Rupiah Melemah, Masyarakat Desa Tetap Kena Dampak Meski Tak Pakai Dolar AS

Rupiah Melemah, Masyarakat Desa Tetap Kena Dampak Meski Tak Pakai Dolar AS
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah, Masyarakat Desa Tetap Kena Dampak Meski Tak Pakai Dolar AS.
Ukuran teks

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang tengah melemah menuai sorotan dari sejumlah pakar ekonomi. Prabowo sebelumnya sempat menyatakan bahwa masyarakat di wilayah pedesaan tidak menggunakan mata uang dolar dalam transaksi sehari-hari.

Kondisi saat ini menunjukkan nilai tukar dolar AS telah menembus angka Rp 17.600. Posisi tersebut tercatat jauh melampaui target yang ditetapkan dalam APBN 2026, yakni sebesar Rp 16.500.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, memberikan pandangannya terkait situasi ini. Menurutnya, meskipun warga desa tidak bertransaksi langsung dengan dolar, dampak pelemahan rupiah akan tetap merembes hingga ke pelosok desa.

Bhima menjelaskan bahwa ekonomi nasional saat ini sudah sangat terintegrasi dengan sistem global. Hal ini menyebabkan banyak kebutuhan pokok masyarakat di desa yang sebenarnya berkaitan erat dengan komoditas impor.

Berbagai kebutuhan masyarakat di pedesaan yang terdampak oleh kenaikan nilai tukar dolar meliputi:

  • Perangkat komunikasi seperti ponsel pintar (handphone).
  • Alat transportasi berupa kendaraan bermotor.
  • Berbagai barang elektronik dan peralatan rumah tangga seperti mesin cuci.
  • Sarana produksi pertanian, terutama pupuk yang digunakan di sentra-sentra tani.
  • Sumber energi untuk memasak seperti gas LPG.

Daftar kebutuhan di atas menunjukkan betapa besarnya ketergantungan masyarakat desa terhadap barang-barang yang memiliki komponen impor. Kenaikan harga pada barang-barang tersebut menjadi konsekuensi logis dari melemahnya nilai tukar rupiah.

Bhima menegaskan agar pemerintah tidak meremehkan dampak pelemahan rupiah yang sudah mencapai Rp 17.600 tersebut. Ia memperingatkan bahwa kenaikan biaya hidup di tingkat desa adalah sesuatu yang nyata dan tidak bisa dihindari.

Ia juga mengkritik komunikasi pemerintah yang terkesan menantang situasi global tanpa adanya persiapan matang. Bhima menilai sikap yang terlalu tenang justru berbahaya karena masyarakat bisa mengalami kejutan ekonomi yang tiba-tiba (sudden shock).

Menurut pemantauannya, pemimpin di negara-negara lain justru sedang sibuk menyiapkan skenario terburuk akibat konflik global yang berkepanjangan. Sebaliknya, Indonesia dianggap belum menunjukkan langkah mitigasi yang konkret untuk melindungi rakyatnya.

Bhima juga mengingatkan bahwa rupiah telah melemah sekitar 7% dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Angka ini merupakan alarm serius yang harus segera direspons karena berisiko mengganggu sektor investasi serta penyerapan tenaga kerja.

Dampak jangka panjang yang dikhawatirkan adalah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di wilayah perkotaan. Para korban PHK tersebut diprediksi akan pulang ke desa dalam kondisi tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan tetap.

Fenomena ini pada akhirnya akan memberikan beban tambahan bagi perekonomian di tingkat desa. Ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi tekanan kurs ini dinilai dapat memperburuk stabilitas sosial dan ekonomi di pedesaan.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah hingga ke level Rp 17.600 per dolar AS akan merasuk ke ekonomi desa melalui berbagai saluran harga.

Yusuf memberikan contoh konkret pada sektor pertanian, di mana bahan baku pembuatan pupuk masih sangat bergantung pada impor. Begitu pula dengan harga BBM domestik yang pergerakannya dipengaruhi oleh harga minyak dunia dalam satuan dolar.

Sektor peternakan pun tidak luput dari ancaman karena pakan ternak masih menggunakan jagung dan bungkil kedelai impor. Selain itu, ketersediaan obat-obatan di puskesmas hingga bahan pangan olahan harian juga memiliki komponen impor yang signifikan.

Berikut adalah estimasi dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat akibat depresiasi nilai tukar:

Sektor Terdampak Penyebab Utama Dampak
Kesehatan & Farmasi Komponen impor bahan baku obat di Puskesmas dan apotek.
Konsumsi Harian Kenaikan harga bahan pangan olahan dan barang pabrikan.
Produksi Ternak Kenaikan biaya pakan akibat ketergantungan kedelai impor.
Transportasi & Energi Penyesuaian harga BBM yang mengacu pada harga minyak global.

Tabel tersebut merangkum bagaimana pelemahan kurs tidak hanya menjadi angka di layar bursa, tapi menjadi beban nyata bagi dompet warga. Transmisi kenaikan harga ini biasanya akan sangat terasa dalam waktu satu hingga dua kuartal setelah rupiah melemah.

Dari sisi ekonomi makro, Yusuf menyoroti sensitivitas pasar valuta asing terhadap pernyataan pemerintah. Pasar sangat bergantung pada persepsi mengenai seberapa kuat komitmen otoritas dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Jika pasar menangkap sinyal ketidakpastian, maka ekspektasi pelemahan akan berubah menjadi tekanan yang lebih nyata. Investor mungkin akan melakukan lindung nilai secara besar-besaran yang memicu arus modal keluar dari Indonesia.

Situasi ini sering disebut sebagai self-fulfilling depreciation, di mana kekhawatiran pasar justru mempercepat kejatuhan nilai mata uang itu sendiri. Hal inilah yang seharusnya diantisipasi dengan komunikasi publik yang lebih hati-hati.

Yusuf juga memperingatkan bahwa narasi yang terlalu menenangkan masyarakat berisiko menurunkan rasa urgensi terhadap reformasi struktural. Padahal, tekanan kurs yang berulang menunjukkan adanya masalah mendasar pada fondasi ekonomi nasional.

Persoalan tersebut mencakup tingginya ketergantungan pada impor energi dan pangan, serta pasar keuangan domestik yang masih dangkal. Selain itu, disiplin fiskal pemerintah juga kerap diuji ketika tekanan ekonomi global mulai meningkat tajam.

Artikel terkait

Rekomendasi