Rupiah Pecah Rekor Terlemah 2026, Efek Kenaikan BI Rate Terbaru Mengejutkan Market

Rupiah Pecah Rekor Terlemah 2026, Efek Kenaikan BI Rate Terbaru Mengejutkan Market
Foto: Rupiah Pecah Rekor Terlemah 2026, Efek Kenaikan BI Rate Terbaru Mengejutkan Market. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan sejarah kelam dengan menyentuh level terendah sepanjang masa. Berdasarkan data perdagangan pasar, mata uang Garuda sempat merosot tajam hingga menembus angka Rp17.926 per dolar AS.

Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku ekonomi mengenai efektivitas kebijakan moneter yang telah diambil. Kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate yang diharapkan menjadi penopang rupiah tampaknya belum mampu membendung tekanan eksternal maupun internal.

Penyebab Utama Terpuruknya Nilai Tukar Rupiah

Sejumlah ekonom mengidentifikasi bahwa pelemahan ini tidak hanya disebabkan oleh sentimen global, tetapi juga rapuhnya fundamental dalam negeri. Kinerja perdagangan Indonesia yang melambat menjadi faktor internal signifikan yang memperparah situasi ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat penurunan drastis pada surplus neraca perdagangan Indonesia. Berikut adalah rincian data kinerja perdagangan yang memengaruhi pasokan dolar di pasar domestik:

Perbandingan Surplus Perdagangan Indonesia 2026:
  • Surplus April 2026: Tercatat hanya sebesar US$ 90 juta, merosot tajam dari US$ 3,32 miliar pada bulan sebelumnya.
  • Kumulatif Januari-April 2026: Turun menjadi US$ 5,64 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 11,07 miliar.

Penurunan drastis pada surplus perdagangan ini menunjukkan bahwa pasokan devisa dari sektor ekspor semakin menipis. Hal ini secara langsung mengurangi daya tahan rupiah terhadap fluktuasi mata uang asing, terutama dolar AS.

Persoalan Kredibilitas Fiskal dan Pasar SBN

Ekonom UOB Kay Hian, Surya Wijaksana, menilai kebijakan BI Rate saat ini belum memberikan dampak positif bagi stabilitas nilai tukar. Menurutnya, akar permasalahan terletak pada tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal nasional.

Idealnya, kenaikan BI Rate diikuti dengan peningkatan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan anomali di mana bunga acuan naik tetapi yield SBN tetap stagnan.

Ketidaksinkronan ini dianggap sebagai sinyal bahwa pasar tidak melihat kebijakan pemerintah sebagai langkah yang kredibel. Selama isu fiskal dan kepercayaan investor belum teratasi, kenaikan suku bunga akan sulit menarik modal asing masuk.

Upaya Intervensi Bank Indonesia

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa Bank Indonesia sebenarnya telah melakukan berbagai upaya strategis untuk menstabilkan kurs. Intervensi dilakukan secara masif melalui pasar spot hingga pengawasan ketat terhadap transaksi valas.

Daftar instrumen stabilisasi yang dijalankan oleh Bank Indonesia:

  • Intervensi langsung di pasar spot, DNDF, dan NDF luar negeri.
  • Penguatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
  • Pembatasan pembelian valas yang tidak memiliki transaksi dasar (underlying).
  • Pengawasan ketat terhadap perbankan dan korporasi yang melakukan pembelian dolar dalam jumlah besar.

Meski langkah tersebut krusial, Josua menekankan bahwa BI tidak bisa bekerja sendirian tanpa dukungan sektor riil. Rupiah baru bisa menguat secara berkelanjutan jika arus masuk devisa dari ekspor dan investasi mulai membaik.

Nilai Wajar Rupiah dan Proyeksi ke Depan

Secara fundamental, posisi rupiah saat ini dinilai sudah sangat murah atau undervalued. Berdasarkan model Real Effective Exchange Rate (REER), nilai wajar rupiah seharusnya berada di bawah level Rp17.000 per dolar AS.

Meskipun nilainya sudah jauh di bawah harga wajar, hal ini bukan jaminan bahwa rupiah akan segera menguat dalam waktu dekat. Selama sentimen risiko pasar masih tinggi, mata uang bisa tetap berada di level rendah untuk waktu yang lama.

Indikator Posisi Saat Ini Nilai Wajar (Model REER)
Nilai Tukar Rupiah Rp17.925 - Rp17.926 Dibawah Rp17.000
Skor REER (April) 91,44 N/A

Data di atas menunjukkan selisih yang lebar antara nilai pasar dengan nilai fundamental mata uang Garuda. Perbaikan neraca eksternal dan kejelasan arah kebijakan fiskal menjadi syarat mutlak agar rupiah bisa kembali pulih ke level yang lebih stabil.

Artikel terkait

Rekomendasi