Rupiah Menguat Hari Ini, Dolar AS Turun ke Rp17.850 Jadi Kabar Terbaru 2026

Rupiah Menguat Hari Ini, Dolar AS Turun ke Rp17.850 Jadi Kabar Terbaru 2026
Foto: Rupiah Menguat Hari Ini, Dolar AS Turun ke Rp17.850 Jadi Kabar Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan perdana di bulan Juni dengan tren positif pada Selasa (2/6/2026). Setelah melewati masa libur panjang akhir pekan, mata uang Garuda terpantau bergerak di zona hijau.

Berdasarkan data dari Refinitiv, rupiah dibuka dengan penguatan tipis sebesar 0,08 persen. Saat ini, posisi rupiah berada di level Rp17.850 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kenaikan ini menjadi angin segar setelah rupiah sempat tertekan cukup dalam pada penutupan perdagangan Jumat sebelumnya. Kala itu, nilai tukar rupiah terkoreksi 0,51 persen hingga menyentuh level Rp17.865 per dolar AS.

Stabilitas Indeks Dolar dan Kebijakan Bank Indonesia

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil di level 99,201 pada pukul 09.00 WIB. Meskipun stabil pagi ini, DXY sempat mencatatkan kenaikan sebesar 0,30 persen pada perdagangan hari Senin.

Fluktuasi nilai tukar saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor strategis, baik dari internal maupun eksternal. Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui kalibrasi instrumen kebijakan di pasar valuta asing.

Berikut adalah ringkasan kebijakan terbaru Bank Indonesia untuk memperkuat nilai tukar rupiah:

  • Penurunan batas transaksi pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying dari sebelumnya US$50.000 menjadi US$25.000 per pelaku setiap bulannya.
  • Peningkatan batas transaksi tanpa underlying untuk instrumen derivatif seperti forward jual dan swap hingga mencapai US$10 juta per transaksi.
  • Mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dalam setiap transaksi perdagangan bilateral.

Langkah pengetatan dokumen transaksi di pasar tunai ini bertujuan untuk menekan spekulasi yang bisa merugikan rupiah. Di sisi lain, relaksasi di pasar derivatif diharapkan mampu memberikan fleksibilitas lebih bagi para pelaku pasar.

Data Transaksi LCT dan Batas Pembelian Valas

Pemerintah dan BI optimis bahwa penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antarnegara dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Hingga bulan April 2026, volume transaksi melalui skema LCT dilaporkan telah menembus angka US$22,61 miliar.

Tabel berikut merangkum perubahan batas transaksi dolar AS tanpa dokumen underlying yang berlaku saat ini:

Periode Efektif Batas Transaksi (Per Bulan) Keterangan
Sebelum April 2026 US$100.000 Ketentuan lama
April - Mei 2026 US$50.000 Pengetatan tahap pertama
Mulai Juni 2026 US$25.000 Aturan terbaru (PADG No. 7/2026)

Perubahan kebijakan ini secara konsisten dilakukan untuk memastikan transaksi valuta asing di dalam negeri tetap terkendali. Hal ini sejalan dengan upaya Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih dinamis.

Pengaruh Sentimen Global dan Konflik Timur Tengah

Dari sisi eksternal, para pelaku pasar masih memantau perkembangan situasi politik di Timur Tengah. Kabar mengenai perundingan damai menjadi salah satu pemicu fluktuasi indeks dolar AS di pasar internasional.

Sebelumnya, harapan akan pembukaan kembali Selat Hormuz melalui kesepakatan AS dan Iran sempat membuat dolar melemah. Namun, kondisi kembali berbalik setelah proses negosiasi dilaporkan mengalami hambatan akibat ketegangan di Lebanon.

Sentimen pasar sedikit mereda setelah adanya pernyataan dari Presiden AS Donald Trump terkait komitmen perdamaian dengan kelompok di Lebanon. Pernyataan tersebut cukup meredam penguatan dolar yang sempat melonjak tajam.

Meskipun rupiah menguat tipis pagi ini, tekanan dari penguatan dolar global tetap perlu diwaspadai. Kondisi geopolitik yang tidak menentu dapat sewaktu-waktu mempersempit ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang.

Artikel terkait

Rekomendasi