Pelemahan nilai tukar rupiah yang berhasil menembus angka Rp 18.000 per dollar AS mulai memunculkan kekhawatiran atas kenaikan harga kebutuhan sehari-hari masyarakat. Pada Kamis, 4 Juni 2026, kurs rupiah mencapai angka Rp 18.044 per dollar AS sebelum bergerak mendekati Rp 18.038 per dollar AS. Kondisi ini menandai posisi terlemah sepanjang sejarah rupiah, menjadikannya salah satu mata uang yang mengalami pelemahan terparah di kawasan Asia.
Dampak dari pelemahan ini terasa tidak hanya di pasar keuangan. Potensi kenaikan harga barang-barang seperti energi, pangan, pakan ternak, serta berbagai barang konsumsi lainnya bisa terjadi. Menurut kajian dari Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), depresiasi rupiah tersebut meningkatkan biaya impor komoditas strategis yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Energi Menjadi Sektor Paling Rentan
INDEF mencatat bahwa impor Indonesia didominasi oleh komoditas energi. Pada tahun 2025, produk minyak olahan adalah komoditas impor terbesar dengan nilai sekitar 13 miliar dollar AS, sementara minyak mentah mencapai 9,3 miliar dollar AS. Dengan perdagangan energi global yang menggunakan dollar AS, pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya impor energi.
Kenaikan biaya ini berpotensi mempengaruhi sektor transportasi, distribusi barang, hingga biaya produksi industri yang menggunakan bahan bakar dalam operasionalnya. "Karena sebagian besar perdagangan global menggunakan dollar AS, kenaikan dollar membuat komoditas impor strategis menjadi lebih mahal dalam rupiah," tulis INDEF dalam laporannya.
Data inflasi dari Mei 2026 mengungkapkan bahwa sejumlah komoditas yang terkait dengan energi seperti bensin, solar, tarif angkutan udara, dan pelumas, mengalami peningkatan harga. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah dapat menyebabkan efek inflasi pada berbagai barang dan jasa.
Harga Pangan Juga Berisiko Naik
Selain energi, sektor pangan juga menghadapi tekanan akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Indonesia masih mengandalkan impor untuk beberapa komoditas strategis dari Amerika Serikat, termasuk kedelai, gandum, LPG, distilling dregs, dan meat/offal meal. Kedelai, misalnya, merupakan bahan utama untuk produksi tahu dan tempe, sementara gandum digunakan dalam pembuatan mi instan, roti, dan biskuit.
Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan-bahan tersebut meningkat, sehingga biaya produksi di sepanjang rantai pasok pangan bisa terdongkrak. Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan pergerakan harga kedelai impor dari Mei hingga awal Juni 2026 sekitar Rp 13.500 hingga Rp 13.700 per kilogram. Sedangkan, harga tepung terigu berada di kisaran Rp 12.400 hingga Rp 12.550 per kilogram.