Rupiah Hari Ini Selasa 26 Mei 2026 Melemah ke Rp17.747, Terendah dan Banyak Dicari

Rupiah Hari Ini Selasa 26 Mei 2026 Melemah ke Rp17.747, Terendah dan Banyak Dicari
Foto: Rupiah Hari Ini Selasa 26 Mei 2026 Melemah ke Rp17.747, Terendah dan Banyak Dicari. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, 26 Mei 2026. Mata uang Garuda tersebut melemah sebesar 0,02 persen atau turun tipis 3 poin ke posisi Rp17.747 per dolar AS.

Kondisi ini terjadi justru di saat indeks dolar AS (DXY) sedang mengalami koreksi atau penurunan sebesar 0,17 persen menuju level 99,07. Penurunan indeks dolar AS tersebut rupanya belum mampu memberikan tenaga bagi rupiah untuk bergerak di zona hijau.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, telah memberikan proyeksi terkait pergerakan mata uang domestik sepanjang hari ini. Ia memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah berpotensi ditutup melemah di kisaran harga Rp17.740 hingga Rp17.800 per dolar AS.

Sebagai informasi tambahan, pada penutupan perdagangan sebelumnya yakni Senin, 25 Mei, rupiah sudah tercatat melemah 0,15 persen. Koreksi sebanyak 27 poin tersebut membawa posisi rupiah berakhir di level Rp17.744 per dolar AS sebelum berlanjut hari ini.

Faktor Internal dan Risiko Defisit Fiskal

Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tekanan yang menimpa rupiah saat ini berasal dari kombinasi sentimen eksternal maupun internal. Dari sisi domestik, para pelaku pasar keuangan tengah merasa cemas terhadap risiko defisit fiskal negara yang diprediksi membengkak.

Meskipun saat ini harga minyak dunia mulai melandai dan ketegangan diplomatik antara AS dan Iran tampak mereda, hal tersebut belum cukup kuat. Sentimen positif dari meredanya konflik Timur Tengah tersebut nyatanya gagal mengangkat posisi rupiah terhadap dolar AS.

Lebih lanjut, pelaku pasar juga sedang menyoroti wacana regulasi baru terkait kebijakan ekspor yang menggunakan sistem satu pintu. Kebijakan ini dianggap menciptakan ketidakpastian baru bagi iklim usaha dan aktivitas ekonomi di tingkat nasional.

Ibrahim menilai bahwa ketidakpastian regulasi ini berisiko membuat lembaga pemeringkat internasional menurunkan rating utang pemerintah Indonesia. Dampaknya, minat investor asing untuk menempatkan dana di pasar domestik bisa semakin berkurang ke depannya.

Penyebab utama pelemahan rupiah menurut pandangan analis:

  • Kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal dalam struktur APBN pemerintah.
  • Ketidakpastian regulasi ekspor satu pintu yang dinilai kurang mendukung mekanisme pasar.
  • Potensi penurunan rating utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat kredit internasional.
  • Rencana kebijakan ekonomi domestik yang dianggap kurang pro terhadap dinamika pasar keuangan global.

Beberapa kebijakan yang dinilai kurang bersahabat dengan pasar menjadi alasan kuat mengapa rupiah diprediksi terus mengalami tekanan. Ibrahim menekankan bahwa fundamental ekonomi dalam negeri saat ini sedang diuji oleh berbagai persepsi negatif pelaku pasar.

Dinamika Global dan Ketegangan AS-Iran

Beralih ke faktor luar negeri, pasar global sebenarnya mulai melihat adanya tanda-tanda positif mengenai kesepakatan damai antara AS dan Iran. Namun, Ibrahim tetap bersikap skeptis dan melihat adanya kemungkinan besar bahwa pembicaraan damai tersebut akan menemui jalan buntu.

Poin-poin pembicaraan antara kedua negara menyangkut isu yang sangat sensitif bagi kedaulatan dan keamanan internasional masing-masing pihak. Salah satu topik paling krusial adalah mengenai pengembangan uranium yang selama ini menjadi pusat perselisihan panjang.

Selain itu, terdapat masalah tuntutan pengembalian dana Iran yang telah dibekukan sejak tahun 1970-an oleh otoritas Amerika Serikat. Ibrahim secara tegas beranggapan bahwa upaya perdamaian ini kemungkinan besar akan berakhir dengan kegagalan total bagi kedua negara.

Kondisi geopolitik yang tidak menentu ini membuat investor tetap waspada meskipun sempat ada harapan atas meredanya konflik. Kegagalan negosiasi di masa depan bisa memicu kembali volatilitas di pasar komoditas, terutama pada harga minyak mentah dunia.

Proyeksi Trading Economics dan Kinerja Mata Panjang

Lembaga riset ekonomi, Trading Economics, juga mengeluarkan laporan perkiraan yang menunjukkan tren depresiasi rupiah akan berlanjut. Mereka memperkirakan mata uang Indonesia akan mencatatkan tren pelemahan mingguan untuk yang kedelapan kalinya sepanjang tahun ini.

Harapan pasar terhadap damainya hubungan AS-Iran sebenarnya sempat meredam kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar. Kondisi ini secara teori mengurangi ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan menaikkan suku bunga lebih jauh.

Faktor global yang membebani posisi rupiah menurut laporan terbaru:

  • Masih tingginya imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat yang menarik aliran modal keluar dari negara berkembang.
  • Harga minyak mentah dunia yang tetap bertengger di level tinggi meski sudah berada di bawah US$100 per barel.
  • Aksi jual investor asing (outflow) di pasar keuangan dalam negeri yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.
  • Status dolar AS sebagai aset aman (safe-haven) yang tetap diminati di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Data ekonomi domestik juga menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih sangat nyata akibat kondisi neraca perdagangan. Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal pertama 2026 tercatat melebar ke titik terdalam dalam kurun waktu enam tahun terakhir.

Dampak Kebijakan Eksportir terhadap Nilai Tukar

Di sisi lain, pasar tampak bersikap skeptis terhadap pernyataan optimistis yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Menkeu sebelumnya menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah memiliki potensi untuk menguat tajam hingga kembali ke level Rp15.000.

Keyakinan tersebut didasarkan pada aturan baru yang mewajibkan para eksportir sumber daya alam untuk menyimpan devisa hasil ekspor di bank lokal. Aturan ini mengharuskan dana tersebut mengendap di sistem perbankan dalam negeri setidaknya selama periode 12 bulan.

Namun, data pasar menunjukkan bahwa sebagian besar investor justru mengabaikan pernyataan optimis dari pihak pemerintah tersebut. Fokus pelaku pasar tetap tertuju pada data makroekonomi yang menunjukkan penurunan kinerja rupiah yang cukup signifikan sejak awal tahun.

Ringkasan perbandingan kinerja dan target nilai tukar rupiah:

Indikator Ekonomi Data / Target
Nilai Tukar Saat Ini (26 Mei 2026) Rp17.747 per Dolar AS
Target Optimis Pemerintah Rp15.000 per Dolar AS
Akumulasi Pelemahan Sepanjang 2026 Sekitar 6,1 Persen
Status Kinerja di Asia Salah satu yang terburuk bersama Rupee India

Tabel di atas menggambarkan kesenjangan yang cukup jauh antara target pemerintah dengan realitas pasar yang terjadi saat ini. Hingga kini, rupiah telah merosot sekitar 6,1 persen terhadap dolar AS sejak awal kalender tahun 2026 dimulai.

Penurunan kinerja ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan performa terburuk di kawasan Asia. Posisi rupiah bersaing ketat dengan mata uang rupee India yang juga mengalami tekanan hebat akibat dinamika ekonomi global yang serupa.

Dengan kondisi defisit yang melebar dan ketidakpastian geopolitik, langkah intervensi dari Bank Indonesia menjadi hal yang sangat dinantikan. Para pelaku usaha juga terus memantau pergerakan kurs ini guna menyesuaikan biaya operasional dan harga jual produk di pasar.

Artikel terkait

Rekomendasi