Korporasi Perlu Perkuat Tata Kelola Antisipasi Risiko Sistem AI
Lonjakan adopsi teknologi saat ini dinilai tidak sepenuhnya didukung oleh pengawasan yang memadai. Hal ini menyoroti risiko dalam pengendalian sistem kecerdasan buatan (AI) yang berkembang di dunia korporasi.
Zentara Labs baru saja merilis laporan yang membuka mata mengenai meningkatnya ancaman keamanan siber dalam tata kelola AI otonom. Laporan ini menggarisbawahi pentingnya kesiapan pengawasan di tengah maraknya adopsi teknologi baru di Indonesia.
Co-Founder dan CEO Zentara, Regal Rauniyar Star, menjelaskan kondisi ini menciptakan kesenjangan yang nyata. Ia menekankan bahwa saat ini terdapat perbedaan antara cara sistem AI bekerja dengan kemampuan perusahaan dalam memantau risikonya.
Baca Juga: AI Bisa Memperpanjang Masa Pakai Baterai Kendaraan Listrik
Laporan yang diberi judul 'SAFE-AGENT: An Agentic AI Security Framework for the Enterprise and Public Sector' memusatkan perhatian pada pemanfaatan AI untuk efisiensi dan otomatisasi bisnis. Namun, banyak organisasi yang belum siap dari sisi perlindungan dan tata kelola untuk menghadapi risiko-risiko baru ini.
Pada laporan tersebut juga diungkapkan, AI kini beroperasi dengan kemandirian yang melebihi pendekatan keamanan tradisional. Ini menciptakan tantangan pengawasan dan kontrol baru bagi perusahaan berbasis teknologi.
President Zentara, Darian Kuswanto, berpendapat bahwa perusahaan perlu menggeser perhatian mereka. Fokus tidak hanya pada keahlian teknologi, tetapi juga pada pengelolaan AI yang menyeluruh.
Menurutnya, membangun pemahaman mengenai tata kelola AI dari awal sangat penting. Langkah ini tidak hanya membantu mengelola risiko, tetapi juga menjaga kepercayaan publik terhadap teknologi tersebut.
Halaman Selanjutnya:
- IMF Peringatkan AI Bisa Bobol Sistem Perbankan Dunia dalam Hitungan Detik!
- Gara-gara AI, Jumlah Miliarder Dunia Bakal Meledak 25%! Anda Termasuk?
Ikuti Saluran WhatsApp SINDOnews untuk mendapatkan berita terbaru setiap hari.
```