Rupiah Diprediksi Masih Sulit Tekuk Dolar AS ke Bawah Rp17.000, Ini Pemicunya

Rupiah Diprediksi Masih Sulit Tekuk Dolar AS ke Bawah Rp17.000, Ini Pemicunya
Foto: Ilustrasi Rupiah Diprediksi Masih Sulit Tekuk Dolar AS ke Bawah Rp17.000, Ini Pemicunya.
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini berada di bawah tekanan besar. Berdasarkan data terbaru pada pertengahan Mei 2026, nilai mata uang Garuda ini sempat menyentuh level tertinggi di kisaran Rp 17.600 dan ditutup pada angka Rp 17.596 per dolar AS.

Kondisi ini menunjukkan pelemahan rupiah yang semakin menjauh dari target asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah sebelumnya telah menetapkan batas tertinggi nilai tukar dalam APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, mengutarakan pandangannya bahwa dolar AS akan sangat sulit untuk kembali turun di bawah angka Rp 17.000. Menurutnya, posisi nilai tukar di kisaran Rp 17.000 saat ini sudah menjadi level keseimbangan baru bagi perekonomian nasional.

Tauhid menyebutkan bahwa untuk menurunkan nilai tukar sebesar Rp 500 saja membutuhkan usaha yang berat. Hal ini berkaca dari pengalaman Bank Indonesia (BI) dalam melakukan berbagai upaya stabilisasi melalui operasi moneter selama ini.

Meskipun berat, ia menilai penguatan rupiah masih mungkin terjadi di kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.200 per dolar AS. Hal tersebut dapat tercapai asalkan tujuh langkah strategis yang dijalankan oleh bank sentral mampu bekerja secara efektif di pasar.

Tauhid menyarankan agar pemerintah mulai mempertimbangkan perubahan asumsi makro dalam APBN 2026 karena kondisi riil sudah melampaui target. Ia menegaskan bahwa selisih antara realitas Rp 17.500 dengan target Rp 16.500 sudah terlampau jauh bagi kerangka anggaran negara.

Jika perubahan APBN tidak segera dilakukan, Tauhid meminta pemerintah untuk tetap transparan dalam menyampaikan kerangka fiskal. Penjelasan yang jelas mengenai arah kebijakan hingga akhir tahun dianggap krusial untuk menjaga kepercayaan para investor dan pelaku bisnis.

Senada dengan Tauhid, Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, juga pesimis rupiah dapat kembali ke target awal pemerintah. Ia menyoroti faktor eksternal, terutama ketidakpastian geopolitik global yang menjadi penyebab utama rontoknya nilai tukar rupiah saat ini.

Salah satu pemicu utamanya adalah kenaikan harga minyak mentah dunia yang terjadi akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran telah memperburuk jalur distribusi energi global tersebut.

Lukman berpendapat bahwa penguatan rupiah yang signifikan hanya bisa terjadi jika ketegangan antara Iran dan AS mereda. Selain itu, pembukaan kembali akses Selat Hormuz menjadi syarat mutlak agar harga minyak dunia bisa kembali stabil ke level normal.

Dari sisi internal, terdapat beberapa faktor negatif yang membuat investor cenderung menarik modal mereka dari Indonesia untuk mencari tempat yang lebih aman. Kekhawatiran muncul akibat pengelolaan APBN yang dinilai terlalu ekstrem dengan proyeksi defisit mendekati angka 3%.

Krisis kepercayaan juga meluas ke pasar modal Indonesia yang sedang dilanda berbagai polemik internal belakangan ini. Hal ini memicu aksi jual oleh investor asing yang kemudian berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar rupiah yang semakin dalam.

Untuk mengatasi situasi ini, Lukman memberikan beberapa saran tindakan tegas yang bisa diambil oleh pihak otoritas terkait dalam waktu dekat:

Rekomendasi kebijakan jangka pendek untuk stabilitas ekonomi :

  • Pemerintah perlu melakukan efisiensi dengan memangkas pos anggaran yang bersifat non-esensial atau kurang mendesak.
  • Bank Indonesia disarankan untuk segera menaikkan suku bunga acuan guna menahan laju keluarnya modal asing dari pasar domestik.

Langkah-langkah di atas diharapkan mampu meredam volatilitas pasar dan memberikan sinyal positif bagi para pelaku pasar keuangan.

Strategi Pemerintah dan Sektor Moneter

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menekankan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal. Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi dan pernyataan pejabat publik, sehingga konsistensi komunikasi sangat diperlukan untuk memulihkan kepercayaan investor.

Ronny juga menambahkan bahwa pemerintah harus fokus pada penguatan sektor ekspor demi menambah cadangan devisa hasil ekspor (DHE). Peningkatan suplai dolar AS di dalam negeri melalui kebijakan DHE yang optimal akan membantu menyeimbangkan posisi nilai tukar rupiah.

Dalam rencana jangka panjang, percepatan program hilirisasi dan substitusi impor menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Strategi ini bertujuan untuk menekan ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku luar negeri yang seringkali menguras stok dolar.

Yusuf Rendy Manilet, Ekonom dari CORE Indonesia, menambahkan bahwa peran BI dalam menjaga pasar valas tetap aktif sangat krusial dalam jangka pendek. Intervensi pasar diperlukan agar pelemahan rupiah tidak memicu kepanikan massal di masyarakat maupun pelaku usaha.

Namun, Yusuf mengingatkan bahwa intervensi saja tidak akan cukup tanpa adanya kekompakan di antara anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK). Pemerintah, BI, dan otoritas jasa keuangan harus memiliki satu suara dan visi yang sama dalam setiap pengambilan kebijakan.

Ketidaksinkronan komunikasi antarlembaga seringkali justru menjadi celah yang membuat tekanan terhadap rupiah semakin meningkat. Oleh karena itu, konsistensi kebijakan menjadi kunci utama agar investor memiliki gambaran yang jelas mengenai masa depan investasi di Indonesia.

Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi tantangan struktural bagi ekonomi Indonesia menurut analisis para ahli :

Faktor penyebab kerentanan ekonomi nasional terhadap gejolak global :

  • Tingginya ketergantungan sektor industri terhadap impor bahan baku dan bahan penolong dari luar negeri.
  • Besarnya kebutuhan impor energi yang membuat anggaran negara sangat sensitif terhadap kenaikan harga minyak dunia.
  • Struktur pasar keuangan yang masih sangat didominasi oleh aliran modal asing yang bersifat jangka pendek atau mudah berpindah.

Masalah-masalah struktural ini menyebabkan rupiah selalu menjadi korban utama setiap kali terjadi guncangan ekonomi di tingkat global.

Sebagai solusi jangka panjang, Yusuf mendesak pemerintah untuk serius memperkuat basis industri di dalam negeri. Sektor-sektor vital seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri manufaktur harus segera dikembangkan secara mandiri agar tidak terus-menerus bergantung pada impor.

Terakhir, kepastian hukum dan stabilitas kebijakan adalah aspek yang paling dinanti oleh para pelaku pasar global. Bagi investor, kebijakan yang ketat masih bisa diterima selama aturan tersebut jelas, transparan, dan tidak berubah secara mendadak di tengah jalan.

Berikut adalah ringkasan asumsi nilai tukar dalam APBN dibandingkan dengan kondisi pasar terkini untuk mempermudah perbandingan:

Kategori Data Keterangan Nilai
Target Nilai Tukar APBN 2026 Rp 16.500 per Dolar AS
Nilai Tukar Riil (Mei 2026) Rp 17.596 per Dolar AS
Estimasi Keseimbangan Baru Di atas Rp 17.000 per Dolar AS

Data di atas menunjukkan adanya selisih yang cukup lebar antara rencana pemerintah dengan kenyataan yang terjadi di pasar keuangan saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi