Rupiah Melemah, Tembus Rp17.744/USD: Apa Penyebabnya?

Rupiah Melemah, Tembus Rp17.744/USD: Apa Penyebabnya?
Foto: Rupiah Melemah, Tembus Rp17.744/USD: Apa Penyebabnya?. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah melemah sebesar 0,15% menjadi Rp17.744 per dolar AS pada tanggal 25 Mei 2026. Pelemahan ini terpengaruh oleh defisit fiskal dan kebijakan ekspor, meskipun harga minyak dunia mengalami penurunan.

Tutup pada level tersebut, rupiah mengalami pelemahan 27 poin dalam perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Indeks dolar AS (DXY) pun turun 0,22% menjadi 99,02.

Pelemahan rupiah terjadi justru ketika harga minyak Brent melemah menjadi US$85,65 per barel. Hal ini terkait dengan optimisme akan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Pakar valuta asing dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai defisit anggaran fiskal Indonesia sebagai ancaman bagi pasar keuangan. Situasi ini menambah tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Meskipun harga minyak dunia menurun, belum bisa menjadi sentimen positif untuk rupiah. Mata uang negara-negara tetangga hijau, namun Indonesia masih merah," ucap Ibrahim pada Senin, 25 Mei 2026.

Sementara itu, mata uang negara lain seperti dolar Singapura, peso Filipina, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia serentak menguat terhadap dolar AS.

Di samping kekhawatiran terkait defisit fiskal, wacana kebijakan ekspor satu pintu yang disampaikan oleh Presiden Prabowo pada 20 Mei 2026 turut menjadi sentimen negatif.

Ibrahim merasa kebijakan tersebut dapat mempengaruhi penurunan peringkat utang internasional Indonesia.

Baca Juga: Perkembangan Rupiah, Kenaikan Harga Minyak dan Defisit Fiskal Jadi Sorotan.

"Kebijakan yang kurang berpihak pada pasar ini kemungkinan akan membuat rupiah terus tertekan. Diprediksi pelemahan bisa berlanjut besok sampai 50-60 poin," ujarnya.

Untuk perdagangan Selasa (26/5) besok, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah akan berada pada kisaran Rp17.740 hingga Rp17.800 per dolar AS.

Sentimen negatif dari dalam negeri ini berkembang ketika kondisi eksternal mulai stabil. Ibrahim menyebut pasar global kini lebih optimis terhadap perjanjian damai antara AS dan Iran.

Namun, Ibrahim masih melihat potensi kegagalan dari upaya damai ini karena melibatkan isu penting. "Yang utama adalah apakah nota kesepahaman damai ini bisa diterima atau tidak. Isu uranium dan dana yang dibekukan sejak 70-an masih menjadi permasalahan besar," ungkapnya.

Dapatkan informasi lebih lanjut melalui Google News dan WA Channel.

Penulis: Akbar Maulana al Ishaqi
Editor: Rio Sandy Pradana

Artikel terkait

Rekomendasi