Rupiah Melemah Terbaru 2026, LPEM UI: Instrumen Moneter Saja Tak Lagi Cukup

Rupiah Melemah Terbaru 2026, LPEM UI: Instrumen Moneter Saja Tak Lagi Cukup
Foto: Rupiah Melemah Terbaru 2026, LPEM UI: Instrumen Moneter Saja Tak Lagi Cukup. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kondisi nilai tukar rupiah yang terus merosot kini dipandang sudah melampaui batas efektivitas instrumen moneter biasa. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memberikan catatan kritis mengenai fenomena ini.

Menurut analisis mereka, tekanan yang dialami mata uang Garuda saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor fiskal dan masalah struktural di dalam negeri. Hal ini terjadi meski Bank Indonesia (BI) telah berupaya menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen guna menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Berikut adalah ringkasan data pergerakan nilai tukar rupiah dalam berbagai periode waktu:

Periode Perhitungan Persentase Pelemahan
Tahun Berjalan (Year-to-Date) 5,50%
Satu Bulan Terakhir (Month-to-Month) 2,69%
Satu Tahun Terakhir (Year-on-Year) 7,00%

Data tersebut menunjukkan bahwa rupiah berada dalam tren penurunan yang konsisten dan kinerjanya tertinggal dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya. Tercatat, performa rupiah hanya sedikit lebih baik jika disandingkan dengan Rupee India dan Lira Turkiye.

Penyebab Utama Melemahnya Rupiah

LPEM FEB UI menyoroti bahwa kebijakan moneter saja tidak akan cukup kuat untuk membendung tekanan yang ada. Walaupun gejolak pasar global tetap memberikan pengaruh, kondisi internal di Indonesia memegang peran yang sangat signifikan.

Aliran modal keluar yang masif dalam beberapa pekan terakhir telah memperburuk posisi nilai tukar. Sebagai gambaran, pada Agustus 2025 rupiah masih bertahan di level Rp16.100 per dollar AS, namun kini sudah menembus angka Rp17.717.

Sejumlah faktor domestik utama yang dinilai menjadi pemicu tekanan terhadap rupiah antara lain:

  • Keseimbangan Fiskal: Adanya kekhawatiran dari para investor mengenai kesehatan anggaran negara akibat rasio perpajakan yang masih rendah.
  • Program Pemerintah: Rencana program-program populis yang dianggap membutuhkan biaya fiskal sangat besar sehingga membebani APBN.
  • Risiko Liabilitas: Munculnya potensi kewajiban kontinjensi atau contingent liability yang bersumber dari entitas Danantara.
  • Ketidakpastian Kebijakan: Tingginya dinamika dan ketidakjelasan arah kebijakan pemerintah yang memicu keraguan di mata pelaku pasar.

Faktor-faktor tersebut secara kolektif menciptakan sentimen negatif yang membuat investor lebih memilih untuk menarik modalnya dari pasar domestik. Ketidakpastian arah kebijakan menjadi poin krusial yang terus dipantau oleh para pemain pasar uang hingga saat ini.

Kondisi ini menuntut sinergi yang lebih kuat antara otoritas moneter dan pemerintah dalam mengelola kebijakan fiskal. Tanpa perbaikan pada sisi struktural dan kepastian kebijakan, intervensi melalui suku bunga diperkirakan tidak akan memberikan hasil maksimal dalam jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi