Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Ditutup Melonjak ke Level Rp17.695 Hari Ini

Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Ditutup Melonjak ke Level Rp17.695 Hari Ini
Foto: Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Ditutup Melonjak ke Level Rp17.695 Hari Ini. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan tren negatif saat menutup perdagangan pada Selasa (19/5/2026). Mata uang Garuda terlihat masih sulit keluar dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah sebesar 0,31 persen ke angka Rp17.695 per dolar AS. Meskipun sedikit menjauh dari batas Rp17.700, level ini tetap menjadi rekor penutupan terendah sepanjang masa.

Pergerakan Rupiah di Pasar Spot

Gejala pelemahan rupiah sebenarnya sudah mulai terasa sejak awal perdagangan pagi hari. Rupiah dibuka dengan koreksi tipis sebesar 0,06 persen yang menempatkannya pada posisi Rp17.650 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang lokal ini sempat menguat sepanjang sesi perdagangan berlangsung. Bahkan, rupiah sempat menembus level psikologis baru di angka Rp17.730 per dolar AS dalam perdagangan harian.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi ukuran kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terpantau cukup stabil. Hingga pukul 15.00 WIB, indeks tersebut bertahan di level 99,172 terhadap enam mata uang utama dunia.

Respon Pemerintah Terhadap Pelemahan Rupiah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi situasi ini dengan menyatakan bahwa tekanan yang terjadi belum masuk kategori sangat parah. Pemerintah sejauh ini masih mengandalkan instrumen APBN untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara.

Rincian langkah intervensi yang dilakukan pemerintah saat ini:

  • Penyediaan dana sekitar Rp2 triliun per hari untuk menjaga sentimen pasar.
  • Fokus utama intervensi dilakukan melalui pengendalian harga di pasar surat berharga negara (SBN).
  • Penyerapan dana intervensi sejauh ini baru mencapai Rp600 miliar dari target harian.
  • Belum diaktifkannya skema Bond Stabilization Fund (BSF) yang melibatkan unit layanan di bawah Kemenkeu.

Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa pergerakan harga obligasi tetap terjaga di tengah fluktuasi nilai tukar. Pemerintah optimis kondisi pasar saat ini masih relatif terkendali meskipun rupiah sedang dalam tekanan.

Kondisi Pasar Surat Berharga Negara

Purbaya menjelaskan bahwa rendahnya penyerapan dana intervensi menunjukkan tekanan jual dari investor tidak terlalu masif. Dari target Rp2 triliun, pasar hanya menyerap Rp600 miliar yang mayoritas berasal dari aksi lepas aset oleh investor asing.

Berikut adalah ringkasan data intervensi pemerintah di pasar obligasi:

Indikator Stabilisasi Keterangan Data
Alokasi Dana Harian Rp2 Triliun
Realisasi Intervensi SBN Rp600 Miliar
Awal Periode Intervensi Kamis Pekan Lalu
Skema Cadangan Bond Stabilization Fund (BSF)

Data tersebut menggambarkan bahwa pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk melakukan stabilisasi. Penjualan SBN oleh asing yang relatif kecil membantu pemerintah dalam menjaga harga aset di pasar keuangan tetap stabil.

Pihak Kementerian Keuangan akan terus memantau dinamika pasar secara saksama setiap harinya. Skema yang lebih besar seperti BSF hanya akan diterjunkan jika tekanan pasar dianggap sudah jauh lebih berat dari kondisi saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi