen tersebut berfungsi menjaga stabilitas di pasar surat berharga negara yang secara langsung berdampak positif bagi rupiah.

Artikel terkait

Rekomendasi