Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan performa negatif pada penutupan perdagangan hari Selasa (26/5/2026). Mata uang Garuda merosot 0,29 persen atau setara 52 poin ke posisi Rp17.795,50 per dolar AS.
Kondisi ini terjadi meski indeks dolar AS sendiri terpantau sedang melemah tipis sekitar 0,17 persen menuju level 99,07. Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor ketegangan geopolitik global dan kondisi ekonomi domestik yang menantang.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, mencatat bahwa rupiah sempat tertekan hingga 55 poin selama sesi perdagangan intraday berlangsung. Ia memperkirakan tren pelemahan ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Untuk perdagangan hari Rabu (27/5/2026), pergerakan rupiah diprediksi tetap fluktuatif namun berisiko ditutup lebih rendah. Estimasi rentang pergerakan mata uang diprediksi akan berada di angka Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Sentimen Global: Konflik AS dan Iran
Salah satu pemicu utama kegelisahan pasar keuangan global adalah memanasnya kembali hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan akan tercapainya kesepakatan damai antar kedua negara tersebut kini mulai memudar di mata para pelaku pasar.
Laporan yang beredar menyebutkan bahwa pada Senin malam, Amerika Serikat meluncurkan serangan baru ke wilayah Iran Selatan. Target operasi militer tersebut menyasar lokasi peluncuran rudal serta kapal-kapal penebar ranjau milik Iran.
Langkah militer terbaru ini sangat disayangkan karena muncul tepat setelah sempat ada harapan mengenai tercapainya kesepakatan kerangka kerja. Sebelumnya, AS dan Iran dikabarkan mulai sepakat untuk mengakhiri perselisihan guna membuka kembali jalur perdagangan Selat Hormuz.
Ketidakpastian ini juga memberikan dampak langsung pada pasar komoditas dunia, terutama minyak bumi. Meskipun harga minyak sempat turun tajam pada hari Senin, kurangnya kejelasan informasi di lapangan membuat penurunan harga minyak mentah menjadi terbatas.
Kondisi Domestik dan Ancaman Krisis Ekonomi
Beralih ke dalam negeri, sentimen negatif muncul dari meningkatnya krisis kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas ekonomi nasional. Bayang-bayang krisis ekonomi yang mulai terlihat membuat masa depan nilai tukar rupiah semakin tidak menentu terhadap dolar AS.
Dampak nyata dari tekanan ekonomi ini sudah mulai dirasakan oleh sektor ketenagakerjaan di berbagai daerah. Ibrahim menyoroti terjadinya lonjakan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang cukup signifikan dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Banyak perusahaan kini terpaksa mengambil langkah efisiensi yang ketat demi menjaga keberlangsungan bisnis mereka. Bahkan, tidak sedikit pelaku usaha yang memilih untuk menghentikan operasional secara total karena beban biaya yang sudah tidak tertanggung.
Tekanan berat pada sektor industri ini tidak hanya bersumber dari pelemahan nilai tukar rupiah semata. Konflik geopolitik global turut memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri nonsubsidi yang secara otomatis menaikkan biaya produksi.
Daftar sektor industri yang saat ini paling terdampak oleh badai PHK di Indonesia :
- Sektor industri elektronik yang mengalami penurunan permintaan dan kenaikan biaya komponen impor.
- Sektor otomotif yang terpukul oleh melemahnya daya beli masyarakat serta hambatan distribusi global.
- Sektor padat karya seperti industri tekstil, garmen, dan alas kaki yang sulit bersaing di pasar ekspor.
Ibrahim memaparkan bahwa potensi kehilangan pekerjaan di sektor formal industri-industri tersebut sangat mengkhawatirkan. Ia memperkirakan akan ada sekitar 9.000 pekerja yang terancam PHK dalam tiga bulan ke depan.
Data dari Kementerian Ketenagakerjaan juga menunjukkan tren serupa, di mana sepanjang Januari hingga April 2026 tercatat 15.425 orang telah kehilangan pekerjaan. Ada indikasi kuat bahwa gelombang PHK besar-besaran ini masih akan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.
Dampak Luas terhadap Sektor Perbankan
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut ini tidak hanya memengaruhi sektor riil, tetapi juga mulai merambah ke industri keuangan. Para pengamat memperingatkan bahwa perbankan nasional kini dibayangi oleh berbagai risiko serius akibat depresiasi mata uang.
Beberapa risiko utama yang perlu diwaspadai mencakup masalah likuiditas perbankan serta potensi lonjakan angka kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL). Perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar kini harus menanggung beban pembayaran yang jauh lebih tinggi.
Ringkasan pergerakan nilai tukar rupiah dan faktor pengaruhnya selama periode Mei 2026 :
| Tanggal Perdagangan | Posisi Kurs Penutupan | Status Pergerakan | Sentimen Utama |
|---|---|---|---|
| 25 Mei 2026 | Rp17.744,00 | Melemah | Awal ketegangan AS-Iran |
| 26 Mei 2026 (Pagi) | Rp17.747,00 | Dibuka Melemah | Kekhawatiran gagal damai |
| 26 Mei 2026 (Sore) | Rp17.795,50 | Ditutup Melemah | Serangan AS dan isu PHK |
Tabel di atas menggambarkan bagaimana rupiah terus mengalami depresiasi dalam beberapa hari terakhir akibat akumulasi sentimen eksternal dan internal. Penurunan ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar dalam merespons berita-berita terbaru dari Timur Tengah.
Meskipun kondisi global sangat menentukan, langkah-langkah kebijakan dalam negeri diharapkan mampu meredam gejolak yang ada. Sektor-sektor strategis seperti pangan dan energi terus dipantau agar tidak ikut mengalami lonjakan harga yang ekstrem.
Sebagai contoh, meski dolar terus menguat, pemerintah memastikan bahwa harga beras subsidi atau SPHP akan dijaga agar tidak naik. Hal ini dilakukan demi melindungi daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang kian meningkat.
Pemerintah dan otoritas moneter kini dihadapkan pada tugas berat untuk menyeimbangkan antara stabilitas kurs dan pertumbuhan ekonomi nasional. Semua pihak kini mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang menjadi kunci pergerakan pasar ke depan.